Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Bayang-Bayang Orang Ketiga

Matahari sore di kota Bandung memancarkan rona jingga keemasan yang menembus sela-sela jendela kaca perpustakaan pribadi milik keluarga Danendra. Udara dingin khas dataran tinggi lembang merayap pelan, membawa aroma tanah basah seusai hujan lebat yang mengguyur kawasan utara kota itu beberapa jam lalu. Di dalam ruangan berpanel kayu jati tua tersebut, keheningan terasa begitu pekat, hanya terisi oleh suara detak jam dinding antik berbandul kuningan yang berayun konstan di sudut ruangan: tik-tok, tik-tok, tik-tok.

Arsenio berdiri mematung di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah kebun teh belakang rumah. Jemarinya yang panjang menggenggam sebuah cangkir porselen berisi teh chamomile hangat yang kini telah mendingin. Tatapan matanya kosong, menerobos kaca jendela yang merefleksikan bayangan samar wajahnya sendiri. Di atas meja kerja marmer di tengah ruangan, terhampar sebuah album foto berukuran besar bersampul kulit hitam legam dengan sudut-sudut logam yang mulai berkarat.

Sudah tiga hari sejak malam menegangkan di lobi apartemen dan pertemuan emosional di kafe tua Senopati, di mana kebenaran tentang kepulangan Kirana dan keberadaan putri kecil mereka, Keisha, akhirnya terkuak. Namun, ketenangan yang seharusnya menjadi milik mereka kini diuji kembali oleh hantu-hantu masa lalu yang merangkak keluar dari kegelapan.

Pintu perpustakaan berderit pelan ketika terdorong dari luar. Kirana melangkah masuk dengan langkah ringan, membawa nampan kecil berisi sepiring kue kering dan satu cangkir kopi hitam. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun seulas senyum tipis yang menenangkan menghiasi bibirnya.

"Kau belum tidur, Ar? Ini sudah lewat tengah malam," suara Kirana terdengar lembut memecah kesunyian malam, membelai indra pendengaran Arsen seperti melodi yang akrab.

Arsen menoleh perlahan, meletakkan cangkirnya di atas kusen jendela, lalu menatap wanita yang telah mendampinginya kembali itu. "Aku tidak bisa memejamkan mata, Kir. Kepalaku penuh dengan suara-suara masa lalu yang terus berdengung, terutama setelah insiden surat tempo hari."

Kirana meletakkan nampannya di atas meja kerja, lalu berjalan mendekati Arsen. Ia merengkuh lengan suaminya, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu bidang pria itu. "Jangan biarkan bayangan masa lalu merusak apa yang sudah kita bangun kembali dengan susah payah, Ar. Kita sudah melewati badai yang paling mengerikan."

"Aku tahu, Kir. Tapi bayang-bayang itu tidak datang dari masa lalu yang abstrak. Ia datang dari seseorang yang nyata, seseorang yang pernah menjadi duri paling tajam dalam pernikahan kita," balas Arsen dengan suara berat, rahangnya mengeras saat kenangan pahit lima tahun lalu kembali berkelebat di benaknya.

Malam itu, di ruangan yang sama tempat rahasia-rahasia besar disembunyikan, sebuah babak baru dari bayang-bayang orang ketiga yang sempat menghancurkan rumah tangga mereka mulai terbuka lebar, mengancam kedamaian rapuh yang baru saja mereka raih.

❖ ❖ ❖

Bagi Arsenio, tujuan hidupnya saat ini sangatlah mutlak dan tidak bisa ditawar lagi: melindungi Kirana dan Keisha dari segala ancaman, baik dari ancaman luar seperti teror ayah mertuanya, maupun dari racun psikologis masa lalu yang bernama kecemburuan dan kesalahpahaman. Namun, untuk bisa melindungi keluarganya dengan sempurna, ia harus menuntaskan satu urusan yang selama bertahun-tahun sengaja ia kubur dalam-dalam—sebuah rahasia kelam tentang kemunculan orang ketiga yang menjadi katalisator hancurnya kepercayaan di antara mereka berdua sebelum tragedi kecelakaan itu terjadi.

Lima tahun lalu, sebelum Kirana dinyatakan tewas dalam kecelakaan maut di tol lingkar luar, pernikahan mereka sempat berada di ambang perceraian. Bukan karena kurangnya rasa cinta, melainkan karena kehadiran sosok masa lalu Kirana—Danu, mantan tunangan sekaligus rekan bisnis keluarga yang ambisius. Danu menggunakan berbagai cara licik, termasuk memalsukan foto-foto kedekatan dan menyebarkan desas-desus palsu, untuk membuat Arsen percaya bahwa Kirana berselingkuh di belakangnya. Di tengah puncak kemarahan dan kebutaan emosional akibat kesalahpahaman itu, Arsen sempat mengucapkan kata-kata perpisahan yang sangat menyakitkan sebelum Kirana pergi malam itu—malam di mana kecelakaan maut tersebut terjadi.

Kini, dengan kembalinya Kirana dan terkuaknya konspirasi besar sang ayah mertua, Arsen menyadari bahwa Danu bukanlah sekadar masa lalu yang lewat begitu saja. Danu adalah bagian dari konspirasi busuk Pramana untuk merebut hak asuh perusahaan keluarga dan memisahkan mereka selamanya.

"Kir, katakan yang sebenarnya padaku," ucap Arsen tegas, melepaskan pelukan ringan Kirana dan berbalik menatap langsung ke dalam mata istrinya. "Apakah lima tahun lalu, saat Danu terus mendekatimu di kantor pusat, ada hal lain yang disembunyikan dariku? Apakah surat-surat dan pesan singkat itu benar-benar murni rekayasa, ataukah ada bagian dari cerita yang belum ku ketahui?"

Kirana tertegun sejenak. Sorot matanya menunjukkan kilatan rasa sakit yang mendalam mendengar nama pria itu disebut kembali di ruangan ini. Ia menarik napas gemetar, lalu menatap suaminya dengan penuh kejujuran.

"Arsen... demi Tuhan dan demi keselamatan Keisha, aku tidak pernah mengkhianatimu sedetik pun dalam pernikahan kita," jawab Kirana dengan suara bergetar namun tegas. "Danu adalah masa lalu sebelum aku mengenalmu. Ketika dia kembali muncul di kantor dengan dalih kerja sama proyek properti, dia memanfaatkan pengaruh ayahku untuk menekanku. Dia mengancam akan menghancurkan kariermu jika aku menolak menemuinya."

"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku saat itu, Kir?!" sergah Arsen dengan nada suara yang sedikit meninggi, rasa frustrasi masa lalunya kembali tersulut ke permukaan. "Kenapa kau memilih menyimpan rahasia itu sendiri hingga membuatku gila karena cemburu dan amarah?!"

"Karena aku takut, Arsen!" bentak Kirana balik, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, menunjukkan emosi yang selama ini ia pendam rapat-rapat. "Kau begitu terobsesi dengan target perusahaan saat itu, selalu pulang larut malam dengan wajah lelah. Aku takut jika aku menceritakan teror Danu, kau akan mendatanginya, berkelahi, dan justru masuk ke dalam perangkap yang sudah mereka pasang bersama ayahku!"

Suasana di perpustakaan mendadak menegang. Napas keduanya memburu. Tujuan Arsen malam ini bukan lagi sekadar menginterogasi, melainkan mencari titik terang dari sebuah kesalahpahaman lama yang telah merenggut lima tahun usia pernikahan mereka.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang berat kembali menyergap ruangan berpanel kayu itu setelah bentakan emosional Kirana mereda. Pendar lampu meja marmer memantulkan bayangan dua manusia yang terluka oleh masa lalu, berdiri berhadapan dengan jarak hanya satu langkah, namun dipisahkan oleh dinding keraguan yang belum sepenuhnya runtuh.

Arsen memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap kata yang diucapkan istrinya. Ia menyadari kebenarannya. Lima tahun lalu, ia memang terlalu dibutakan oleh ambisi karier dan ego kejantanan sebagai seorang suami. Ketika rumor perselingkuhan itu berhembus kencang disertai bukti-bukti palsu berupa foto rekayasa di sebuah hotel bintang lima, Arsen tidak memberikan kesempatan pada Kirana untuk menjelaskan. Ia langsung menghakimi, meneriaki istrinya dengan kata-kata kasar, dan membiarkan Kirana pergi meninggalkan rumah dalam keadaan hancur lebur—malam sebelum tragedi kecelakaan di jalan tol terjadi.

Rasa bersalah yang teramat besar kembali menghujam dada Arsen, jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau mana pun.

"Maafkan aku, Kir..." bisik Arsen lirih, suaranya pecah di ujung kalimat. Ia melangkah maju, meraih kedua tangan Kirana yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat-erat. "Aku pria paling bodoh di dunia ini. Aku membiarkan rasa cemburu dan egoku sendiri merusak keluarga yang paling kucintai. Aku membenci Danu setengah mati, tapi kenyataannya... akulah yang hampir menghancurkan kita dengan tanganku sendiri."

Kirana menggelengkan kepalanya perlahan, air mata hangatnya menetes membasahi punggung tangan Arsen. Ia meremas jemari suaminya sebagai balasan. "Kita berdua sama-sama korban dari kelicikan ayahku dan ambisi busuk Danu, Ar. Jangan salahkan dirimu sepenuhnya untuk apa yang terjadi di malam itu."

Transisi dari kemarahan menuju rekonsiliasi batin ini membawa perubahan drastis pada atmosfer ruangan. Topeng pertahanan diri dan ego maskulin yang biasa dikenakan Arsen di dunia korporat runtuh tak bersisa di hadapan wanita yang sangat dicintainya. Di titik ini, mereka tidak lagi berbicara sebagai eksekutif perusahaan atau korban konspirasi, melainkan sebagai sepasang suami istri yang mencoba merajut kembali kepercayaan yang koyak.

Namun, di tengah kehangatan rapuh tersebut, sebuah suara ketukan pintu berderit pelan memecah konsentrasi mereka.

"Papa... Mama...?"

Suara kecil yang menggemaskan terdengar dari balik pintu perpustakaan yang terbuka sedikit. Keisha, dengan mengenakan piyama bergambar kelinci dan rambut acak-acakan karena baru bangun tidur, mengintip ke dalam ruangan sambil memeluk boneka kesayangannya.

Kirana segera menyeka air matanya, tersenyum lebar menyambut kedatangan putrinya. Ia berjongkok merentangkan tangan. "Keisha, sayang... kenapa belum tidur? Ini sudah malam sekali."

Anak perempuan itu berjalan mendekat, lalu memeluk leher ibunya erat-erat sebelum mendongak menatap Arsen. "Keisha terbangun karena mendengar suara Papa dan Mama agak keras tadi. Papa tidak sedang bertengkar dengan Mama, kan?" tanyanya polos dengan nada cemas.

Arsen merasakan dadanya menghangat seketika. Ia ikut berlutut di samping anak dan istrinya, merangkul pundak kecil Keisha dengan penuh kasih sayang. "Tidak, sayang. Papa dan Mama tidak bertengkar. Kami hanya sedang berbicara tentang betapa bahagianya kami karena Keisha sudah kembali bersama kami."

Keisha tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi kecilnya yang rapi, lalu mengecup pipi Arsen. "Keisha juga senang bisa kembali ke rumah ini. Tapi sekarang Keisha ngantuk..."

Transisi malam itu ditutup dengan kehangatan keluarga kecil yang akhirnya bersatu kembali. Arsen menggendong Keisha menuju kamar tidurnya di lantai atas, membacakan dongeng pengantar tidur hingga anak itu terlelap pulas dalam dekapan kedamaian. Namun, kedamaian itu ternyata tidak berlangsung lama, karena badai yang sebenarnya baru akan dimulai keesokan paginya.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, matahari pagi bersinar cerah menembus kaca jendela ruang makan keluarga Danendra. Aroma kopi segar dan roti panggang menguar di udara, menciptakan suasana domestik yang sangat diidam-idamkan Arsen selama bertahun-tahun. Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik ketika ponsel pintar di atas meja makan berdering nyaring berulang kali.

Arsen melirik layar ponselnya yang menampilkan nama Randi, sekretaris pribadinya di kantor pusat Jakarta. Dengan sedikit rasa enggan, ia mengangkat panggilan tersebut.

Lihat selengkapnya