Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Menghadang Badai Masa Lalu

Matahari sore di Kota Bandung meredupkan sinarnya, menyisakan bias jingga keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca besar di ruang kerja utama Galeri Seni Nusantara. Pukul tiga lewat empat puluh lima menit, suasana di dalam ruangan terasa begitu padat oleh ketegangan yang belum sepenuhnya mencair dari perdebatan sengit beberapa jam sebelumnya. Aroma kertas sketsa tua bercampur wangi khas cat minyak tercium lembut di udara, berpadu dengan deru kipas angin gantung kuno yang berputar pelan di langit-langit tinggi berbingkai kayu jati. Di luar sana, gerimis tipis kembali turun mengguyur jalanan aspal Braga, menciptakan pantulan cahaya lampu kota yang berpendar indah di balik kaca jendela yang basah.

"Kamu tidak harus memaksakan diri tinggal di sini kalau itu hanya akan membuka luka lama, Kirana," ujar Arkan dengan suara berat, memecah keheningan yang sejak tadi mendominasi ruangan tersebut. Ia berdiri di dekat jendela, kedua tangannya terlipat di depan dada, menatap lurus ke arah jalanan basah di bawah sana.

Kirana, yang duduk di kursi kayu berlapis bludru merah di dekat meja kurator, mendongak perlahan. Wajahnya menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang mendalam setelah berhari-hari dihantam badai kesalahpahaman masa lalu. "Ini bukan soal memaksakan diri, Arkan. Kalau aku terus lari dari tempat di mana kesalahpahaman ini bermula, aku tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang sepanjang sisa hidupku."

"Tapi harga yang harus kamu bayar terlalu mahal, Kir," balas Arkan, menoleh dan menatap tajam ke dalam manik mata perempuan itu. "Tahun-tahun yang hilang, rasa sakit yang kita pendam sendiri-sendiri... apa itu semua belum cukup?"

Suasana di dalam galeri mendadak terasa semakin sesak. Hanya terdengar suara ketukan tetesan air hujan di kaca dan detak jarum jam dinding antik di sudut ruangan yang berdetik konstan, seolah menghitung mundur detik-detik kehancuran hubungan yang baru saja hendak mereka perbaiki. Arkan melangkah mendekati meja kerja, menarik kursi di hadapan Kirana, lalu duduk dengan postur tegap namun sorot mata yang menyiratkan kerentanan luar biasa. Mereka terjebak dalam pusaran waktu yang mempertemukan kembali dua jiwa dengan luka yang belum sepenuhnya mengering.

"Aku tahu kita berdua sama-sama keras kepala di masa lalu," kata Kirana lirih, jemarinya meremas ujung kain selendangnya sendiri. "Tapi hari ini, aku tidak mau lagi ada salah paham yang dibiarkan tumbuh menjadi monster pemisah di antara kita."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arkan dan Kirana sore itu sangat jelas namun amat berat untuk diwujudkan: meluruskan benang kusut kesalahpahaman masa lalu yang selama lima tahun terakhir menjadi duri dalam daging bagi hubungan mereka. Bukan lagi tentang siapa yang benar atau siapa yang meninggalkan siapa lebih dulu, melainkan bagaimana menyatukan kembali kepingan-kepingan niat baik yang dulu sempat salah diartikan akibat ego dan komunikasi yang buruk. Arkan ingin membuktikan bahwa keputusannya menjauh bukan karena ia menyerah, melainkan karena ia mengira itu adalah cara terbaik untuk menyelamatkan masa depan Kirana.

"Niatku dulu sederhana, Arkan," ucap Kirana dengan suara bergetar, mencoba menatap lurus ke mata lelaki di hadapannya tanpa goyah. "Aku ingin kamu fokus menyelesaikan pameran tunggal pertamamu di Paris tanpa harus terbebani oleh masalah keluargaku yang sedang bangkrut. Tapi kamu justru mengira aku meninggalkanku karena aku menemukan pria lain di sana."

Arkan menarik napas panjang, rahangnya mengeras sejenak sebelum ia menggeleng pelan. "Bagaimana bisa aku tidak berpikir begitu, Kir? Kamu menghilang tanpa kabar selama seminggu penuh sebelum keberangkatanmu, lalu tiba-tiba surat pengunduran diri dan kunci apartemenmu ada di atas meja kerjaku. Tidak ada penjelasan, tidak ada tatapan mata perpisahan."

"Karena aku takut, Arkan!" seru Kirana, suaranya sedikit meninggi memecah kesunyian galeri. "Aku takut kalau aku melihat wajahmu saat itu, aku tidak akan pernah punya keberanian untuk pergi demi menyelamatkan keluargaku dari jeratan hutang rentenir. Aku memilih menjadi pengecut dengan cara pergi diam-diam."

Tujuan mereka sore ini adalah meruntuhkan tembok pertahanan diri tersebut. Arkan ingin mendengar pengakuan jujur itu bukan untuk menghakimi, melainkan untuk melepaskan beban batin yang selama ini menghambat langkah kakinya dalam berkarya maupun mencintai. Begitu pula dengan Kirana; ia datang ke galeri itu bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menuntut keadilan bagi hatinya sendiri—keadilan untuk membersihkan namanya dari tuduhan pengkhianatan yang selama bertahun-tahun menempel seperti noda hitam di benak Arkan.

"Kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi lima tahun lalu, Kir," ucap Arkan dengan nada suara yang perlahan melembut, menyadari getaran di bibir perempuan di depannya. "Tapi kita bisa memutuskan bagaimana cara kita menyelesaikan babak ini hari ini juga. Aku ingin kita meluruskan niat yang sempat salah paham itu."

❖ ❖ ❖

Perlahan-lahan, ketegangan emosional yang tadinya membakar ruangan berubah wujud menjadi keheningan yang sarat akan perenungan. Transisi dari perdebatan penuh tuduhan menuju dialog yang konstruktif terjadi tatkala Arkan mengulurkan tangannya di atas meja, membuka telapak tangannya lebar-lebar ke arah Kirana, seolah menawarkan sebuah gencatan senjata yang tulus. Gerakan itu begitu sederhana, namun memiliki kekuatan magis untuk meredakan badai yang sejak tadi mengamuk di dada keduanya.

Kirana menatap uluran tangan tersebut selama beberapa detik, napasnya naik turun tidak teratur sebelum akhirnya ia mengangkat tangannya sendiri dan meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Arkan. Sentuhan kulit itu langsung mengirimkan sengatan hangat yang menembus hingga ke tulang, menghapus jarak lima tahun kepedihan dalam satu detik yang sunyi. Transisi batin itu menandai titik balik di mana mereka berhenti melihat satu sama lain sebagai musuh atau sumber luka, melainkan sebagai dua orang korban dari keadaan yang sama-sama tidak berdaya di masa lalu.

"Aku lelah membenci bayanganmu, Arkan," bisik Kirana, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya yang mulus.

Arkan merapatkan genggaman tangannya, membungkus jemari Kirana dengan kehangatan yang selama ini dirindukannya setengah mati. "Aku juga lelah marah pada dunia, Kir. Setiap kali aku melukis, yang kutemukan di atas kanvas selalu saja bayangan matamu saat terakhir kali kita bertengkar di stasiun itu."

Suasana di dalam ruangan galeri terasa semakin intim. Cahaya senja yang mulai temaram memperlembut bayangan di dinding-dinding galeri yang dipenuhi karya seni abstrak. Transisi ini tidak hanya mengubah gestur fisik mereka, tetapi juga frekuensi batin mereka; gelombang amarah dan kekecewaan kini bermutasi menjadi ketulusan untuk saling mendengarkan tanpa interupsi, tanpa prasangka buruk, dan tanpa ego yang mendominasi.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya