Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Rindu yang Menggunung

Malam merayap lambat di atas kota pelabuhan Surabaya, membawa serta angin laut yang basah dan menderu pelan di balik dinding kaca lantai sepuluh gedung perkantoran logistik PT Samudra Nusantara. Di dalam ruang kerja yang luas namun terasa senyap itu, Aris duduk seorang diri di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati solid. Lampu meja berwarna keemasan menyinari tumpukan dokumen manifest pengiriman barang dan grafik statistik kuartal akhir, namun pikiran pria itu sama sekali tidak berada pada angka-angka atau grafik keuntungan perusahaan. Matanya menerawang jauh ke luar jendela, menatap pendar lampu dermaga yang berkelap-kelip menyerupai kunang-kunang di tengah pekatnya selat. Di luar sana, ribuan kilometer rel besi membentang, menghubungkan kota demi kota, memisahkan masa lalu dan masa kini dalam garis linier yang tak pernah bisa diputar balik.

"Sudah malam, Pak Aris. Laporan logistik untuk pengiriman jalur utara sudah saya letakkan di sebelah kiri meja Anda," ucap Rini, sekretaris pribadinya, yang berdiri di ambang pintu dengan membawa cangkir berisi kopi hitam panas.

Aris mengalihkan pandangannya perlahan, mendesah pelan seraya merapikan letak kacamatanya. "Terima kasih, Rini. Kamu bisa pulang duluan malam ini. Sepertinya aku masih ingin menyelesaikan beberapa evaluasi kontrak pelayaran."

"Baiklah, Pak. Jangan terlalu malam. Kesehatan Anda juga penting," balas Rini sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar, meninggalkan Aris kembali sendiri dalam kubangan keheningan malam.

Keheningan itu justru menjadi ruang paling jujur bagi Aris untuk menghadapi musuh yang paling sulit ia taklukkan selama bertahun-tahun merantau: rindu. Meskipun ia telah menjelma menjadi pengusaha sukses, meskipun sertifikat tanah pusaka keluarganya telah kembali dan luka di stasiun itu telah mengering, ada satu hal yang tidak pernah bisa dihapus oleh waktu maupun pencapaian material—sebuah ruang hampa di dalam rongga dadanya yang terus-menerus memanggil nama Maya dalam kebisuan yang menyiksa.

❖ ❖ ❖

Tujuan hidup Aris sejak kepulangannya dari Yogyakarta beberapa waktu lalu sebenarnya telah bergeser dari sekadar pembuktian diri menjadi pencarian ketenangan batin yang utuh. Namun, malam ini, pertahanan mental yang ia bangun dengan susah payah mendadak goyah oleh gelombang kerinduan yang menggunung. Di dalam laci terdalam meja kerjanya, tersimpan sebuah amplop coklat tertutup rapat—amplop misterius dari Yogyakarta yang beberapa minggu lalu ia perintahkan untuk disimpan tanpa pernah ia sentuh isinya.

Aris menarik laci tersebut, menatap amplop tebal itu dengan tatapan nanar. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada rasa penasaran yang mendadak membakar dadanya, sebuah dorongan kuat untuk merobek segel kertas coklat itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh masa lalu yang berusaha ia kubur.

"Untuk apa aku menyimpannya di sini jika pada akhirnya ia terus menghantuiku setiap kali malam larut?" gumam Aris lirih, jemarinya terulur menyentuh permukaan kertas amplop yang terasa dingin.

Tujuan utamanya malam ini bukan lagi tentang urusan bisnis atau target finansial kuartal depan, melainkan menyelesaikan pergulatan batin yang belum tuntas. Ia ingin mengukur seberapa besar sebenarnya beban rindu yang telah ia pendam, dan apakah rindu itu masih layak untuk dipelihara atau harus dibakar habis bersama abu kenangan lama. Dengan tarikan napas yang berat, Aris mengangkat amplop tersebut, bersiap untuk merobek bagian ujungnya demi melihat rahasia apa yang selama ini bersembunyi di balik cap pos kota kelahirannya.

❖ ❖ ❖

Transisi dari keraguan sesaat menuju tindakan nyata itu berlangsung di tengah deru angin laut yang menembus celah ventilasi gedung. Begitu ibu jari Aris merobek kertas amplop coklat tersebut, sebuah lembaran surat bergaris dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal tersembul keluar. Kertas itu tampak agak kekuningan di bagian tepinya, menyebarkan aroma kertas tua yang membangkitkan seketika memori malam perpisahan di Stasiun Lempuyangan bertahun-tahun silam.

"Aris... jika kamu membaca surat ini, itu artinya takdir kita memang berjalan di atas rel yang berbeda. Tapi ketahuilah, sejauh apapun kaki melangkah dan sehebat apapun waktu memisahkan kita, rindu ini tidak pernah benar-benar mati..."

Lihat selengkapnya