Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Air Mata Kelegaan

Pukul empat lewat empat puluh lima menit pagi. Langit di luar jendela kamar tidur Aruna masih diselimuti warna kelabu pekat, menyisakan sisa-sisa malam yang basah oleh embun tipis dan hembusan angin dingin dari celah-celah ventilasi rumah. Di atas ranjang besar berseprai putih bersih yang kini tampak kusut, Aruna terbangun dari tidurnya yang gelisah dengan napas memburu dan dada bergemuruh hebat. Keringat dingin merembes di pelipisnya, mendingin diterpa udara fajar yang menusuk kulit. Ia tidak langsung bangkit. Matanya menatap nanar ke arah lemari pakaian kayu jati di sudut ruangan, tempat siluet mantel dan jaket suaminya tergantung kaku dalam temaram lampu tidur bercahaya kuning lembut.

"Bas...?" bisik Aruna lirih, suaranya parau, pecah di tengah keheningan kamar yang terasa sangat luas sekaligus sesak oleh bayang-bayang masa lalu.

Rumah itu telah lama menjadi saksi bisu dari penantian panjang yang melelahkan. Selama dua tahun terakhir, setiap detik di tempat ini diukur bukan dengan detak jarum jam dinding, melainkan dengan ketukan rindu dan kecemasan yang membeku di dalam dada. Di atas meja nakas kecil di sebelah tempat tidur, secangkir teh chamomile hangat yang diseduh sejak malam tadi telah berubah dingin, permukaannya tenang dan datar, memantulkan pendar cahaya lampu tidur yang meredup. Suara ketukan paruh burung pipit di dahan pohon mangga tua di pekarangan luar mulai terdengar samar, menandakan fajar baru sedang bersiap menyingsing di ufuk timur.

Aruna merapatkan selimut wol tebal ke tubuhnya yang masih menggigil. Sensasi mimpi buruk tentang badai, longsor, dan suara helikopter penyelamat yang bergemuruh di lembah terpencil masih berputar kuat di dalam kepalanya, meninggalkan rasa nyeri yang nyata di ulu hatinya. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup liar, menarik napas dalam-dalam lewat hidung dan menghembuskannya perlahan lewat mulut.

"Semalam itu hanya mimpi... atau kenyataan?" tanyanya pada diri sendiri, jemarinya meraba permukaan seprai di sisi ranjang yang kini telah kosong—sisi tempat Baskara biasa tidur sebelum penugasan panjang merenggutnya pergi ke pos perbatasan timur.

Di luar jendela, suara azan subuh mulai berkumandang sayup-sayup dari musala kompleks perumahan, membawa kedamaian semu yang menyusup ke dalam rongga dada Aruna. Ia tahu, ia tidak bisa terus-menerus hidup di dalam ketakutan dan bayang-bayang mimpi buruk. Namun, luka emosional akibat dua tahun kesepian dan kecemasan yang bertumpuk membuat jiwanya terasa sangat rapuh, seperti kaca tipis yang siap retak oleh embusan angin paling lemah sekalipun.

"Bangunlah, Aruna. Hari ini harus berbeda," gumamnya pelan pada bayangannya sendiri di cermin lemari pakaian yang memantulkan sosok wanita berwajah pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.

❖ ❖ ❖

"Hari ini, aku tidak boleh menyerah pada ketakutan," ucap Aruna dengan suara yang sedikit lebih tegas, meski rongga tenggorokannya masih terasa tercekat dan kering.

Ia memaksa kakinya yang terasa berat untuk turun dari ranjang. Lantai keramik yang dingin menyentuh telapak kakinya, mengirimkan sensasi ngilu yang sudah teramat akrab. Tujuan utamanya pagi ini jelas dan tidak bisa ditawar lagi: ia harus mengakhiri siklus isolasi mental yang telah mengurungnya selama berbulan-bulan, melangkah keluar rumah dengan kepala tegak, dan membuka diri sepenuhnya terhadap apa pun kenyataan yang menanti di luar sana—baik itu kabar baik tentang kepulangan Baskara yang dijanjikan lewat sambungan telepon singkat kemarin, maupun kenyataan pahit jika takdir berkata lain.

Selama ini, Aruna menetapkan batasan-batasan ketat pada dunianya. Ia bersembunyi di balik dinding rumah, mengunci pintu rapat-rapat, dan menganggap bahwa dengan tidak tahu apa-apa, ia bisa melindungi hatinya dari rasa sakit. Namun, setelah pelukan hangat dan janji kepulangan yang diucapkan Baskara di ambang pintu rumah mereka kemarin sore, segalanya telah berubah. Ketakutan itu telah bertransformasi menjadi sebuah tekad baja yang membara di dalam dadanya.

"Aku akan menyiapkan segalanya untukmu, Bas," kata Aruna sambil melangkah menuju dapur kecil di lantai bawah.

Tujuan praktisnya pagi ini adalah merapikan seluruh isi rumah, menyiapkan sarapan kesukaan suaminya—bubur ayam hangat dengan irisan seledri dan kuah kaldu gurih—serta menyeduh secangkir kopi hitam pekat yang selalu diminta Baskara setiap kali ia baru saja pulang dari perjalanan dinas panjang. Aruna ingin memastikan bahwa ketika Baskara melangkah masuk lewat pintu depan nanti, rumah ini tidak lagi menyambutnya dengan debu kesunyian dan aroma teh dingin, melainkan dengan kehangatan hidup yang menyala-nyala.

Ia menyalakan kompor gas, menaruh panci kecil berisi air di atas nyala api biru yang stabil. Sambil menunggu air mendidih, ia mengeluarkan mangkuk keramik putih bersih dari rak piring, mengelusnya perlahan dengan ibu jarinya. Pikirannya melayang pada detik-detik ketika Baskara mengetuk pintu kemarin sore, memeluknya erat di ruang tamu, dan membisikkan kata-kata penenang yang menghapus seluruh air mata kesedihannya.

"Kau benar-benar sudah kembali, kan, Bas?" gumam Aruna menatap kosong ke arah dinding dapur, separuh hatinya masih diliputi rasa tidak percaya bahwa mimpi buruk itu akhirnya benar-benar berakhir dengan kebahagiaan nyata.

❖ ❖ ❖

Suara letupan kecil dari kompor gas di dapur memecah keheningan pagi, membawa Aruna kembali ke kesadaran penuh. Ia mulai merajut bahan-bahan makanan di atas meja dapur dengan gerakan yang teratur dan cekatan. Proses transisi dari dunianya yang selama ini suram, pasif, dan penuh kecemasan menuju ritme kehidupan harian yang normal terasa begitu nyata dan menyejukkan.

Di luar jendela dapur, langit pagi berangsur-angsur berubah warna dari kelabu pucat menjadi jingga keemasan yang cerah. Sinar matahari pagi merobos masuk melalui celah kaca jendela, menyinari lantai dapur dan memantul di permukaan panci aluminium yang berkilau. Burung-burung mulai berkicau riang di dahan pohon mangga, menciptakan simfoni alam yang menyegarkan jiwa.

Aruna mencium aroma harum kaldu ayam yang mulai mendidih, membawa kenangan masa lalu ketika mereka sering memasak bersama di dapur kecil ini pada akhir pekan. Setiap irisan daun bawang dan taburan bawang goreng yang ia masukkan ke dalam mangkuk adalah bentuk doa dan rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Pencipta.

"Semuanya akan baik-baik saja sekarang," bisik Aruna pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang kadang masih berdegup tidak karuan karena sisa-sisa trauma emosional.

Transisi psikologis ini tidak terjadi dalam semalam. Dari seorang wanita yang membeku dalam kesepian, merajut rindu di balik tirai tertutup, kini ia menjelma menjadi seorang pendukung yang siap menyambut kepulangan suaminya dengan tangan terbuka dan hati yang sepenuhnya utuh. Ia menyadari bahwa luka akibat perpisahan panjang tidak bisa langsung sembuh begitu saja hanya dalam satu hari, namun proses penyembuhan itu telah menemukan arah yang pasti.

Ia membawa nampan berisi mangkuk bubur hangat dan secangkir kopi hitam ke atas meja makan kecil di ruang tengah. Dua cangkir keramik kini tersaji berdampingan dengan rapi di sana—simbol dari kebersamaan yang telah lama direnggut oleh jarak dan kini berhasil direbut kembali.

"Silakan duduk, tuan rumah," kata Aruna kecil sambil tersenyum sendirian di depan meja makan, membayangkan ekspresi lelah namun bahagia di wajah Baskara saat melihat hidangan penjemputan ini nanti.

❖ ❖ ❖

Namun, di tengah kedamaian pagi yang baru saja ia bangun dengan susah payah, sebuah rintangan tak terduga datang menguji ketahanan mental Aruna. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, ketika ia sedang menyapu lantai ruang tamu, suara dering telepon rumah tiba-tiba berdering nyaring, memecah kesunyian pagi dengan nada yang begitu tajam dan mengagetkan.

Kring...! Kring...

Aruna menghentikan gerakan sapunya seketika. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan keras. Darahnya mendadak berdesir dingin. Telepon rumah jarang sekali berdering di pagi hari, kecuali untuk urusan penting atau—yang paling ia takuti—panggilan darurat dari posko militer wilayah timur.

Ia berdiri terpaku di dekat sofa, menatap mesin telepon tua berwarna hitam di atas meja nakas seolah benda itu adalah makhluk asing yang berbahaya.

Lihat selengkapnya