Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Menghapus Jejak Air Mata

Pukul dua belas malam lewat lima belas menit. Hujan deras mengguyur atap seng rumah Aruna dan Baskara dengan ritme yang monoton, menciptakan bunyi gemuruh konstan yang memecah kesunyian malam di luar jendela kamar tidur utama. Di dalam ruangan yang hanya diterangi temaram lampu tidur berwarna kuning hangat, udara terasa lembap dan dingin. Baskara terbangun seketika saat mendengar isakan tertahan yang keluar dari sisi ranjangnya. Ia menoleh dan mendapati Aruna meringkuk di sudut kasur, memeluk kedua lututnya erat-erat dengan tubuh yang bergetar hebat. Keringat dingin membasahi pelipis wanita itu, sementara matanya menatap kosong ke arah lemari pakaian seolah sedang melihat bayangan mengerikan yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Aruna? Hei, ada apa, Sayang?" bisik Baskara cemas, segera mengangkat tubuhnya dan merentangkan tangan untuk merengkuh istrinya.

Namun, Aruna merespons dengan sentakan kaget, menjauhkan tubuhnya sambil menggelengkan kepala panik. "Jangan... jangan mendekat, Bas... suara helikopter itu... suara angin itu... mereka datang lagi..." racaunya dengan suara parau dan napas terengah-engah, terjebak sepenuhnya di dalam kilas balik trauma masa lalunya.

Serangan panik itu datang tanpa peringatan, merobek ketenangan yang baru saja mereka bina selama beberapa minggu terakhir. Bagi Aruna, trauma bukan sesuatu yang bisa dihapus hanya dengan kata-kata manis; ia adalah hantu yang sewaktu-waktu bisa bangkit dari tidurnya ketika malam gulita dan suara alam berkonspirasi memicu ingatannya kembali pada hari-hari paling mencekam di pos perbatasan. Baskara merasakan dadanya sesak melihat penderitaan istrinya. Ia tahu, malam ini mereka harus menghadapi pertarungan batin yang berat.

"Aruna, dengarkan suaraku. Ini aku, Baskara. Kau ada di rumah kita, di ranjang kita yang aman," ucap Baskara dengan nada serendah dan selembut mungkin, berusaha menembus dinding kepanikan yang mengurung kesadaran istrinya.

❖ ❖ ❖

"Aku tidak bisa bernapas, Bas... dadaku terasa dihantam batu besar..." lirih Aruna, jemarinya mencengkeram kuat seprai putih hingga buku-buku jarinya memutih, air matanya tumpah deras membasahi pipinya yang pucat.

Tujuan Baskara malam ini sangat jelas dan tidak boleh gagal: ia harus menjadi jangkar yang kokoh bagi Aruna, menarik istrinya kembali dari lubang hitam trauma masa lalu, dan memberikan dukungan emosional total agar Aruna tidak tenggelam dalam keputusasaan. Baskara menyadari bahwa sebagai suami sekaligus prajurit yang memahami betul apa itu ketakutan ekstrem, tugasnya saat ini bukan memberikan nasihat logis, melainkan menawarkan kehadiran fisik yang menenangkan dan pelukan perlindungan yang mutlak.

"Fokus padaku, Na. Lihat mataku," pinta Baskara sambil perlahan mendekatkan tubuhnya, bergerak sangat hati-hati agar tidak memicu ketakutan Aruna lebih jauh. "Tujuan kita malam ini hanya satu: melewati badai ini bersama-sama. Kau tidak sendirian lagi."

Aruna menatap suaminya dengan pandangan kabur oleh air mata. Di dalam kepalanya, suara deru baling-baling helikopter evakuasi dan berita buruk tentang kecelakaan di lembah terpencil berputar kencang, menulikan telinganya dari suara nyata di sekitarnya. Namun, melihat sorot mata Baskara yang penuh cinta dan keteguhan, secercah keinginan kuat mulai tumbuh di dalam hati kecilnya—keinginan untuk berjuang keluar dari cengkeraman trauma tersebut.

"Bantu aku, Bas... aku ingin keluar dari sini..." bisik Aruna terbata-bata, mengulurkan tangan gemurahnya untuk meraih lengan suaminya.

"Pasti, Na. Aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana pun," balas Baskara, langsung menyambut tangan istrinya dan mendekapnya erat ke dadanya yang bidang.

❖ ❖ ❖

Baskara menarik perlahan tubuh Aruna ke dalam dekapannya, membimbing wanita itu untuk menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Transisi dari kepanikan yang liar menuju kehangatan fisik yang nyata mulai mengubah ritme pernapasan Aruna yang tadinya tersengal-sengal.

"Dengarkan detak jantungku, Na," bisik Baskara lembut, mendekatkan kepala istrinya semakin rapat ke dadanya. Dug... dug... dug... suara detak jantung itu berirama konstan, mantap, dan menenangkan.

Di luar jendela, hujan deras masih menderu, namun suara air hujan itu perlahan-lahan mulai tersapu oleh kesadaran baru tentang keselamatan di dalam kamar tersebut. Aruna mulai merasakan kehangatan tubuh suaminya meresap melalui piyama tipisnya, mencairkan dinginnya keringat ketakutan yang sejak tadi melanda sekujur tubuhnya.

"Apakah ini nyata, Bas? Kau benar-benar ada di sini bersamaku?" tanya Aruna dengan suara bergetar tipis, jemarinya meraba erat kain kemeja yang dikenakan suaminya.

"Ini sangat nyata, Sayang. Aku di sini, memelukmu, dan tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa memisahkan kita lagi," jawab Baskara penuh keyakinan, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.

Proses transisi emosional ini berjalan lambat namun pasti. Setiap usapan lembut di punggung Aruna oleh tangan kokoh suaminya menjadi jembatan yang menyeberangkannya dari jurang halusinasi traumatis kembali ke realitas yang aman. Baskara tahu betul bahwa memaksa Aruna melupakan trauma adalah hal yang mustahil, tetapi mendampinginya melewati badai kepanikan adalah kewajiban suci yang harus ia jalani dengan kesabaran tingkat tinggi.

"Tutup matamu, Na. Tarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu lepaskan pelan-pelan lewat mulut," instruksi Baskara dengan nada suara yang tenang dan berwibawa, menuntun setiap tarikan napas istrinya.

❖ ❖ ❖

Meskipun berada di dalam pelukan suaminya, rintangan terbesar malam itu kembali menyerang ketika kilatan petir menyambar terang di luar jendela, diikuti oleh suara gemuruh guntur yang menggelegar dahsyat.

BARRR...!

Suara guntur yang keras itu mendadak memicu kembali refleks pertahanan tubuh Aruna. Ia berteriak kecil, meronta hebat dari pelukan Baskara, dan menutup kedua telinganya dengan tangan gemetar. Bayangan gelap tentang longsoran tanah dan reruntuhan pos perbatasan kembali menghantam benaknya dengan kekuatan penuh.

Lihat selengkapnya