Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Mengukir Senyum yang Hilang

Sore hari di Surabaya merayap lembut, membawa serta semilir angin laut Selat Madura yang beraroma garam dan besi tua, menyusup ke celah-celah jendela kafe dermaga yang menghadap langsung ke arah Pelabuhan Tanjung Perak. Di sudut ruangan berdekorasi kayu industrial itu, Aris duduk gelisah di kursi kayu jati sambil sesekali melirik jam tangan peraknya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB. Tiga puluh menit yang lalu, pesan singkat dari Maya telah mendarat di ponselnya, mengabarkan bahwa perempuan itu baru saja keluar dari stasiun kereta pasca-perjalanan panjang dari Yogyakarta. Suasana kafe yang remang-remang, diiringi petikan gitar akustik instrumental lagu-lagu lama, kontras dengan gemuruh antisipasi yang bergolak di dalam dada Aris. Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah jas kasualnya, lalu memandangi bangku kosong di seberangnya dengan tatapan sarat harap.

"Pesanan kopinya sudah siap, Pak Aris. Mau disajikan sekarang atau menunggu tamu Anda tiba?" tanya Rian, pelayan kafe muda yang sudah akrab dengan Aris, sambil membawakan nampan kecil.

Aris mendongak, tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala pelan. "Tunggu sebentar lagi, Rian. Beliau sebentar lagi sampai. Tolong siapkan dua cangkir kopi tubruk hitam dan sepiring pisang goreng keju kesukaannya."

"Baik, Pak. Siap laksanakan," balas Rian tersenyum ramah sebelum kembali ke area bar kafe.

Bagi Aris, pertemuan sore ini bukan sekadar temu kangen biasa antara dua orang sahabat lama yang terpisah jarak. Ada sebuah misi tak tertulis yang jauh lebih besar dan mendalam di balik undangan secangkir kopi tersebut. Dalam setiap percakapan telepon maupun pesan singkat beberapa minggu terakhir, Aris menyadari ada sesuatu yang hilang dari diri Maya—nada suara riang yang dulu selalu menghiasi hari-hari remaja mereka di Yogyakarta telah tergantikan oleh desah napas berat, kelelahan batin yang dipendam rapat-rapat, dan senyuman kaku yang tampak dipaksakan setiap kali perempuan itu menceritakan rutinitas rumah tangganya yang hambar bersama Hendra.

"Kau datang tepat waktu, Maya," gumam Aris lirih ketika pintu kaca kafe berderit pelan membuka, menampakkan sesosok perempuan berbalut mantel wol abu-abu muda yang berdiri ragu-ragu di ambang pintu, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan mencari sosok yang ia kenal.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aris mengundang Maya ke kafe dermaga itu jauh melampaui urusan basa-basi perantauan; ia bertekad bulat untuk mengukir kembali senyum lepas dan tawa renyah yang sudah bertahun-tahun lenyap dari bibir Maya. Aris hafal betul bagaimana sorot mata Maya berubah redup sejak ia terjebak dalam pernikahan kompromi dan tekanan psikologis bertahun-tahun lamanya. Di hadapan meja kayu kafe tersebut, Aris menetapkan target pribadi yang ambisius namun penuh ketulusan: ia ingin melihat Maya tertawa lepas tanpa beban, seperti gadis periang yang dulu gemar melompati rel-rel kereta tua di Stasiun Lempuyangan, sebelum badai kehidupan merenggut kebahagiaan itu dari sisinya.

"Aris..." panggil Maya pelan saat langkah kakinya terhenti tepat di samping meja, tatapannya menyapu wajah pria di hadapannya dengan campuran rasa haru dan canggung.

Aris langsung bangkit berdiri, menyambut kedatangan Maya dengan senyuman paling hangat yang ia miliki. Ia menarikkan kursi kayu untuk perempuan itu dengan gerakan sopan. "Selamat datang di Surabaya, Maya. Perjalananmu pasti sangat melelahkan, kan? Duduklah, udara di sini cukup menenangkan untuk mengusir penat."

Maya mengangguk pelan, duduk di kursi yang telah disiapkan, lalu melonggarkan syal rajut di lehernya. "Terima kasih, Aris. Perjalanannya memang panjang, tapi pemandangan laut di pelabuhan ini langsung membayar semuanya."

"Silakan dicicipi kopinya, masih panas. Dan ini... pisang goreng keju buatan khusus koki sini yang rasanya mirip dengan jajanan favorit kita di dekat stasiun dulu," kata Aris sambil mendorong piring kecil ke hadapan Maya.

Maya menatap piring pisang goreng itu, lalu beralih menatap Aris dengan mata berbinar. "Kamu masih ingat jajanan itu? Padahal sudah bertahun-tahun berlalu."

"Hal-hal manis tidak akan pernah mudah dilupakan, Maya," jawab Aris lembut, memulai langkah pertama dari misinya untuk meruntuhkan dinding kecanggungan yang membentengi mereka.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya