
Pukul tiga sore lewat lima belas menit. Matahari di langit kota perlahan-lahan condong ke barat, memancarkan pendar cahaya keemasan yang lembut dan hangat menembus barisan pohon-pohon rindang di Taman Anggrek. Suasana sore itu terasa begitu menenangkan; angin sepoi-sepoi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan kelopak bunga melati yang berguguran di atas jalur pejalan kaki berbatu kerikil. Di salah satu bangku taman kayu bercat putih yang menghadap langsung ke kolam buatan penuh teratai, Aruna dan Baskara duduk berdampingan dalam keheningan yang nyaman.
"Tempat ini tidak banyak berubah, ya, Bas," bisik Aruna pelan, matanya menyapu setiap sudut taman yang menyimpan ribuan kenangan masa lalu mereka sebelum badai penugasan memisahkan keduanya selama dua tahun.
"Ya, Na. Tempat ini tetap sama seperti dulu, saksi bisu dari semua cerita kita," jawab Baskara lembut, merangkul bahu istrinya dengan penuh kehangatan.
Taman kota tersebut adalah tempat favorit mereka di masa lalu—tempat di mana mereka biasa menghabiskan akhir pekan untuk sekadar membaca buku, mengobrol ringan tentang impian masa depan, atau menikmati es krim vanila di bawah naungan pohon ketapang besar. Mengunjungi kembali tempat ini setelah sekian banyak penderitaan dan air mata yang telah mereka lewati bersama terasa seperti sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu. Udara sore yang segar berpadu dengan suara tawa anak-anak bermain di kejauhan, menciptakan simfoni kehidupan yang mendamaikan jiwa Aruna yang beberapa minggu lalu masih dirundung trauma mendalam.
Aruna menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma khas sore hari di taman tersebut. Ia mengenakan dress katun berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga kecil, sementara Baskara mengenakan kemeja flanel abu-abu kesukaannya. Mereka berdua tampak seperti sepasang kekasih muda yang sedang menikmati masa pacaran, padahal mahligai pernikahan mereka telah diuji oleh badai terberat di ujung dunia.
"Kau ingat dulu kita pernah duduk di bangku ini sambil berdebat soal nama anak kita nanti?" tanya Aruna sambil tersenyum kecil, menatap suaminya dengan sorot mata penuh nostalgia.
"Tentu saja aku ingat. Kau bilang kalau anak perempuan kita harus diberi nama Kirana, dan aku sempat protes karena terdengar seperti nama pahlawan fiksi," balas Baskara tertawa pelan, suaranya bergetar hangat di telinga Aruna.
❖ ❖ ❖
"Hari ini, tujuan kita sederhana, Bas: kita ingin menghapus sisa-sisa bayangan kelam di tempat ini dan menggantinya dengan kenangan baru yang utuh," ucap Aruna dengan suara yang terdengar mantap dan penuh keyakinan.
Bagi Aruna, kembali ke taman kota ini bukan sekadar bernostalgia secara pasif, melainkan sebuah misi emosional yang sangat penting. Selama dua tahun masa penugasan Baskara, taman ini adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi bersama sebelum Baskara harus pergi ke pos perbatasan timur. Dulu, tempat ini dipenuhi oleh rasa cemas, air mata perpisahan, dan bayangan ketakutan akan kematian. Hari ini, Aruna bertekad untuk merebut kembali tempat ini dari cengkeraman kenangan sedih tersebut.
"Aku ingin kita menciptakan memori baru di sini, Bas," lanjut Aruna, menatap lekat-lekat mata suaminya. "Memori yang tidak lagi dibayangi oleh rasa takut atau perpisahan, melainkan oleh kebahagiaan karena kita akhirnya bisa kembali duduk berdampingan sebagai suami istri."
Baskara mengangguk perlahan, memahami sepenuhnya kedalaman makna di balik keinginan istrinya. Sebagai seorang prajurit, ia tahu betul bagaimana medan perang masa lalu bisa membekas di pikiran orang yang ditinggalkan di rumah. Mengembalikan hak atas kenangan indah kepada Aruna adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka batin yang tersisa.
"Apapun yang kau inginkan, Na. Kita akan lakukan hari ini," kata Baskara penuh dukungan, menggenggam jemari istrinya erat-erat di atas bangku taman. "Taman ini milik kita kembali. Tidak ada lagi bayangan masa lalu yang boleh merusak hari ini."
Tujuan praktis mereka sore ini mencakup hal-hal sederhana: berjalan-jalan menyusuri jalan setapak di bawah pepohonan, membeli es krim vanila kesukaan mereka di gerobak pedagang keliling di sudut taman, dan duduk bersama tanpa memikirkan apa pun selain kehadiran satu sama lain di masa kini.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari gerobak es krim di sana," ajak Aruna tersenyum lebar, berdiri dari bangku taman sambil menarik tangan suaminya dengan penuh semangat.
❖ ❖ ❖
Baskara mengikuti langkah istrinya yang berjalan mendahului ke arah gerobak es krim berpayung warna-warni di dekat air mancur buatan taman. Transisi dari perbincangan serius yang menguras emosi menuju aktivitas ringan dan menyenangkan di ruang terbuka memberikan kelegaan tersendiri bagi jiwa mereka berdua.
"Dua es krim vanila dengan taburan cokelat di atasnya, Pak," pesan Baskara ramah kepada penjual es krim paruh baya yang melayani mereka dengan senyuman lebar.
"Siap, komandan! Silakan dinikmati sore yang cerah ini," balas si penjual es krim sambil menyerahkan dua cone es krim yang mengepulkan uap dingin tipis.
Aruna menerima es krimnya dengan riang, menjilat ujung cone yang meleleh sedikit terkena terik matahari sore yang mulai turun. Ia menatap ke sekeliling taman, melihat pasangan muda yang sedang berpegangan tangan, para lansia yang duduk menikmati sore, dan burung-burung merpati yang berkumpul di atas rumput hijau. Setiap detail pemandangan itu terasa begitu hidup dan nyata, jauh berbeda dari bayangan suram yang selama ini menghantui pikirannya.
"Rasanya masih sama seperti dua tahun lalu, Bas," kata Aruna di sela suapan es krimnya, matanya berbinar ceria.
"Karena resepnya tidak pernah berubah, sama seperti perasaanku padamu," goda Baskara sambil tersenyum hangat, membuat pipi Aruna merona kemerahan.
Proses transisi psikologis ini berjalan begitu natural. Langkah kaki mereka menyusuri jalan setapak berbatu di bawah naungan pohon-pohon rindang seolah menghanyutkan seluruh sisa beban berat masa lalu. Aruna merasakan setiap hembusan angin sore membawa pergi keraguan dan ketakutannya, menggantinya dengan rasa syukur yang mendalam atas setiap detik kebersamaan yang kini mereka miliki.