Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Pelukan yang Menghapus Jarak

Pukul sepuluh lewat lima belas malam. Udara di luar apartemen lantai dua belas itu mendingin, membawa serta aroma sisa hujan yang baru saja mereda di emperan kota. Cahaya lampu-lampu jalanan merembes melalui celah tirai abu-abu, menciptakan garis-garis keemasan tipis yang jatuh di atas lantai parket kayu. Di dalam ruangan yang senyap, satu-satunya suara yang terdengar adalah detak jam dinding antik milik Arga—sebuah detakan monoton yang seolah menghitung mundur ketegangan yang telah menumpuk selama berbulan-bulan.

Arga duduk di tepi sofa beludru berwarna biru gelap, menatap cangkir teh chamomile yang mengepulkan uap tipis. Teh itu sudah dingin sejak setengah jam yang lalu, tetapi ia tidak berniat meminumnya. Ruangan itu terasa terlalu luas untuk dihuni oleh satu orang saja, terutama setelah apa yang terjadi di antara mereka belakangan ini. Setiap sudut ruangan menyimpan memori tentang tawa, argumen kecil yang konyol, hingga keheningan panjang yang penuh makna.

Di seberang ruangan, jendela besar menampilkan siluet kota yang sibuk namun terasa sangat jauh dari jangkauan emosi mereka. Di tempat inilah, di ruang tamu yang temaram ini, jarak fisik di antara mereka sebenarnya hanya terpaut beberapa meter. Namun, dalam hitungan batin, jarak itu telah membentang sejauh ribuan mil—jarak yang tercipta dari ego, kesalahpahaman, dan ketakutan untuk saling melukai lebih dalam.

Pintu geser balkon sedikit terbuka, membiarkan angin malam menyelinap masuk dan menggerakkan ujung tirai. Arga menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi parfum lavender yang tertinggal di udara. Wangi itu selalu mengingatkannya pada Maya, wanita yang telah mengisi separuh hidupnya dalam tiga tahun terakhir.

"Kamu masih di sini?" Suara serak itu memecah keheningan, begitu pelan namun cukup tajam untuk membuat bahu Arga sedikit terangkat.

Arga menoleh. Maya berdiri di ambang pintu kamar tidur, mengenakan mantel rajut oversized berwarna krem di atas piyama tidurnya. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini dibiarkan tergerai bebas, membingkai wajahnya yang tampak lelah. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, bukti dari malam-malam panjang yang dihabiskan untuk merenungkan ke mana arah hubungan mereka harus dibawa.

"Aku bilang aku akan menunggumu, Maya," jawab Arga tenang, suaranya terdengar berat namun sarat akan ketulusan. "Dan aku tidak punya kebiasaan menarik kata-kataku sendiri, terutama ketika hal itu menyangkut kita."

Maya melangkah mendekat secara perlahan, langkah kakinya hampir tak bersuara di atas lantai kayu. Ia berhenti di dekat meja kopi, menjaga jarak aman sekitar dua meter dari tempat Arga duduk. Tangannya saling meremas di depan dada, sebuah gestur defensif yang sangat dikenali Arga sebagai bentuk pertahanan diri ketika Maya merasa terpojok oleh perasaannya sendiri.

"Kita tidak seharusnya memperpanjang hal ini, Arga," bisik Maya, matanya menghindari tatapan langsung pria itu dan beralih pada cangkir teh yang tak tersentuh. "Semakin lama kita mencoba bertahan di tempat yang sama, semakin kita menyakiti satu sama lain tanpa sengaja. Pertemuan malam ini... ini hanya akan membuat semuanya menjadi lebih sulit bagi kita berdua."

Arga meletakkan cangkirnya di atas meja dengan gerakan pelan, lalu berdiri perlahan. Ia tidak ingin melakukan gerakan yang bisa membuat Maya merasa terancam atau ingin mundur lebih jauh. Tinggi badannya yang menjulang membuat bayangannya jatuh menutupi sebagian kecil tubuh Maya di bawah temaram lampu meja.

"Menjadi sulit bagi siapa, Maya? Bagiku atau bagimu?" tanya Arga, suaranya melembut, menyiratkan kepedulian yang mendalam di balik nada letihnya. "Selama dua minggu terakhir, aku tidak pernah berhenti memikirkan setiap kata yang kamu ucapkan malam itu di kafe. Dan aku tahu betul, kamu merasakan hal yang sama. Jangan coba menyembunyikannya di balik kalimat rasionalmu."

Maya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Arga. Ada kilatan emosi yang kompleks di sana—keinginan yang tertahan, rasa takut akan kehilangan, dan kelelahan mental yang teramat sangat. "Rasionalitas adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kita sekarang, Arga. Cinta tidak pernah cukup untuk membayar ketidakpastian."

❖ ❖ ❖

Tujuan Arga malam ini sangat sederhana namun sekaligus paling sulit untuk dicapai: ia ingin meruntuhkan tembok pertahanan yang telah dibangun Maya selama berminggu-minggu, serta menghentikan keputusan sepihak wanita itu untuk mengakhiri segalanya. Bagi Arga, perpisahan yang didasarkan pada ketakutan bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah pelarian dari masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama.

Ia tahu betul bahwa Maya sedang berjuang melawan rasa tidak amannya sendiri. Promosi pekerjaan ke cabang luar negeri yang ditawarkan kepada Maya sebulan lalu telah menjadi titik balik yang meretakkan fondasi hubungan mereka. Maya melihat kesempatan itu sebagai jalan keluar untuk mandiri sepenuhnya, sementara Arga melihatnya sebagai ujian terberat bagi komitmen jangka panjang yang telah mereka bangun dengan susah payah.

"Ketidakpastian itu wajar, Maya," kata Arga, melangkah satu langkah lebih dekat, namun tetap menghormati batas teritori Maya. "Tidak ada satupun hubungan di dunia ini yang berjalan di atas jalur yang sepenuhnya pasti. Yang penting bukan seberapa mulus jalannya, tapi siapa yang duduk di kursi sebelah saat jalan itu berlubang."

Maya mendengus pelan, sebuah senyum tipis yang sarat akan kepahitan tersungging di sudut bibirnya. "Kamu selalu bisa merangkai kata-kata dengan indah, Arga. Kamu selalu tahu bagaimana cara membuat hal-hal yang rumit terdengar begitu sederhana di telingamu. Tapi kenyataannya tidak semudah itu."

"Lalu apa kenyataannya bagimu?" Arga menatapnya lekat-lekat. "Apakah kenyataannya adalah kamu ingin pergi bukan karena pekerjaan itu, tapi karena kamu takut jika kita gagal bersama? Apakah lebih mudah bagimu untuk melepaskan daripada mencoba memperjuangkannya?"

Pertanyaan itu menohok tepat di jantung permasalahan. Maya terdiam, napasnya sedikit memburu. Jemarinya yang saling meremas kini semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya yang tajam mulai menyuarakan kerapuhan di balik topeng ketegasannya.

"Kamu tidak mengerti, Arga," suara Maya mulai bergetar, pertahanannya mulai goyah oleh kejujuran kalimat itu. "Aku telah melihat bagaimana orang tuaku berjuang dalam hubungan jarak jauh bertahun-tahun lalu, dan bagaimana akhirnya semuanya hancur karena kelelahan emosional. Aku tidak ingin kita berakhir di jurang yang sama. Aku takut menjadi versi lain dari ibuku—orang yang selalu menunggu dalam ketidakpastian."

Arga menghela napas panjang. Sekarang ia mengerti akar ketakutan itu. Ini bukan tentang rasa cinta Maya yang mulai pudar terhadapnya, melainkan tentang trauma masa kecil yang membayangi setiap langkah dewasa wanita itu. Trauma yang selama ini disimpan rapat-rapat di balik kesuksesan profesionalnya.

"Aku bukan ayahmu, Maya," ucap Arga dengan suara yang sangat rendah, penuh dengan kehangatan dan kepastian. "Dan kita bukan mereka. Kita menulis cerita kita sendiri, dengan cara kita sendiri. Aku tidak meminta kamu untuk melepaskan kariermu atau impianmu. Yang aku minta hanyalah agar kita tidak menyerah sebelum kita benar-benar mencoba melangkah bersama."

Tujuan Arga malam ini bukan sekadar memenangkan argumen atau mempertahankan status quo hubungan mereka. Ia ingin memberikan ruang bagi Maya untuk merasa aman—aman untuk mengakui kelemahannya, aman untuk dicintai bahkan ketika ia sedang merasa paling rapuh dan takut.

Maya menundukkan kepalanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mengancam untuk tumpah kapan saja. Ia benci merasa lemah di hadapan Arga, tetapi di sisi lain, hanya di dekat Arga lah ia merasa diizinkan untuk tidak harus selalu kuat sepanjang waktu.

"Aku lelah harus selalu bersiap untuk patah hati, Arga," bisik Maya, suaranya nyaris tak terdengar di atas deru angin malam yang menepuk kaca jendela.

Arga merapatkan jarak di antara mereka, kali ini tanpa ragu. Ia berdiri tepat di hadapan Maya, cukup dekat untuk menghirup aroma sabun mandi yang menenangkan dari tubuh wanita itu. "Kalau begitu, berhenti bersiap untuk patah hati," jawab Arga lembut. "Biarkan aku yang menanggung bagian itu jika memang harus terjadi, dan biarkan kamu hanya merasakan bagian yang membahagiakannya."

❖ ❖ ❖

Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini nuansanya jauh berbeda dari sebelumnya. Ketegangan yang tadinya membeku di udara kini mulai mencair, digantikan oleh gelombang kerentanan yang jujur. Suara detak jam dinding seolah melambat, memberikan ruang bagi detak jantung masing-masing untuk saling mendengar di dalam keheningan ruang tamu tersebut.

Maya mendongak perlahan, menatap wajah Arga dari jarak yang begitu dekat. Di bawah pencahayaan temaram lampu sudut ruangan, ia bisa melihat garis-garis kelelahan di wajah pria itu—garis yang sama yang tercipta karena kekhawatiran mendalam terhadap masa depan hubungan mereka. Tidak ada lagi benteng pertahanan di antara mereka; yang tersisa hanyalah dua jiwa yang sama-sama terluka namun saling merindukan kehangatan.

"Kamu benar-benar keras kepala, tahu," kata Maya, mencoba menyunggingkan senyum kecil di tengah sisa-sisa air mata yang kini menetes pelan di pipinya.

Arga mengangkat tangannya secara perlahan, memberikan kesempatan bagi Maya untuk mundur jika ia berubah pikiran. Namun Maya tetap diam di tempatnya, membiarkan punggung jari Arga menyapu lembut jejak air mata di pipinya. Sentuhan itu begitu hangat, kontras dengan dinginnya malam di luar sana.

"Hanya untuk hal ini," jawab Arga dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Untuk hal-hal lain, aku pria paling fleksibel yang pernah kamu temui."

Lihat selengkapnya