Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Cemburu yang Manis

Matahari sore baru saja tergelincir turun di ufuk barat, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang memantul indah di permukaan kaca jendela sebuah kafe semi-outdoor berkonsep industrial di kawasan Pahoman, Bandar Lampung. Suasana kafe pada pukul empat sore itu tampak cukup lengang, hanya diisi oleh beberapa pengunjung yang duduk di sudut ruangan sambil menikmati secangkir kopi hangat atau hidangan penutup manis. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa serta aroma biji kopi pilihan yang baru disangrai serta kesejukan samar dari deretan tanaman hijau gantung yang menghiasi dinding kafe. Di salah satu meja bundar berbahan kayu jati yang terletak dekat sudut kaca, Arka dan Reina duduk berhadapan, dikelilingi oleh suasana yang sekilas tampak tenang, namun menyimpan dinamika emosi yang perlahan mulai menghangat di antara mereka.

Hari ini adalah akhir pekan pertama setelah dua minggu penuh kesibukan yang melelahkan bagi keduanya. Arka baru saja merampungkan proyek besar penataan interior sebuah hotel butik di pesisir Krui, sementara Reina disibukkan oleh pameran seni rupa kontemporer yang menuntut kehadirannya di berbagai galeri lokal. Pertemuan sore ini seharusnya menjadi momen pelepas rindu yang manis, sebuah perayaan kecil atas selesainya tugas-tugas berat yang membebani pundak mereka. Di atas meja, dua cangkir caffe latte dengan hiasan latte art berbentuk hati telah tersaji rapi, ditemani oleh sepiring croissant mentega yang masih mengepulkan kehangatan tipis.

Arka mengenakan kemeja linen berwarna biru muda dengan lengan yang digulung sebatas siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Ia tampak sedang mendengarkan cerita Reina dengan saksama, sesekali tersenyum tipis melihat antusiasme wanita di hadapannya itu. Reina sendiri terlihat sangat memesona dalam balutan blouse putih gading dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai natural. Wanita itu sedang menceritakan keseruannya saat berdebat dengan seorang kurator seni muda asal Jakarta mengenai penataan tata letak lukisan dalam pameran minggu lalu. Nama seorang pria berulang kali disebut oleh Reina dengan nada yang biasa saja, namun di telinga Arka, penyebutan nama itu mulai menimbulkan getaran-getaran kecil yang asing.

"Dan kau tahu, Arka? Denis—kurator itu—awalnya sangat keras kepala mempertahankan konsep minimalis modern," cerita Reina bersemangat, jemarinya bergerak lincah di udara menggambarkan bentuk tata ruang galeri. "Tapi begitu aku tunjukkan filosofi pencahayaan natural yang kita diskusikan bulan lalu, dia langsung terdiam dan memuji ide itu setinggi langit. Bahkan, dia sempat mengajakku makan malam bersama untuk membahas proyek kolaborasi lanjutan di galeri pusat."

Arka mengangguk pelan, menyesap kopinya secara perlahan untuk menyembunyikan perubahan ekspresi yang tiba-tiba melintas di wajahnya. Sudut bibirnya memang masih terangkat membentuk senyuman, tetapi ada ketukan ritmis dari jari telunjuknya di atas permukaan meja kayu yang menunjukkan bahwa pikirannya mulaiikutikik oleh sesuatu. Nama Denis—pria muda yang baru dikenal Reina selama proyek pameran tersebut—tampaknya mulai mendominasi cerita Reina dalam tiga pertemuan terakhir mereka. Bagi Arka, yang terbiasa memegang kendali penuh atas ketenangannya sendiri, kemunculan nama pria lain yang begitu sering dipuji oleh Reina menimbulkan sensasi aneh yang mencubit dinding hatinya.

❖ ❖ ❖

Tujuan awal Arka dan Reina datang ke kafe sore itu sangatlah sederhana: menikmati waktu berkualitas bersama setelah hari-hari panjang yang melelahkan. Namun, seiring berjalannya percakapan yang didominasi oleh kisah keterlibatan Reina dengan sang kurator muda, tujuan bawah sadar Arka bergeser secara drastis. Kini, ia memiliki tujuan baru yang mendesak—ia ingin menguji sejauh mana batasan hubungan profesional di antara Reina dan pria bernama Denis itu, sekaligus menegaskan kembali dominasi serta posisinya di dalam hati wanita yang sangat dicintainya. Arka tidak berniat menjadi pria posesif yang mengekang kebebasan pasangannya, tetapi rasa tidak nyaman yang tiba-tiba bergemuruh di dadanya menuntut sebuah kejelasan.

Di sisi lain, Reina memiliki tujuan yang sama sekali berbeda dan jauh dari kecurigaan. Sebagai seorang wanita yang mencintai Arka dengan segenap ketulusannya, ia hanya ingin berbagi antusiasme dan pencapaian profesionalnya kepada satu-satunya pria yang paling ia percaya di dunia ini. Bagi Reina, membagikan cerita tentang pekerjaannya adalah bentuk kedekatan emosional tertinggi; ia ingin Arka menjadi bagian dari setiap langkah sukses maupun hambatan yang ia hadapi di dunia seni. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap pujian yang ia lemparkan untuk kecerdasan Denis justru bekerja seperti tetesan air kecil yang perlahan-lahan mulai mengisi cangkir kesabaran Arka hingga hampir tumpah.

"Denis memang memiliki wawasan yang cukup luas tentang seni modern," lanjut Reina tanpa curiga, matanya berbinar-binar saat ia kembali memotong croissant di piringnya. "Dia lulusan universitas seni di Melbourne, jadi sudut pandang estetikanya sangat segar. Kami bahkan sering menghabiskan waktu berjam-jam di ruang arsip galeri hanya untuk memilih bingkai lukisan yang paling pas."

Mendengar kalimat itu, gerakan tangan Arka yang memegang cangkir kopi terhenti sejenak di udara sebelum ia meletakkannya kembali ke atas piring kecil dengan suara dentingan yang pelan namun tegas. Arka menatap Reina lekat-lekat, mencoba meredam gejolak di dadanya dengan menarik napas panjang.

"Sepertinya kau sangat terkesan padanya, Reina," ucap Arka dengan nada suara yang sengaja dibuat selicin mungkin, meskipun kilatan di matanya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa ingin tahu yang terselubung ketidaknyamanan. "Hampir di setiap pertemuan kita minggu ini, nama Denis selalu ada di dalam cerita-ceritamu. Apakah dia benar-benar sehebat itu sampai membuat seorang desainer interior perfeksionis sepertimu begitu terpesona?"

Reina mengedipkan matanya beberapa kali, terkejut mendengar nada bicara Arka yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia meletakkan garpunya, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan meja, menatap wajah pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik. "Arka? Apakah barusan kau... memuji sekaligus menyindir?" tanya Reina, bibirnya membentuk senyuman geli yang tertahan. "Jangan bilang kalau kau sedang merasa tersaingi oleh seorang kurator galeri?"

Tujuan Arka untuk menyembunyikan kegusarannya mendadak runtuh di hadapan tatapan tajam dan penuh pengertian dari wanita itu. Arka mendengus pelan, membuang pandangannya sesaat ke arah jalan raya di luar kafe sebelum kembali menatap mata Reina dengan jujur. "Bukan merasa tersaingi," sanggah Arka dengan suara rendah, dagunya terangkat sedikit. "Hanya saja, aku tidak begitu suka mendengarkan kekasihku memuji pria lain secara berlebihan, terutama ketika waktu libur berdua ini seharusnya sepenuhnya tentang kita, bukan tentang Denis-Denis itu."

Pengakuan blak-blakan itu membuat Reina tertegun sejenak, sebelum akhirnya tawa kecil yang merdu lolos dari bibirnya. Alih-alih merasa terganggu, Reina justru menangkap kilatan cemburu yang manis di mata pria yang selama ini dikenal begitu tenang dan tak tergoyahkan. Tujuan Reina yang tadinya hanya ingin bercerita kini berubah menjadi keinginan yang lebih menggoda: ia ingin melihat seberapa jauh Arka akan menunjukkan sisi protektif dan cemburunya.

❖ ❖ ❖

Transisi dari percakapan santai yang dipenuhi antusiasme pekerjaan menuju ketegangan emosional yang manis terjadi begitu cepat, mengubah udara di sekitar meja mereka menjadi lebih padat dan bermakna. Suara bising kendaraan yang berlalu-lalang di luar kafe seolah meredup, terserap oleh intensitas tatapan mata yang saling bertukar di antara Arka dan Reina. Suasana sore yang tadinya terasa biasa kini dipenuhi oleh getaran magnetis yang sulit diabaikan.

Reina menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada sambil tetap mempertahankan senyuman tipis penuh arti di bibirnya. "Jadi... seorang Arka Danendra yang biasanya begitu tenang, bijaksana, dan rasional ternyata bisa juga merasa terancam hanya karena seorang kurator seni memujiku?" cibir Reina lembut, nada suaranya menyiratkan godaan yang terang-terangan. "Aku tidak menyangka sisi rapuhmu yang ini bisa muncul ke permukaan."

"Ini bukan soal rapuh, Reina," balas Arka cepat, alisnya sedikit bertaut, meski sudut bibirnya mulai menyerah dan ikut membentuk senyuman kecil melihat ekspresi jenaka di wajah wanita itu. "Ini soal batas kewajaran. Kau menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya di ruang arsip, makan malam bersama, dan sekarang kau menceritakannya padaku seolah dia adalah pahlawan dalam projekmu. Sebagai pria yang mencintaimu, wajar kan kalau aku merasa... terganggu?"

"Terganggu, atau cemburu?" potong Reina cepat, mempertegas kata kunci yang sengaja dihindari oleh Arka sedari tadi. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi, hingga jarak di antara wajah mereka kini semakin menyempit. Aroma parfum beraroma bunga melati yang lembut dari tubuh Reina menguar ke indra penciuman Arka, semakin mengaburkan konsentrasi pria itu.

Arka terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap bibir Reina yang sedang tersenyum penuh kemenangan sebelum kembali menatap mata wanita itu. Di dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa Reina sedang mempermainkannya, namun ia sama sekali tidak merasa keberatan. Justru, pengakuan terselubung akan rasa cemburu itu terasa seperti sebuah validasi atas betapa besarnya rasa memiliki yang ia miliki terhadap wanita di hadapannya.

"Baiklah, anggap saja begitu,"aku Arka akhirnya dengan suara yang sengaja dilembutkan, menyerah pada permainan kecil yang diciptakan oleh kekasihnya sendiri. Ia merentangkan tangannya di atas meja, jemarinya mengetuk pelan permukaan kayu sebelum meraih cangkir kopi miliknya. "Aku cemburu, Reina. Puas? Aku tidak suka ada pria lain yang mendapatkan perhatian sebesar itu darimu, bahkan dalam urusan pekerjaan sekalipun."

Pengakuan jujur yang diucapkan tanpa keraguan itu membuat jantung Reina berdegup lebih kencang dari biasanya. Gelombang kehangatan yang manis langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Selama ini, Arka dikenal sebagai sosok pria yang cenderung menahan diri, jarang menunjukkan emosi yang berlebihan, dan selalu bisa diandalkan untuk tetap berkepala dingin dalam situasi apa pun. Melihat sisi posesif yang begitu manusiawi dan tulus dari pria itu memberikan kepastian emosional yang luar biasa bagi Reina—sebuah bukti nyata bahwa Arka benar-benar takut kehilangan dirinya.

Transisi emosional dari rasa geli menjadi keintiman yang mendalam mengubah seluruh atmosfer di meja sudut kafe itu. Sinar matahari senja yang mulai meredup menyiram kulit mereka dengan warna keemasan yang hangat, menciptakan bayangan siluet yang indah di dinding. Di tengah dunia yang sibuk dan penuh dengan tuntutan profesional, momen ini menjadi sebuah oasis privat di mana ego dan gengsi dilepaskan, menyisakan kejujuran rasa di antara dua jiwa yang saling terikat kuat.

❖ ❖ ❖

Meski suasana di antara mereka telah mencair menjadi keintiman yang manis, gejolak kecil di dada Arka belum sepenuhnya mereda. Rintangan mental berupa bayangan-bayangan tentang kedekatan Reina dan Denis di tempat kerja kembali merayap masuk ke dalam pikirannya, memicu serangkaian skenario kecil yang menguji kesabaran pria itu. Arka tahu betul bahwa dunia seni tempat Reina berkecimpung adalah dunia yang penuh dengan individu-individu ekspresif, karismatik, dan tidak jarang, terlalu bebas dalam mengekspresikan ketertarikan mereka.

Lihat selengkapnya