Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Hari yang Sempurna

Matahari pagi menembus celah-celah dedaunan pinus di lereng bukit, menyebarkan pendar keemasan yang hangat ke atas permukaan tanah yang masih basah oleh embun. Udara pagi terasa sangat renyah dan segar, membawa aroma pinus serta tanah basah yang menenangkan jiwa. Tidak ada suara deru kendaraan bermotor, klakson yang memekakkan telinga, atau dering alarm ponsel yang kerap kali merusak kedamaian pagi di kota besar. Yang terdengar hanyalah siulan merdu burung-burung liar dan gemerisik daun yang tertiup angin pagi.

Di luar tenda dome mereka, Arka sudah terbangun lebih awal. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku setelah semalam suntuk mendekap Sasi dalam kehangatan. Semalam, badai kecil sempat menguji ketahanan mereka, namun hari ini alam seolah meminta maaf atas kekacauan tersebut dengan menghadirkan cuaca yang begitu sempurna. Langit membentang luas tanpa ada satu pun gumpalan awan hitam; warnanya biru jernih, memantulkan kemegahan alam pegunungan yang berdiri gagah di sekeliling mereka.

Arka melangkah pelan menuju tungku perapian portabel kecil, menyalakan api untuk merebus air panas yang akan digunakan menyeduh kopi pagi. Sinar matahari pagi yang jatuh tepat di wajahnya membuat matanya menyipit, namun senyum tipis terus terkembang di bibirnya. Ia mengenakan jaket fleece tebal berwarna abu-abu, menikmati kesunyian pagi yang terasa begitu sakral.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara gesekan resleting tenda dari dalam. Sasi menyembulkan kepalanya, rambutnya tampak sedikit berantakan dengan mata yang masih menyesuaikan diri dengan cahaya terang matahari pagi. Ia mengenakan selimut tebal yang melilit tubuhnya layaknya kepompong, menciptakan pemandangan yang membuat Arka tertawa kecil penuh kelembutan.

"Pagi, perempuan pemalas," sapa Arka lembut, menoleh ke arah Sasi sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir logam.

Sasi mengerjap pelan, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Pagi, Arka. Wah, bau kopi ini benar-benar menyelamatkan nyawaku pagi ini." Sasi merayap keluar dari tenda, menghampiri Arka dan langsung menyambut cangkir logam hangat yang disodorkan oleh laki-laki itu. Ia mendekatkan hidungnya ke cangkir, menghirup dalam-dalam aroma kopi hitam pekat yang berpadu dengan udara dingin. "Ini benar-benar awal hari yang sempurna."

"Memang," balas Arka sambil merangkul bahu Sasi, menarik perempuan itu mendekat ke sisinya untuk berbagi kehangatan. "Hari ini, kita tidak punya jadwal, tidak punya tenggat waktu, dan tidak ada bos yang akan meneror kita lewat email atau panggilan darurat. Hari ini sepenuhnya milik kita berdua."

Sasi mendongak, menatap mata Arka dengan binar kebahagiaan yang tulus. Beban pikiran yang sempat menggelayuti benaknya kemarin malam seolah lenyap begitu saja terbawa angin pagi. "Janji ya? Hari ini kita benar-benar melupakan dunia luar?" tanya Sasi memastikan, dengan nada manja yang jarang sekali ia tunjukkan di hadapan orang lain.

"Janji," jawab Arka mantap. "Hari ini adalah hari di mana kita menebus semua waktu yang telah dirampas oleh kesibukan kita di kota."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arka dan Sasi untuk hari yang cerah ini sangatlah sederhana namun teramat berharga: menghabiskan waktu seharian penuh tanpa memikirkan beban dunia luar, menikmati setiap detik kebersamaan tanpa distraksi teknologi atau tuntutan karier. Selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, waktu mereka selalu dihitung berdasarkan jadwal rapat, target penjualan, laporan mingguan, dan berbagai urusan administratif yang tidak ada habisnya. Hubungan mereka berjalan di atas rel yang sibuk, di mana pertemuan sering kali harus dijadwalkan jauh-jauh hari layaknya pertemuan bisnis formal.

Hari ini, mereka ingin mereset semuanya. Mereka ingin kembali merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa terburu-buru, menikmati detik demi detik waktu yang berjalan lambat di tengah alam terbuka. Sasi berkeinginan untuk memulihkan energi mentalnya yang terkuras habis oleh tekanan sebagai pemimpin proyek di kantornya, sementara Arka ingin menciptakan memori indah yang murni, tanpa bayang-bayang masa depan yang mencemaskan.

"Arka, kalau kita menghabiskan seharian penuh di sini tanpa menyalakan ponsel sama sekali, apakah kantormu tidak akan mencarimu?" tanya Sasi sedikit ragu, meskipun ia sendiri sangat berharap jawabannya adalah tidak.

Arka tertawa kecil, meneguk kopinya sebelum menjawab. "Sasi, handphone-ku sudah kumatikan sejak kita mulai mendaki dua hari lalu. Dan percayalah, dunia tidak akan kiamat hanya karena seorang Arka tidak merespons email dalam waktu tiga hari. Timku sudah cukup dewasa untuk menghandle masalah kecil di kantor."

"Kamu benar juga," ucap Sasi sambil tersenyum lega. "Terkadang kita merasa diri kita terlalu penting di tempat kerja, seolah-olah perusahaan akan langsung bangkrut begitu kita mengalihkan pandangan darinya. Padahal kenyataannya, dunia tetap berputar dengan normal."

"Itulah sebabnya tujuan kita hari ini adalah menolak untuk merasa penting," kata Arka bijak. "Hari ini, satu-satunya hal yang penting di dunia ini adalah cangkir kopi di tanganmu, pemandangan di hadapan kita, dan kehadiran kita berdua."

Mereka merencanakan agenda hari itu dengan santai. Mulai dari berjalan-jalan ringan menyusuri tepi hutan pinus, mencari titik pandang terbaik untuk melihat hamparan lembah di bawah bukit, memasak makan siang sederhana di atas kompor lapangan, hingga menghabiskan sore hari dengan membaca buku bersama atau sekadar mengobrol tanpa arah. Tidak ada target jarak yang harus dicapai, tidak ada puncak gunung lain yang harus ditaklukkan. Tujuan mereka hari ini hanyalah menikmati kedamaian.

"Aku ingin kita memasak sesuatu yang istimewa untuk sarapan nanti," kata Sasi dengan antusias, matanya berbinar cerah. "Aku membawa beberapa bahan makanan kering dan telur dari ransel darurat kita. Kita bisa membuat telur orak-arik ala kadarnya dengan sosis."

"Ide bagus koki Sasi. Aku akan bertugas mengumpulkan ranting-ranting kering yang bagus untuk memperbesar api," sambut Arka dengan antusias.

Interaksi di antara mereka mengalir begitu alami dan penuh canda tawa, jauh dari kesan kaku yang kerap mewarnai hari-hari sibuk mereka di kota. Setiap detik yang berlalu terasa begitu berharga, diisi dengan percakapan-percakapan ringan yang sarat akan kehangatan emosional. Mereka sedang membangun benteng kebahagiaan kecil mereka sendiri, terisolasi dari segala keruwetan dan kepenatan dunia modern.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan bergeser naik ke ufuk timur, mengubah warna langit dari keemasan pucat menjadi biru cerah yang menyegarkan. Selesai menikmati sarapan sederhana berupa telur orak-arik dan kopi panas, Arka dan Sasi mulai membereskan peralatan makan mereka. Peralatan masak sederhana itu mereka cuci menggunakan sedikit air mineral dan dilap bersih dengan tisu basah khusus perlengkapan luar ruang.

Perubahan aktivitas dari sarapan pagi menuju penjelajahan ringan di sekitar lereng bukit menandai transisi fase hari mereka. Suasana pagi yang tenang perlahan-lahan bertukar dengan kehangatan matahari siang yang mulai memeluk dataran tinggi tersebut. Jaket fleece tebal yang tadinya dikenakan Arka dan Sasi kini mulai dilepas dan digantikan dengan pakaian yang lebih tipis dan nyaman.

"Siap untuk berjalan-jalan menyusuri punggung bukit sebelah timur?" tanya Arka sambil menenteng sebotol air minum dan memasukkannya ke dalam ransel kecil.

Sasi mengangguk mantap, mengenakan topi lapangan kesayangannya untuk melindungi wajah dari terik matahari pagi yang mulai terasa hangat. "Sangat siap. Aku ingin melihat padang rumput liar yang kemarin sempat kita lihat dari kejauhan saat kabut masih turun."

Mereka mulai melangkah berdampingan, menyusuri jalan setapak kecil yang terbentuk secara alami oleh aliran air hujan dan jejak para pendaki sebelumnya. Langkah kaki mereka beriringan, seirama dengan detak jantung yang merasa damai. Di sisi kiri dan kanan jalan setapak, berbagai jenis bunga liar berwarna ungu dan kuning tampak mekar dengan indahnya, menyambut kedatangan mereka dengan senyuman alam.

"Pernahkah kamu berpikir, Sasi, betapa seringnya kita melewatkan hal-hal indah seperti ini hanya karena kita terlalu sibuk menatap layar monitor?" ucap Arka pelan, matanya menyapu pemandangan luas di hadapan mereka.

Sasi menoleh, memperhatikan sekelompok kupu-kupu kecil yang terbang di atas rerumputan liar. "Sering sekali, Arka. Kita sering kali mengorbankan momen-momen sederhana yang sebenarnya jauh lebih bermakna demi mengejar angka-angka di atas kertas atau pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak peduli pada kesehatan mental kita."

Lihat selengkapnya