Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #46

Bayang-Bayang Kegagalan Lama

Pukul sebelas malam baru saja berdetak di jam dinding kayu jati yang tergantung di ruang kerja apartemen Arka yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu malam kota Bandar Lampung. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tenang, diisi hanya oleh desau halus pendingin ruangan dan suara ketukan pelan jemari Arka di atas permukaan meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan dokumen proyek arsitektur. Di luar jendela besar berbingkai besi hitam, angin malam bulan September berhembus membawa kesejukan yang menyusup pelan melalui celah-celah kaca, menciptakan suasana kontras antara kesunyian malam dan badai emosi yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dada pria itu.

Arka menghentikan kegiatannya, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan lewat celah bibirnya. Di sofa beludru abu-abu di sudut ruangan, Reina tampak tertidur pulas dengan selimut kasmir tipis yang menutupi tubuhnya, setelah berjam-jam menemani Arka lembur merampungkan revisi rancangan galeri seni. Wajah wanita itu tampak begitu damai, memancarkan kecantikan alami yang selalu berhasil menenangkan jiwa Arka di tengah penatnya tekanan pekerjaan. Namun, di balik ketenangan visual malam itu, pikiran Arka justru melayang jauh menembus lorong waktu, kembali pada kenangan-kenangan pahit masa lalu yang selama ini terkubur rapat di sudut tergelap ingatannya.

Kegagalan besar yang meremukkan proyek konstruksi pertamanya lima tahun lalu di Palembang kembali membayangi benaknya secara tiba-tiba, seolah-olah hantu masa lalu itu bangkit menuntut balas. Saat itu, Arka berada di puncak keyakinannya sebelum akhirnya sebuah kesalahan fatal pada struktur fondasi bangunan membuatnya kehilangan segalanya—reputasi, kepercayaan investor, dan hubungan asmara yang telah ia jalin selama bertahun-tahun dengan wanita yang sempat ia harapkan menjadi pendamping hidupnya. Luka lama itu memang telah menutup seiring berjalannya waktu, meninggalkan bekas berupa kehati-hatian yang berlebihan, tetapi malam ini, bayangan itu mendadak muncul kembali dengan kekuatan penuh yang mencengkeram dadanya.

Arka menatap pantulan wajahnya sendiri di layar laptop yang telah meredup. Perasaan cemas yang asing tiba-tiba menyergap, berbisik pelan di dalam kepalanya bahwa kebahagiaan luar biasa yang ia miliki bersama Reina saat ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Bisikan itu terasa begitu nyata, menyebarkan racun keraguan bahwa suatu hari nanti, segala hal baik ini akan runtuh seketika dan meninggalkannya dalam kehancuran yang sama seperti masa lalu. Ia merasa tidak layak mendapatkan ketulusan dan cinta sebesar yang diberikan oleh Reina, seolah-olah takdir sedang bersiap merenggut semuanya darinya sebagai hukuman atas kegagalan-kegagalan lamanya.

"Arka? Belum tidur?" suara lembut Reina tiba-tiba memecah keheningan ruangan. Wanita itu mengubah posisinya di atas sofa, mengucek matanya pelan sambil menatap Arka dengan pandangan penuh rasa khawatir yang terpancar jelas di balik binar matanya yang masih mengantuk.

Arka terkesiap kecil, segera menepis bayangan kelam di kepalanya dan memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya. "Belum, Reina. Sedikit lagi selesai," jawab Arka dengan suara yang diusahakan agar terdengar senormal mungkin, menyembunyikan getaran halus yang masih tertinggal di dalam dadanya. "Maaf, apakah suaraku tadi mengganggu tidurmu?"

❖ ❖ ❖

Bagi Arka, tujuan utamanya malam ini sebenarnya sangat sederhana: merampungkan revisi dokumen proyek agar esok hari ia bisa menikmati waktu luang sepenuhnya bersama Reina tanpa beban pekerjaan. Namun, seiring dengan munculnya bayang-bayang kegagalan lama yang menghantui pikirannya, tujuan bawah sadar Arka bergeser secara drastis. Kini, ia terdorong oleh sebuah insting perlindungan diri yang keliru—ia ingin menguji ketahanan hubungannya sendiri, atau lebih buruk lagi, mencari-cari celah dan alasan tersembunyi mengapa ia mungkin tidak pantas bersanding dengan wanita sebaik Reina. Rasa takut akan kehilangan membuat Arka tanpa sadar mulai memasang kembali tembok pertahanan emosional yang telah lama runtuh.

Di sisi lain, Reina memiliki tujuan yang sangat bertolak belakang dengan ketakutan tak beralasan yang sedang melanda Arka. Sebagai seseorang yang telah menemani Arka melewati berbagai fase naik turun dalam hidupnya, tujuan Reina malam itu adalah memberikan rasa aman sepenuhnya kepada pria yang dicintainya. Ia ingin memastikan bahwa Arka tidak merasa sendirian menghadapi tekanan pekerjaan yang berat, serta meyakinkan pria itu bahwa masa lalu yang kelam tidak memiliki kuasa apa pun atas masa depan yang sedang mereka bangun bersama dengan penuh cinta dan kerja keras.

Reina bangkit dari sofa, melangkah perlahan menghampiri meja kerja Arka dengan selimut kasmir yang masih melilit longgar di bahunya. Aroma wangi lavender yang menenangkan menguar dari tubuhnya, langsung menyapa indra penciuman Arka dan menciptakan kontras yang tajam dengan kekacauan batin yang sedang berkecamuk di dalam kepala sang arsitek. Reina meletakkan kedua tangannya di atas bahu Arka, memberikan pijatan lembut yang bertujuan untuk melunturkan ketegangan otot-otot di tubuh pria itu setelah berjam-jam duduk membungkuk di depan layar komputer.

"Kau terlalu memforsir dirimu, Arka," bisik Reina lembut tepat di dekat telinga Arka, suaranya mengandung limpahan perhatian yang tulus. "Pekerjaan ini bisa dilanjutkan besok pagi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Kau butuh istirahat, bukan siksaan."

Arka memejamkan matanya sejenak menikmati sentuhan hangat tangan Reina di bahunya, namun bayangan-bayangan kegagalan lama itu justru semakin mendesak maju ke permukaan, menolak untuk diredakan begitu saja oleh kelembutan sang kekasih. "Bagaimana jika proyek ini gagal lagi, Reina?" ucap Arka tiba-tiba, suaranya terdengar serak dan begitu rapuh, jauh berbeda dari nada percaya diri yang biasa ia tunjukkan di hadapan publik. "Bagaimana jika semua usaha yang kita bangun ini pada akhirnya bernasib sama seperti proyekku di Palembang lima tahun lalu—hancur berkeping-keping dan mengecewakan semua orang?"

Mendengar kalimat itu, gerakan tangan Reina di bahu Arka terhenti seketika. Alis mata wanita itu sedikit berkerut, merasakan ada beban emosional yang jauh lebih berat sedang mencengkeram batin pria di hadapannya. Tujuan Reina kini bergeser menjadi upaya penyelamatan emosional; ia harus menghentikan pikiran destruktif Arka sebelum ketakutan tak beralasan itu merusak kedamaian yang telah mereka pupuk dengan susah payah selama bertahun-tahun.

"Arka, dengarkan aku," kata Reina tegas namun penuh kelembutan. Ia memutar kursi kerja Arka agar pria itu menghadap langsung kepadanya, memaksa Arka untuk menatap matanya secara langsung. "Kau bukan Arka yang berada di Palembang lima tahun lalu. Kau sudah belajar, kau sudah bertumbuh, dan proyek ini... rancangan ini adalah karya terbaik yang pernah kubur an-saksikan dari tanganmu. Kenapa tiba-tiba kau meragukan dirimu sendiri seperti ini?"

❖ ❖ ❖

Transisi dari percakapan santai bernada lelah menuju konfrontasi emosional yang mendalam terjadi begitu cepat, mengubah atmosfer di ruang kerja yang tadinya tenang menjadi penuh dengan ketegangan batin. Cahaya temaram dari lampu meja kerja menyoroti separuh wajah Arka yang tampak kuyu, memperlihatkan bayangan keraguan dan kecemasan yang selama ini tersembunyi rapat di balik senyuman tenangnya. Reina berdiri tepat di hadapannya, kedua tangannya kini memegang kedua sisi wajah Arka, berusaha menahan pria itu agar tidak lari dari kenyataan dan ketakutannya sendiri.

"Aku tidak meragukan rancanganku, Reina," sanggah Arka pelan, pandangannya menerawang menembus bahu Reina ke arah dinding kamar. Suaranya terdengar getir, mencerminkan pergolakan jiwa yang hebat. "Yang aku ragukan adalah... kebahagiaan ini. Rasanya semuanya berjalan terlalu lancar, terlalu sempurna di antara kita berdua. Di masa lalu, setiap kali aku merasa semuanya sudah berada di jalur yang benar, takdir selalu menemukan cara untuk menghancurkannya berkeping-keping. Aku takut... aku sangat takut hal yang sama terulang kembali padamu."

Pengakuan blak-blakan itu meluncur begitu saja dari bibir Arka, membuka luka lama yang selama ini ia tutup rapat-rapat di balik topeng profesionalisme dan ketenangan yang ia pamerkan sehari-hari. Bagi Arka, rasa takut akan kegagalan bukan lagi sekadar ketakutan profesional, melainkan sebuah fobia emosional bahwa ia tidak pantas mendapatkan cinta dan kedamaian yang diberikan oleh Reina. Ia merasa dirinya seperti kutukan yang cepat atau lambat akan menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam kehancuran.

Reina tertegun mendengar kejujuran yang menyayat hati itu. Kilau air mata haru dan kepedihan seketika menggenang di pelupuk matanya. Selama ini, ia tahu bahwa Arka adalah pria yang menyimpan banyak bekas luka di masa lalunya, tetapi ia tidak pernah menyadari betapa dalam akar ketakutan tersebut tertanam di dalam jiwa pria yang dicintainya. Transisi emosional ini menyadarkan Reina bahwa pertempuran terbesar Arka bukanlah melawan para klien yang sulit atau kendala teknis di lapangan, melainkan melawan hantu masa lalunya sendiri yang terus berbisik bahwa ia tidak ditakdirkan untuk bahagia.

"Arka, lihat aku," pinta Reina dengan suara bergetar namun sarat akan ketegasan yang luar biasa. Ia mengusap pipi Arka dengan ibu jarinya, menyalurkan seluruh kehangatan dan keyakinan yang ia miliki ke dalam tubuh pria itu. "Kau pikir kebahagiaan ini terjadi karena kebetulan? Kau pikir aku memilih berada di sisimu selama ini karena aku kasihan padamu? Tidak, Arka. Aku mencintaimu bukan karena kau sempurna atau tidak pernah gagal, tapi karena aku melihat bagaimana kau bangkit dari abu kehancuranmu di masa lalu dan menjelma menjadi pria yang luar biasa seperti sekarang."

Arka menatap mata Reina yang basah oleh air mata ketulusan. Ada sengatan listrik halus yang menjalar dari tatapan itu langsung ke relung hatinya yang paling dingin. Transisi dari rasa cemas yang melumpuhkan menuju kehangatan pengakuan cinta yang tulus mulai mencairkan pertahanan diri Arka perlahan-lahan. Namun, bayang-bayang kegagalan lama itu terlalu kuat berakar, membuat pria itu masih menarik napas dengan berat, seolah udara di dalam ruangan tersebut tiba-tiba menjadi sangat tipis dan sulit dihirup.

"Tapi bagaimana jika aku mengecewakanmu, Reina?" bisik Arka putus asa, kepalanya menunduk menyandarkan dahi di dada wanita itu. "Bagaimana jika aku tidak mampu memberikan masa depan yang aman sepertinya yang kau layak dapatkan, dan semua ini berakhir seperti dulu?"

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya