Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #47

Tawaran Pekerjaan di Luar

Malam merayap perlahan menuruni dinding-dinding kaca gedung pencakar langit, membawa serta gemerlap lampu kota yang mulai berpendar bagaikan taburan berlian di atas hamparan permadani hitam beludru. Di dalam ruang kerja sudut lantai dua belas yang kedap suara itu, suasana terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh dengung halus mesin pendingin ruangan dan ketukan ritmis jam dinding antik berbentuk persegi. Jarum panjang menunjuk tepat ke angka dua belas, sementara jarum pendek merayap mendekati pukul sepuluh malam. Udara di dalam ruangan terasa sejuk, hampir dingin, namun keringat tipis justru tampak merembes di pelipis Arka yang duduk terpaku di balik meja kerjanya yang luas dan tertata rapi.

Di atas permukaan meja kayu jati tua itu, tergeletak selembar amplop cokelat tebal dengan logo perusahaan multinasional terkemuka tercetak rapi di sudut kiri atasnya. Di samping amplop tersebut, secangkir kopi hitam yang tadinya mengepul kini telah mendingin sepenuhnya, menyisakan permukaan cairan yang tenang tanpa pantulan cahaya lagi. Arka mengenakan kemeja putih lengan panjang yang bagian pergelangannya sudah dilipat rapi ke atas, memperlihatkan urat-urat nadi di tangannya yang menegang akibat membaca isi surat resmi di dalam amplop tersebut berulang-ulang kali, seolah ia sedang berharap kata-kata di atas kertas itu akan berubah dengan sendirinya jika dibaca sekali lagi.

Sementara itu, beberapa meter dari meja kerja Arka, Niskala duduk bersandar tenang di atas sofa panjang berlapis kain suede abu-abu. Ia mengenakan mantel rajut tebal berwarna krem yang membalut tubuhnya, memegang secangkir teh chamomile hangat yang uapnya masih mengepul pelan. Dari tempat duduknya, Niskala mengamati setiap gerak-gerik Arka melalui pantulan kaca jendela besar yang memperlihatkan lanskap malam kota di luar. Ia tahu ada sesuatu yang sangat berat sedang berkecamuk di dalam pikiran pria itu sejak amplop tersebut diantarkan oleh kurir sore tadi.

"Arka," panggil Niskala pelan, suaranya memecah keheningan ruangan dengan lembut, bagaikan embusan angin malam yang menyentuh dahan-dahan pohon yang rapuh. "Kau sudah membaca surat itu lebih dari sepuluh kali. Apa isinya benar-benar seberat itu hingga membuat bayangan di wajahmu tampak begitu kelam?"

Arka mendongak perlahan, menatap mata Niskala dengan sorot yang sarat akan kebingungan dan beban batin yang teramat sangat. "Ini bukan sekadar surat biasa, Niskala," jawab Arka lirih, suaranya terdengar parau dan lelah. "Surat ini adalah jawaban atas lamaran posisi direktur operasional regional yang kuajukan enam bulan lalu, sebelum kita melewati semua badai ini bersama. Dan mereka... mereka menerimaku."

❖ ❖ ❖

Kabar diterimanya Arka untuk posisi prestisius tersebut seharusnya menjadi sebuah puncak pencapaian karier yang paling diimpikan oleh setiap profesional muda di kota ini. Namun, di bawah lampu temaram ruang kerja itu, berita tersebut justru menjelma menjadi sebuah ujian terberat yang menguji fondasi hubungan mereka yang baru saja dibangun di atas kejujuran dan air mata. Arka kini dihadapkan pada sebuah tujuan hidup yang saling bertubrukan secara frontal: di satu sisi, ia memiliki ambisi profesional untuk mengembangkan karier, membuktikan kapasitas diri, dan meraih posisi puncak yang telah ia dambakan sejak awal mula meniti dunia kerja; di sisi lain, ia memiliki tujuan yang jauh lebih mulia dan rapuh, yaitu menjaga komitmen cintanya pada Niskala dan memastikan bahwa mereka tidak akan pernah terpisahkan lagi oleh jarak dan ego setelah apa yang telah mereka lalui bersama.

"Diterima di kantor pusat regional di luar kota... itu artinya kesempatan besar untuk masa depan kita, Arka," ucap Niskala dengan nada suara yang berusaha ditegarkan, meskipun ada getaran halus yang tidak bisa disembunyikan di balik kalimatnya. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kecil di sebelah sofa, lalu berdiri perlahan dan melangkah mendekati meja kerja Arka.

Arka menggelengkan kepalanya perlahan, jemarinya meremas tepi kertas surat itu hingga sedikit berkerut. "Tapi penempatannya bukan di sini, Niskala. Kantor pusat itu berada di kota pesisir seberang pulau, berjarak ratusan kilometer dari tempat kita berdiri sekarang. Itu artinya aku harus pindah ke sana sepenuhnya paling lambat awal bulan depan."

Mendengar kata-kata itu, Niskala merasakan hantaman telak di dadanya, seolah udara di dalam ruangan mendadak tersedot habis. Namun, ia tidak lantas mundur atau memasang topeng senyuman palsu seperti kebiasaannya di masa lalu. Ia tetap berdiri tegak di hadapan Arka, menatap mata pria itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. "Lalu, apa tujuanmu sekarang, Arka? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari semua ini?" tanya Niskala langsung pada inti permasalahan, menuntut kejujuran mutlak sesuai dengan janji yang telah mereka ikrarkan sebelumnya.

Arka bangkit dari kursi kerjanya, memutari meja untuk berdiri berhadapan langsung dengan Niskala. Jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah saja. "Tujuanku selama ini selalu sederhana, Niskala: aku ingin sukses agar aku bisa hidup tenang tanpa rasa takut tidak berharga," ucap Arka dengan napas berat. "Tapi tujuan itu mendadak menjadi kabur ketika aku menyadari bahwa kesuksesan di luar sana akan menuntutku untuk meninggalkanmu di sini. Aku tidak mau pergi, tapi aku juga tahu tawaran ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali dalam hidupku."

Tujuan mereka malam ini bukan lagi mencari solusi praktis yang instan, melainkan menimbang bobot antara dua hal yang sama-sama berharga bagi kelangsungan hidup mereka: masa depan karier yang menjanjikan atau kebersamaan cinta yang baru saja mereka menangkan dengan susah payah dari cengkeraman trauma masa lalu.

❖ ❖ ❖

Perubahan atmosfer di dalam ruangan itu terasa begitu pekat, seolah gravitasi bumi mendadak berlipat ganda dan menindih pundak keduanya. Transisi dari perbincangan profesional menuju ranah emosional yang sangat personal ditandai oleh keheningan panjang yang menyusul pengakuan Arka. Tidak ada lagi suara ketukan jam dinding yang terdengar; yang ada hanyalah deru napas berat yang ditarik bergantian di tengah ruangan yang semakin terasa sempit.

Niskala menundukkan pandangannya sejenak, menatap lantai keramik yang memantulkan bayangan lampu plafon, sebelum kembali mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke dalam mata Arka. Transisi emosional ini menuntut kedewasaan luar biasa dari keduanya, karena mereka harus melepaskan ego masing-masing demi mendengarkan isi hati yang sebenarnya dari pasangan mereka.

"Arka," kata Niskala pelan, suaranya terdengar begitu tenang namun mengandung kekuatan batin yang luar biasa besar. "Jangan jadikan aku sebagai alasan tunggal untuk menolak masa depanmu. Jika aku menjadi beban yang menahan langkahmu naik ke atas, maka aku telah gagal menjadi pendamping yang baik bagimu."

Arka langsung menggelengkan kepalanya dengan penuh penolakan, jemarinya terulur untuk menggenggam kedua tangan Niskala yang terasa dingin. "Kamu bukan beban, Niskala! Kamu adalah rumahku. Untuk apa aku mengejar puncak dunia kalau pada akhirnya aku harus pulang ke rumah yang kosong tanpamu di sisiku?" sergah Arka, nada suaranya meninggi sedikit, menunjukkan betapa besar ketakutan yang ia rasakan di balik tawar-menawar karier tersebut.

Transisi ini menjembatani dua kutub yang saling bertolak belakang: antara logika ambisi profesional dan insting perlindungan cinta kasih. Ruangan kerja formal itu kini telah berubah fungsi menjadi arena pertarungan batin yang suci, tempat di mana dua manusia yang saling mencintai harus memutuskan arah hidup mereka selanjutnya di bawah bayang-bayang perpisahan jarak jauh yang menakutkan.

"Duduklah di sini bersamaku," ajak Niskala lembut sambil menarik tangan Arka untuk membimbingnya duduk berdampingan di atas sofa panjang, meninggalkan amplop cokelat itu tergeletak sepi di atas meja kerja di seberang sana.

Arka menuruti ajakan itu, duduk bersisian dengan Niskala, membiarkan bahu mereka saling bersentuhan. Transisi fisik ini membawa mereka pada zona kenyamanan darurat, memberikan sedikit kehangatan di tengah badai dilema yang siapmenerjang hubungan mereka kapan saja.

❖ ❖ ❖

Begitu mereka duduk berdampingan, rintangan psikologis yang sesungguhnya mulai menghantam benak masing-masing dengan kekuatan penuh, menjelma menjadi monster-monster keraguan yang siap mencabik-cabik ketenangan yang baru saja dibangun. Trauma masa lalu tentang hubungan jarak jauh, pengabaian emosional, dan ketakutan akan hilangnya kehadiran fisik orang tersayang mendadak berteriak nyaring di dalam kepala mereka.

Hubungan jarak jauh tidak akan pernah berhasil, bisik suara sinis di dalam benak Arka, mengungkit memori buruk kegagalan rekan-rekan kerjanya di masa lalu. Dalam hitungan bulan, kesibukan di kota baru akan menggerus komunikasi kita, dan pada akhirnya kita akan menjadi orang asing bagi satu sama lain.

Lihat selengkapnya