Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #48

Ketakutan yang Kembali Menghantui

Matahari sore baru saja meluncur turun di balik jajaran bukit hijau di pinggiran kota, menyapukan bias jingga kemerahan yang dramatis ke seluruh penjuru rumah mungil Arjuna dan Kirana. Suasana di dalam ruang tamu terasa begitu tenang, diisi oleh alunan musik instrumental piano yang mengalir lembut dari pemutar cakram digital di sudut ruangan. Aroma teh chamomile hangat yang baru diseduh mengepulkan uap tipis, berpadu dengan wangi samar lilin aromaterapi beraroma kayu manis yang sengaja dinyalakan untuk menghangatkan udara menjelang datangnya petang. Di luar jendela, angin musim semi berembus sepoi-sepoi, menggoyangkan dahan-dahan pohon mawar putih yang baru saja mereka tanam di halaman belakang beberapa waktu lalu.

Kirana duduk bersandar di sofa beludru abu-abu, memegang cangkir keramik putih dengan kedua tangannya. Matanya menatap kosong ke arah layar laptop yang menyala di atas meja kopi, menampilkan sebuah surel resmi dari kantor pusat perusahaan tempat suaminya dulu bekerja sebelum masa pemulihan panjang. Sementara itu, Arjuna baru saja melangkah keluar dari kamar mandi lantai atas, mengenakan kaus katun hitam longgar dengan rambut basah yang tersisir rapi ke belakang. Langkah kaki Arjuna terdengar berderit pelan di atas lantai kayu menuruni tangga menuju ruang keluarga, membawa serta ketenangan yang selama ini selalu berhasil meredakan badai di kepala Kirana.

"Kau sudah selesai memeriksa berkas-berkas itu, Na?" tanya Arjuna lembut sambil melangkah mendekat dan mengambil tempat duduk tepat di samping istrinya. Ia merapatkan posisi duduk mereka, lalu melingkarkan sebelah lengannya ke bahu Kirana, memberikan kehangatan fisik yang selalu mampu menenangkan.

Kirana menoleh perlahan, memaksakan sebuah senyukan tipis di bibirnya meskipun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan getaran kecemasan yang tiba-tiba melanda. Ia menutup layar laptop di hadapannya dengan gerakan pelan, seolah ingin menyembunyikan sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Belum sepenuhnya selesai, Ar. Hanya... ada beberapa hal yang baru saja aku baca dari surel itu, dan itu membuatku sedikit berpikir ulang."

Arjuna mengernyitkan dahi, merasakan perubahan drastis pada energi tubuh Kirana yang bersandar di sisinya. Tubuh istrinya terasa sedikit kaku, tidak seperti biasanya yang selalu rileks ketika berada di dekatnya. "Berpikir ulang tentang apa? Apakah ada masalah dengan administrasi asuransi atau pemulihan kerjamu yang kemarin?"

"Bukan masalah administrasi, Ar," jawab Kirana pelan, suaranya terdengar begitu rapuh, nyaris berbisik di antara alunan musik instrumental yang mengalun pelan. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja dengan hati-hati, lalu menundukkan kepala, menatap jemarinya sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. "Surel itu... dari divisi penugasan luar kota. Mereka menanyakan kapan kau siap untuk melakukan perjalanan dinas singkat ke cabang regional untuk peninjauan proyek akhir tahun."

Mendengar kata-kata itu, udara di dalam ruang keluarga seolah mendadak membeku. Kalimat sederhana tersebut bekerja bagaikan kunci raksasa yang membuka kembali kotak Pandora berisi memori kelam yang sudah berbulan-bulan terkubur rapat di dasar hati Kirana. Perjalanan dinas jarak jauh. Kata-kata itu memicu gelombang ketakutan yang begitu dahsyat, menghantam dada Kirana hingga napasnya terasa sesak seketika. Bayangan tentang hari-hari di mana Arjuna harus pergi berhari-hari meninggalkan rumah, dering telepon di tengah malam, dan ketakutan luar biasa bahwa suatu hari suaminya tidak akan pernah kembali lagi dari perjalanan jauh mendadak bangkit dengan sangat jelas, seolah baru saja terjadi kemarin sore.

❖ ❖ ❖

"Perjalanan dinas?" ulang Arjuna dengan nada suara yang mencerminkan keterkejutan yang sama besarnya. Ia menatap wajah Kirana lekat-lekat, menyadari betapa pucatnya kulit istrinya saat ini. "Tapi aku kan baru saja melewati masa pemulihan. Kenapa mereka sudah membicarakan penugasan luar kota?"

"Karena status kepegawaianmu sudah dipulihkan sepenuhnya oleh bagian personalia, Ar," jelas Kirana dengan suara yang mulai bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mengancam akan tumpah kapan saja. Ia mengangkat kepalanya, menatap Arjuna penuh memohon. "Dan tujuan mereka jelas—mereka menganggap kau sudah pulih total, sehingga kewajiban lamamu sebagai kepala divisi proyek harus segera diemban kembali. Termasuk perjalanan jarak jauh ke luar pulau."

Melihat ketakutan yang begitu nyata terpancar di wajah Kirana, Arjuna langsung menggeser posisinya sepenuhnya menghadap ke arah sang istri. Ia merengkuh kedua tangan Kirana yang terasa dingin es, lalu menggenggamnya erat-erat di antara telapak tangannya yang hangat. Arjuna tahu persis apa yang sedang bergejolak di dalam kepala istrinya. Trauma itu bukan sekadar rasa cemas biasa; itu adalah luka psikologis mendalam yang tertanam akibat pengalaman pahit di masa lalu, ketika jarak fisik dan keterpisahan waktu hampir merenggut nyawa Arjuna di ruang operatif rumah sakit jauh dari rumah.

"Na, dengarkan aku," ucap Arjuna dengan nada suara yang sangat tenang, berusaha menjadi jangkar yang kokoh di tengah badai kepanikan yang melanda jiwa istrinya. "Aku tidak akan pergi ke mana pun tanpa persetujuanmu. Tujuan kita sekarang adalah membangun hidup bersama di sini, di rumah ini, bukan kembali terjerumus ke dalam rutinitas toksik yang memisahkan kita."

Kirana menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Bukan itu masalahnya, Ar. Aku tahu kau tidak akan pergi sembarangan. Tapi fakta bahwa perusahaan mulai meminta hal itu... fakta bahwa dunia luar mulai menuntut kehadiranmu kembali di luar kota... itu membuatku sadar betapa rapuhnya kedamaian yang kita miliki sekarang. Aku takut, Ar. Aku takut ditinggal pergi lagi."

Ketakutan itu adalah musuh terbesar mereka saat ini. Tujuan Kirana bukanlah mengekang Arjuna atau menghalangi karier suaminya, melainkan melindungi keutuhan keluarga kecil mereka dari bayang-bayang perpisahan yang pernah hampir menghancurkan segalanya. Selama berbulan-bulan merawat Arjuna, Kirana telah mendedikasikan seluruh jiwa raganya untuk memastikan suaminya tetap bernapas di sisinya. Gagasan tentang Arjuna harus naik pesawat lagi, tinggal di hotel sendirian di kota lain, dan menghadapi kelelahan fisik jauh dari jangkauan pengawasannya adalah mimpi buruk paling mengerikan yang sanggup ia bayangkan.

"Aku tidak akan pernah membiarkan jarak memisahkan kita lagi, Na," janji Arjuna tulus, ibu jarinya dengan lembut mengusap air mata yang menetes di pipi Kirana. "Tujuanku saat ini bukan lagi jabatan, bukan lagi proyek besar di luar kota, melainkan memastikan kau merasa aman di sisiku setiap hari. Kita bisa menolak penugasan itu. Atau aku bisa mengajukan pengunduran diri secara permanen jika memang kehadiran fisikku di luar kota menjadi ancaman bagi ketenangan jiwamu."

"Jangan bicara begitu, Ar," protes Kirana di sela-sela isak tangisnya. "Pekerjaan itu penting untuk masa depan kita, untuk stabilitas finansial kita..."

"Stabilitas finansial apa yang kita cari kalau kau hidup dalam ketakutan setiap kali ada surel masuk?" potong Arjuna tegas namun penuh kelembutan. "Dengarkan aku, Na. Apapun keputusan yang akan kita ambil nanti, kita akan ambil bersama. Tujuanku malam ini adalah membuatmu percaya bahwa tidak ada yang bisa membawaku pergi darimu lagi. Aku di sini. Di sampingmu. Dan tidak ada perjalanan jarak jauh yang lebih penting daripada keselamatan dan ketenangan jiwa istriku."

Kata-kata itu sedikit demi sedikit meredakan gemetar di tubuh Kirana. Meskipun rasa takut itu belum sepenuhnya hilang, kehadiran Arjuna yang begitu kokoh dan penuh pengertian mulai membendung gelombang kepanikan yang sempat melumpuhkan akal sehatnya. Ruang keluarga itu kembali diselimuti oleh keheningan yang sarat emosi, di mana dua hati berusaha saling menguatkan di tengah bayang-bayang trauma masa lalu yang sewaktu-waktu bisa datang menghantui.

❖ ❖ ❖

Perlahan-lahan, isak tangis Kirana mereda, menyisakan helaan napas panjang yang terdengar berat di tengah keheningan senja. Arjuna tetap mempertahankan posisi duduknya, merangkul pundak istrinya dengan penuh kehangatan, membiarkan Kirana bersandar di dadanya hingga detak jantung suaminya yang teratur dan stabil meresap ke dalam jiwa wanita itu. Suara musik instrumental piano di sudut ruangan terus mengalun pelan, mengiringi transisi emosional dari kepanikan yang mencengkeram menuju ketenangan batin yang mulai pulih.

"Sudah merasa lebih baik, Hmm?" bisik Arjuna lembut tepat di dekat telinga Kirana, jemarinya dengan sabar merapikan helai rambut istrinya yang berantakan.

Kirana mengangguk pelan tanpa mengubah posisinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma sabun mandi dan wangi khas tubuh Arjuna yang selalu berhasil memberikan rasa aman baginya. "Maafkan aku, Ar," suaranya terdengar serak. "Aku tahu aku terlalu berlebihan. Seharusnya aku tidak langsung panik seperti tadi hanya karena sebuah surel penugasan."

"Jangan pernah meminta maaf untuk perasaanmu, Na," balas Arjuna tegas. "Trauma itu bukan sesuatu yang bisa dipadamkan dengan saklar lampu. Wajar jika kau merasa takut. Kita sudah melewati hal-hal yang sangat berat bersama-sama, dan wajar jika bayangan masa lalu itu masih meninggalkan bekas."

Transisi dari momen kepanikan menuju percakapan yang lebih tenang itu terjadi secara natural, berkat kesabaran dan empati luar biasa yang ditunjukkan oleh Arjuna. Pria itu sama sekali tidak menghakimi ketakutan istrinya, tidak pula menganggap sepele apa yang dirasakan Kirana. Sebaliknya, ia memvalidasi setiap rasa sakit dan kecemasan tersebut, menjadikan dirinya sebagai benteng pertahanan mental bagi wanita yang dicintainya.

Setelah beberapa saat menikmati keheningan dalam pelukan itu, Arjuna perlahan melepaskan rangkulannya, lalu menatap wajah Kirana dengan senyuman menenangkan. "Bagaimana kalau kita buatkan secangkir teh chamomile hangat lagi untukmu? Yang tadi sudah dingin."

Kirana tersenyum tipis, mengangguk setuju. "Biar aku saja yang buat, Ar. Kau duduk saja di sini."

"Tidak, biarkan aku yang melayanimu kali ini," kata Arjuna sambil berdiri dari sofa.

Ia melangkah menuju dapur terbuka, bergerak dengan tenang dan terukur. Kirana memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dari kejauhan. Melihat Arjuna berjalan dengan tegap, menyiapkan air panas, dan meracik daun teh di dalam cangkir keramik memberikan ketenangan visual yang luar biasa bagi Kirana. Setiap tindakan kecil itu adalah bukti nyata bahwa Arjuna ada di sini, di hadapannya, hidup dan sehat, bukan lagi sosok rapuh yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus menempel di lengannya.

Beberapa menit kemudian, Arjuna kembali membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa keping biskuit gandum buatan rumah. Ia meletakkannya di atas meja kopi, lalu duduk kembali di samping Kirana. Transisi suasana malam itu berubah dari ketegangan yang mencekam menjadi kehangatan domestik yang menenangkan, seolah badai emosi beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.

"Minumlah selagi hangat," ujar Arjuna, menyerahkan cangkir tersebut kepada Kirana.

Kirana menerima cangkir itu, merasakan uap panas yang mengepul menerpa telapak tangannya. Ia meneguknya perlahan, merasakan kehangatan cairan herbal tersebut mengalir di tenggorokannya, meredakan sisa-sisa sesak di dadanya. Transisi emosional yang mulus itu membuktikan bahwa ikatan di antara mereka jauh lebih kuat daripada bayang-bayang ketakutan apa pun yang mencoba merusak kedamaian rumah tangga mereka.

❖ ❖ ❖

Namun, ketenangan yang baru saja mereka raih kembali diuji ketika malam semakin larut. Ketika jarum jam dinding antik di ruang keluarga menunjukkan pukul sembilan malam, tiba-tiba suara dering telepon genggam milik Arjuna yang tergeletak di atas meja kopi berdering nyaring, memecah kesunyian malam dengan suara yang menghentak.

Arjuna dan Kirana terperanjat kecil. Layar ponsel yang menyala terang di tengah temaram lampu ruangan menampilkan nama pemanggil yang membuat darah Kirana mendadak berdesir dingin: Direktur Operasional Kantor Pusat.

Arjuna menatap layar ponsel tersebut sejenak, lalu melirik ke arah Kirana. Ia melihat bagaimana jemari istrinya langsung mencengkeram erat cangkir teh di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kecemasan yang baru saja mereda kini mendadak bangkit kembali dengan intensitas yang jauh lebih kuat, mengancam untuk merobek pertahanan mental Kirana dalam sekejap.

Lihat selengkapnya