Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Komunikasi yang Mulai Retak

Suasana pagi di ruang kerja apartemen minimalis milik Arka seharusnya menjadi awal hari yang tenang, namun udara terasa begitu pengap oleh ketegangan yang tak kasat mata. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Di luar jendela, langit kota Jakarta tampak kelabu, diselimuti kabut tipis dan polusi yang memantulkan cahaya matahari pucat. Deru kendaraan dari jalan raya di bawah terdengar samar-samar, berpadu dengan suara ketukan keyboard laptop yang berderak cepat dan tak beraturan.

Arka duduk terpaku di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas dan cangkir kopi dingin yang sudah setengah kosong. Layar laptopnya menyala terang, memantulkan cahaya kebiruan di wajahnya yang tampak lelah. Ponsel di sisi kanannya bergetar tanpa henti—sebuah notifikasi email masuk yang disusul oleh dering panggilan WhatsApp dari kantor pusat. Tekanan proyek akhir tahun benar-benar menguras energi mental dan fisiknya hingga ke batas maksimal.

Di seberang ruangan, Sasi sedang berdiri di dekat جزيرة dapur kecil sambil menyiapkan sarapan cepat. Suasana di antara mereka berdua terasa begitu dingin, jauh berbeda dari kehangatan yang sempat mereka rasakan di pegunungan beberapa waktu lalu. Sasi bergerak dalam diam, sesekali melirik ke arah Arka dengan tatapan menyiratkan kekecewaan yang dipendam rapat-rapat.

"Arka, kamu jadi menemani ibu sore ini untuk cek kesehatan rutin di rumah sakit?" tanya Sasi memecah keheningan, suaranya terdengar datar namun menyembunyikan nada tuntutan.

Arka tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada layar monitor, jarinya bergerak lincah mengetik balasan email penting kepada klien korporat. "Hmm? Rumah sakit? Oh... iya, soal itu..." Arka menggumam tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar, nadanya terdengar terburu-buru dan acuh tak acuh. "Sasi, bisa tolong ingatkan aku nanti siang? Jadwal meeting dadakan dengan direksi digeser lebih cepat. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan kantor sore ini."

Sasi menghentikan gerakannya memegang cangkir. Ia menatap punggung Arka dengan dahi berkerut. "Meeting dadakan lagi? Arka, kita sudah membicarakan ini sejak minggu lalu. Ini jadwal cek kesehatan ibu yang sudah dijadwalkan sebulan yang lalu, bukan acara santai yang bisa dibatalkan begitu saja."

"Aku tahu, Sasi. Tapi kamu juga tahu posisiku di kantor saat ini sedang diuji," jawab Arka sedikit meninggikan suaranya, jari-jarinya berhenti mengetik dan ia menghela napas panjang dengan kasar. "Kalau aku melewatkan meeting ini, posisi kepala divisi bisa melayang ke tangan orang lain. Kenapa kamu tidak bisa mengerti situasiku sedikit saja?"

"Bukan aku yang tidak mengerti situasimu, Arka!" seru Sasi, rasa lelahnya sendiri akibat urusan kantor mulai tersulut oleh respons defensif Arka. "Kamu selalu punya alasan untuk menunda hal-hal penting di luar pekerjaanmu. Seolah-olah hidupmu hanya berputar di seputar meja kerja dan layar laptop itu!"

❖ ❖ ❖

Ketegangan yang tiba-tiba meletup di pagi hari itu bukan sekadar pertengkaran sepele tentang jadwal dokter, melainkan puncak dari akumulasi kekecewaan yang telah lama dipendam oleh kedua belah pihak. Tujuan awal Arka pagi ini sebenarnya sangat sederhana: ia ingin menyelesaikan laporan evaluasi tahunan secepat mungkin agar bisa fokus pada urusan keluarga di akhir pekan. Namun, tuntutan dari dunia korporat yang tak kenal kompromi sering kali merusak rencana-rencana personal yang telah ia susun rapi.

Di sisi lain, tujuan Sasi sangat jelas dan berakar pada rasa tanggung jawab keluarga. Sebagai anak perempuan yang paling bisa diandalkan, ia ingin memastikan bahwa ibunya mendapatkan perhatian medis yang layak tanpa harus merasa diabaikan oleh anak-anaknya. Sasi tidak meminta banyak; ia hanya menginginkan kehadiran fisik dan dukungan emosional dari Arka—seseorang yang selama ini ia anggap sebagai tempat perlindungan teramannya, namun kini justru tampak mulai menjauh tersedot oleh pusaran ambisi karier.

"Arka, cobalah posisikan dirimu sebentar di tempatku," ucap Sasi dengan nada suara yang mulai melunak, menyembunyikan getaran di dadanya. Ia meletakkan cangkir di atas meja dapur dan berjalan mendekati meja kerja Arka. "Ibu meneleponku semalam, menanyakan apakah kamu akan datang bersama kita. Beliau merindukan kehadiranmu. Selama sebulan terakhir, kapan terakhir kali kita benar-benar duduk dan mengobrol tanpa membicarakan pekerjaan?"

Arka mendesah berat, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Ia memutar kursi kerjanya menghadap Sasi, namun ekspresi wajahnya masih tampak kaku dan sarat akan beban pikiran. "Sasi, aku melakukan semua ini untuk siapa? Aku bekerja membanting tulang siang dan malam agar kita punya kestabilan finansial di masa depan. Kenapa kamu selalu membuatku merasa seolah-olah aku adalah penjahat yang mengabaikan segalanya?"

"Aku tidak pernah bilang kamu penjahat, Arka!" sanggah Sasi cepat, nada suaranya naik satu oktaf karena merasa maksud baiknya disalahartikan. "Tapi kestabilan finansial apa yang kamu banggakan kalau pada akhirnya kita kehilangan waktu untuk saling peduli? Buat apa punya rumah mewah atau tabungan banyak kalau hubungan kita sendiri perlahan-lahan retak dan hancur di tengah jalan?"

"Jangan memutarbalikkan fakta, Sasi," balas Arka dengan nada dingin yang menusuk. "Ini hanya masalah waktu dan prioritas sementara. Kalau saja kamu mau sedikit lebih fleksibel membantu mengurus penjadwalan ibumu tanpa harus menuntutku harus selalu ada di setiap detik, kita tidak perlu bertengkar seperti ini di pagi hari."

Pernyataan terakhir Arka meluncur begitu saja tanpa disaring, didorong oleh emosi sesaat akibat kelelahan luar biasa. Sasi tertegun mendengarnya. Kata-kata itu terasa bagaikan sebuah tamparan keras yang menyadarkannya bahwa prioritas Arka saat ini telah bergeser jauh. Sasi mundur selangkah, menatap Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tujuan Sasi yang tadinya ingin mencari titik temu dan pengertian kini justru membentur dinding ego yang dibangun oleh Arka sendiri.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam apartemen mendadak berubah menjadi dingin dan kaku setelah pertukaran kata-kata yang tajam tersebut. Tidak ada lagi suara ketukan keyboard atau percakapan ringan; yang tersisa hanyalah keheningan yang menyesakkan dada. Sasi membuang muka, meraih tas tangan dan jaketnya dari sofa, lalu melangkah menuju pintu keluar dengan langkah cepat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi debaman pelan yang terasa begitu nyaring di telinga Arka. Laki-laki itu terdiam kaku di kursi kerjanya, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Rasa bersalah langsung menyergap rongga dadanya, namun ego laki-laki yang masih menguasai dirinya membuat Arka enggan beranjak untuk mengejar atau menahan Sasi. Ia kembali membalikkan tubuhnya ke arah layar laptop, berusaha melanjutkan pekerjaannya, namun konsentrasinya telah buyar sepenuhnya. Kalimat-kalimat yang ia ketik mendadak menjadi tidak bermakna.

Perubahan situasi dari perdebatan sengit menuju keheningan yang hampa ini menandai transisi fase konflik dalam hubungan mereka. Di luar sana, jam terus berputar, membawa siang hari yang semakin sibuk. Sasi pergi menuju rumah sakit seorang diri mendampingi ibunya, menanggung rasa kecewa di dalam hati sementara Arka terjebak di antara tumpukan tanggung jawab kantor yang seolah tidak ada habisnya.

Jarak fisik yang tercipta akibat salah paham kecil di pagi hari itu perlahan-lahan berubah menjadi jarak emosional yang semakin melebar. Keduanya sama-sama merasa benar, namun di saat yang sama, keduanya juga sama-sama merasa terluka. Arka mencoba menyibukkan diri dengan menelepon klien dan merapikan spreadsheet keuangan, berharap kesibukan bisa meredam suara hati nuraninya yang terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas kebodohannya berbicara tadi.

"Sial," gumam Arka pelan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menyadari bahwa ia telah salah memilih kata. Sasi tidak bermaksud menyerang kariernya; perempuan itu hanya merasa lelah dan butuh kepastian bahwa mereka masih berada di pihak yang sama.

Namun, roda kehidupan korporat tidak memberi ruang bagi mereka untuk langsung merenung. Pukul satu siang, ponsel Arka berdering nyaring menampilkan nama sang direktur utama di layar. Panggilan darurat mengenai audit proyek besar memaksa Arka untuk segera bersiap-siap meninggalkan apartemen menuju kantor pusat, mengubur dalam-dalam niat awalnya untuk menyusul Sasi dan meminta maaf secara langsung.

❖ ❖ ❖

Setibanya di kantor pusat, Arka langsung disambut oleh suasana kantor yang riuh rendah akibat kedatangan tim auditor eksternal secara mendadak. Tekanan kerja langsung melompat ke level tertingginya. Selama tiga jam berikutnya, Arka terkurung di ruang rapat utama, berdebat mempertahankan data laporan keuangan divisi yang dipimpinnya, menjawab rentetan pertanyaan tajam dari para petinggi perusahaan, dan memastikan tidak ada celah kesalahan sekecil apa pun yang bisa merusak reputasi profesionalnya.

Di tengah kesibukan yang membabi buta itu, pikiran Arka sempat beberapa kali melayang kepada Sasi. Ia tahu persis bahwa pemeriksaan kesehatan ibunya selesai sekitar pukul dua siang. Arka sempat berniat mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan kabar, namun ponselnya terus-menerus berdering dengan panggilan dari divisi lain yang meminta persetujuan dokumen. Rintangan berupa tumpukan beban kerja dan hambatan waktu membuat komunikasi di antara mereka benar-benar terputus total.

Sementara itu, di rumah sakit, Sasi duduk di ruang tunggu klinik spesialis jantung dengan perasaan gundah gulana. Ibunya baru saja selesai menjalani serangkaian tes laboratorium dan konsultasi dokter. Meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kesehatan ibunya relatif stabil, rasa sepi mencengkeram dada Sasi begitu kuat. Ketika ia melihat anak-anak muda lain di ruang tunggu didampingi oleh pasangan atau keluarga mereka yang datang secara utuh, Sasi tidak kuasa menahan rasa sesak di dadanya.

Lihat selengkapnya