Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #73

Menghitung Hari

Matahari sore di Kota Bandung melukis horizon barat dengan gradasi warna ungu keemasan yang menawan, memantul lembut pada permukaan kaca jendela ruang keluarga kediaman Danendra. Pukul 16.45 WIB, suasana di dalam rumah berarsitektur klasik modern itu terasa begitu hangat, semarak, dan dipenuhi oleh aroma harum kue mentega serta bunga segar yang baru saja dikirim oleh vendor dekorasi. Angin pegunungan Lembang berembus sepoi-sepoi melalui pintu kaca balkon yang terbuka lebar, membawa kesejukan yang menenangkan jiwa setelah berhari-hari disibukkan dengan persiapan yang melelahkan.

Di atas sofa beludru berwarna abu-abu terang yang luas, terhampar brosur undangan pernikahan eksklusif, contoh kain brokat berwarna putih gading, serta kalender meja besar yang dilingkari dengan spidol merah tebal. Angka-angka di kalender itu menunjukkan waktu yang semakin mendekati detik-detik paling sakral dalam hidup mereka. Tinggal menghitung hari menuju tanggal pernikahan resmi yang akan menyatukan kembali ikatan sah mereka di hadapan hukum, keluarga, dan Tuhan Yang Maha Esa—sebuah perayaan cinta kedua kalinya yang jauh lebih matang, tulus, dan bermakna.

Arsenio Danendra duduk di samping calon istrinya, mengenakan kemeja linen putih dengan lengan digulung rapi, sementara Kirana tengah sibuk memeriksa daftar tamu undangan di atas tablet miliknya. Di sudut ruangan, Keisha—putri kecil mereka yang tampil cantik dengan dress mini berwarna merah muda—tengah asyik merangkai bunga-bunga kecil di dalam vas kaca kecil, bersenandung riang mengikuti alunan musik instrumental romantis yang mengalir lembut dari pengeras suara ruangan.

"Bagaimana, sayang? Apakah daftar tamunya sudah pas? Jangan sampai ada kolega bisnis penting Ayah yang terlewat, atau nanti pamali," ujar Arsen lembut sambil merangkul pundak Kirana dan mengecup puncak kepala wanita itu penuh kasih sayang.

Kirana tersenyum manis, mematikan layar tabletnya lalu meletakkannya di atas meja kopi marmer. Ia menoleh, menatap wajah pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya kembali di mata hukum negara dengan sorot mata berbinar-binar penuh cinta. "Semua sudah beres, Ar. Daftar tamunya sudah dirampingkan khusus untuk keluarga inti, sahabat terdekat, dan rekan-rekan yang benar-benar menemani kita melewati masa-masa sulit kemarin. Tidak ada lagi formalitas korporat yang berlebihan."

"Baguslah," balas Arsen dengan senyuman hangat yang mempertegas garis rahang tegasnya. "Aku ingin hari itu benar-benar menjadi hari kita berdua, bukan sekadar ajang pamer sosial seperti pesta pernikahan kita di masa lalu."

Suasana sore itu terasa sangat magis, seolah alam semesta berkonspirasi memberikan restu penuh pada kebahagiaan yang telah mereka perjuangkan dengan keringat dan air mata. Menghitung hari menuju pernikahan ini bukan lagi sekadar penantian angka di kalender, melainkan sebuah proses penyembuhan batin yang paripurna, menandakan bahwa lembaran kelam hidup mereka telah sepenuhnya berganti dengan babak baru yang dipenuhi cahaya terang dan kehangatan keluarga yang utuh.

❖ ❖ ❖

Di balik keromantisan sore yang tenang itu, Arsen dan Kirana memiliki sebuah tujuan utama yang sangat spesifik dan sarat nilai emosional: menyelesaikan seluruh detail akhir persiapan pernikahan serta menyamakan visi batin agar hari istimewa nanti benar-benar menjadi perayaan komitmen sejati, bukan sekadar seremoni megah tanpa jiwa. Setelah bertahun-tahun hidup dalam status rujuk secara personal setelah melewati badai perceraian dan konflik warisan, meresmikan kembali pernikahan secara hukum dan agama adalah bentuk validasi mutlak atas keutuhan keluarga kecil mereka.

Tujuan Arsen malam itu mencakup tiga hal krusial: memastikan seluruh rangkaian acara akad dan resepsi intim di Lembang berjalan lancar tanpa ada hambatan teknis, memfinalisasi janji pernikahan suci yang akan ia ucapkan langsung di hadapan Kirana, serta memberikan perhatian penuh kepada Keisha agar anak perempuan itu merasa dilibatkan sepenuhnya dalam kebahagiaan kedua orang tuanya. Ia tidak ingin ada satu pun detail kecil yang terlewat, karena ia tahu betul betapa berartinya momen ini bagi pemulihan psikologis wanita yang sangat dicintainya.

"Kir, bagaimana dengan draf teks janji pernikahan yang kusiapkan semalam? Sudah kaubaca?" tanya Arsen serius sambil menyerahkan selembar kertas bertuliskan tangan kepada Kirana.

Kirana mengambil kertas tersebut dengan kedua tangannya, membaca setiap baris kalimat yang ditulis langsung oleh sang calon suami dengan saksama. Di tengah bacaannya, senyuman haru seketika terkembang di bibirnya, dan matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang membuncah di dadanya.

"Ar... kalimat ini indah sekali," bisik Kirana terbata-bata. "Tidak ada kata-kata kaku atau klise korporat. Semuanya murni kejujuran hatimu."

"Karena aku ingin setiap kata yang kuucapkan di depan penghulu dan di hadapanmu nanti adalah sumpah suci yang keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam," ucap Arsen penuh wibawa namun sarat kelembutan. "Aku ingin dunia tahu bahwa aku, Arsenio Danendra, menyerahkan seluruh sisa hidupku untuk mencintaimu tanpa syarat."

Tujuan suci itu bukan sekadar formalitas adat atau kewajiban sosial; itu adalah manifestasi nyata dari transformasi batin seorang pria yang dulunya arogan dan kini telah menjadi suami serta ayah yang penuh pengabdian. Setiap persiapan kecil yang mereka lakukan bersama—dari pemilihan menu katering hingga penataan kursi tamu—dikerjakan dengan tangan bergandengan dan senyuman di bibir, membuktikan bahwa fondasi pernikahan mereka kali ini dibangun di atas batu karang yang tidak akan pernah bisa dirobohkan oleh badai apa pun.

❖ ❖ ❖

Sinar matahari sore perlahan-lahan meredup, berganti dengan temaram cahaya jingga keemasan yang menyusup lembut melalui celah jendela kaca ruang keluarga. Transisi waktu menjelang malam di kediaman Danendra diiringi oleh perpindahan topik obrolan dari urusan teknis pernikahan menuju mimpi-mimpi personal yang jauh lebih intim dan menghangatkan jiwa.

Arsen melipat kertas teks janji pernikahan itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Ia beranjak dari sofa, berjalan menghampiri meja kecil tempat Keisha sedang asyik merangkai bunga, lalu berlutut sejenak untuk melihat hasil karya putri kecilnya.

"Wah, cantiknya rangkaian bunga ini! Apakah ini untuk hiasan meja di hari pernikahan Papa dan Mama nanti, jagoan?" tanya Arsen lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya.

Keisha mendongak dengan mata berbinar-binar penuh semangat, memperlihatkan vas kecil berisi bunga mawar putih dan baby's breath. "Iya, Papa! Keisha sendiri yang merangkainya supaya nanti saat Papa dan Mama mengucapkan janji pernikahan, bunganya ikut tersenyum melihat kalian!"

Arsen tertawa renyah, mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang yang tulus. "Pasti, sayang. Nanti bunga buatan Keisha akan kita letakkan tepat di tengah meja utama."

Kirana yang melihat pemandangan hangat itu dari sofa merasakan dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa. Transisi dari masa lalu yang penuh air mata, perceraian pahit, dan intrik keluarga menuju momen-momen domestik yang begitu harmonis ini terasa bagaikan sebuah mukjizat hidup yang nyata. Ia berjalan mendekati suami dan anaknya, lalu ikut berlutut merangkul pundak Arsen dari samping.

"Kau mendengar ucapan putri kita, Ar?" bisik Kirana lembut tepat di dekat telinga suaminya. "Kehadiran Keisha adalah bukti terindah bahwa Tuhan memberi kita kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya."

Arsen mendongak menatap istrinya, sorot matanya memancarkan kelembutan mutlak yang hanya diperuntukkan bagi wanita di hadapannya itu. Ia meraih tangan Kirana, mengecup jemari lentik istrinya dengan penuh takzim. "Dan kesempatan kedua itu tidak akan pernah disia-siakan, Kir. Aku berjanji akan menjaga kalian berdua sampai akhir hayatku."

Transisi batin yang mengalir begitu natural itu membawa mereka pada kesadaran penuh bahwa segala penderitaan dan air mata di masa lalu hanyalah harga bimbingan hidup yang harus dibayar untuk menghargai nilai emas dari kebahagiaan yang mereka miliki saat ini. Suasana ruangan berubah menjadi ruang penuh kehangatan emosional, di mana batasan antara masa lalu yang rumit dan masa depan yang cerah melebur menjadi satu tekad bulat untuk melangkah bersama menuju altar suci.

❖ ❖ ❖

Namun, di tengah khidmatnya momen penyusunan persiapan pernikahan dan kehangatan interaksi keluarga kecil tersebut, sebuah rintangan kecil mendadak muncul menguji konsentrasi dan ketenangan mental Arsenio.

Pukul 18.15 WIB, di saat mereka bersiap mengakhiri diskusi sore itu, ponsel pintar milik Arsen yang tergeletak di atas meja marmer tiba-tiba berdering nyaring, memecah keheningan ruangan dengan nada dering khusus yang menandakan panggilan darurat dari kantor pusat korporasi utama di Jakarta.

Arsen melirik layar ponselnya sekilas. Tertera nama direktur operasional utama yang menelepon dengan urgensi tinggi terkait masalah krisis logistik ekspor proyek properti internasional di Singapura yang mendadak mengalami hambatan birokrasi mendadak di pelabuhan akibat regulasi bea cukai baru.

Lihat selengkapnya