Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #86

Pesta Sederhana Penuh Makna


Matahari perlahan-lahan mulai tergelincir ke barat, meninggalkanbias jingga keemasan di atas permukaan Teluk Lampung yang membentang luas. Di halaman belakang sebuah rumah joglo tradisional bercat putih bersih di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung, sore itu tidak tampak kemegahan dekorasi hotel bintang lima atau kilauan lampu kristal yang berlebihan. Yang ada justru hamparan lampu-lampu gantung temaram berbentuk bola bohlam kecil yang digantung di antara dahan-dahan pohon mangga dan ketapang, menciptakan suasana hangat, intim, dan bersahaja. Pucuk-pucuk daun bergesekan pelan diterpa angin laut sore yang sejuk, membawa aroma harum masakan tradisional khas Lampung—gulai taboh, sambal terasi mangga, dan sate ikan—yang mengepul dari meja-meja prasmanan sederhana berbalut kain katun putih polos.

Di sudut halaman yang beralaskan rumput hijau segar, beberapa orang kerabat dekat tampak sibuk menata kursi-kursi kayu jati tua dan bangku-bangku panjang tanpa sandaran. Tidak ada pengawalan ketat dari petugas keamanan berpakaian hitam atau karpet merah panjang seperti saat resepsi megah di gedung mewah sebelumnya. Hari itu, tepat tiga hari setelah akad nikah mereka, Arka dan Reina memilih untuk merayakan kebahagiaan mereka dalam sebuah pesta kebun rumahan yang dihadiri khusus oleh keluarga inti, sahabat-sahabat sejati yang membersamai mereka di masa-masa sulit, serta para tetangga lama yang menyaksikan tumbuh kembang Reina sejak kecil.

Reina tampak begitu memesona dalam balutan dress panjang sederhana berbahan linen putih beraksen bordir tangan khas Lampung di bagian ujungnya. Rambutnya dibiarkan tergerai natural dengan hiasan sekuntum bunga melati segar diselipkan di balik telinganya. Wajahnya memancarkan kelegaan dan kebahagiaan yang jauh lebih murni ketimbang saat ia mengenakan riasan pengantin tebal di hari akad. Di sisi lain, Arka mengenakan kemeja linen lengan panjang berwarna biru muda digulung sampai siku, dipadukan dengan celana bahan katun krem yang santai namun tetap elegan.

"Kau lelah, Reina?" bisik Arka lembut sambil meletakkan nampan berisi gelas-gelas es kelapa muda di atas meja kayu utama.

Reina menggeleng pelan, tersenyum manis menatap suaminya. "Tidak sama sekali, Arka. Justru baru hari inilah aku merasa benar-benar bisa bernapas lega dan menikmati setiap detik kebahagiaan kita," jawab Reina tulus, merapikan kerah kemeja Arka dengan jemarinya.

"Benar kata Reina, Nak. Pesta sederhana seperti inilah yang justru menyisakan kenangan paling abadi di dalam hati," sahut ibunda Reina sambil tersenyum hangat menghampiri mereka berdua, membawa sepiring jaje Bali buatan tangannya sendiri. "Tidak perlu kemewahan untuk merayakan ketulusan cinta."

Di sekeliling mereka, gelak tawa anak-anak kecil berkejaran di atas rumput, sementara para om dan tante sibuk bercengkerama sambil menikmati kudapan sore. Suasana kekeluargaan yang begitu kental mengalir tanpa sekat, meredupkan segala sisa ketegangan dunia korporat yang sempat mencoba mencuri hari bahagia mereka beberapa waktu lalu.

❖ ❖ ❖

Bagi Arka, menggelar pesta sederhana di rumah masa kecil Reina ini memiliki satu tujuan paling hakiki dalam perjalanan hidupnya yang sempat babak belur: membumi, bersyukur, dan berbagi kebahagiaan secara jujur tanpa topeng status sosial atau pencitraan bisnis. Setelah bertahun-tahun hidup dalam pusaran kompetisi korporat yang kejam di Palembang dan Jakarta—di mana setiap senilai uang dihitung dan setiap relasi diukur dari keuntungan materi—Arka ingin hari-hari barunya bersama Reina dimulai dari kesederhanaan yang autentik.

"Tujuanku hari ini sederhana saja, Malik," ucap Arka kepada sahabat setianya yang datang mengenakan kaos polo santai sambil membantu mengangkat kursi tambahan. "Aku ingin menikmati makanan rumahan ini bersama orang-orang yang tidak pernah meninggalkan kami saat kami jatuh miskin dan terpuruk."

Malik tersenyum lebar, menepuk bahu Arka penuh keakraban. "Kau benar, kawan. Kemewahan kemarin itu untuk memuaskan tamu undangan dan relasi bisnis; tapi pesta sore ini... ini murni untuk jiwa kita," balas Malik sambil menyeruput es teh manis di tangannya.

Di sisi lain, Reina memiliki tujuan batin yang selaras dengan suaminya: ia ingin merangkul kembali kehangatan akar keluarganya dan menunjukkan kepada dunia bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh seberapa mahal dekorasi pesta, melainkan oleh seberapa besar rasa syukur dan cinta yang dibagikan kepada sesama. Sebagai wanita yang sempat merasakan pedihnya pengkhianatan dan ketidakpastian hidup di apartemen sempit, Reina tahu betul bahwa senyuman tulus dari para tetangga dan kerabat jauh lebih berharga daripada tepuk tangan meriah orang-orang asing di gedung megah.

"Ibu, nanti pastikan semua tetangga sebelah rumah diundang ya untuk mencicipi gulai buatan Bibi," ujar Reina kepada ibunya saat mereka sibuk menyiapkan piring saji di dekat dapur terbuka.

"Tenang saja, sayang. Semua tetangga sudah berdatangan sejak tadi membantu membakar sate di halaman depan," jawab sang ibu dengan mata berbinar bangga.

Tujuan utama mereka berdua sore itu adalah menciptakan ruang yang aman, hangat, dan penuh cinta kasih tanpa jarak. Di bawah temaram lampu gantung bohlam kuning yang mulai menyala seiring surutnya matahari sore, Arka dan Reina bertekad menjadikan momen ini sebagai fondasi paling kokoh bagi lembaran baru kehidupan pernikahan mereka—sebuah rumah yang dibangun di atas fondasi kesederhanaan, kejujuran, dan kebersamaan yang tulus.

❖ ❖ ❖

Pergantian suasana dari hiruk-pikuk persiapan sore menuju acara inti pesta kebun yang penuh kehangatan itu terjadi tatkala Malik menghidupkan sebuah speaker portabel kecil yang memutar alunan musik akustik gitar berirama syahdu. Suara senar gitar yang dipetik lembut berpadu sempurna dengan deru angin laut yang mulai mendingin, menciptakan latar suara yang menenangkan jiwa. Para tamu undangan—yang terdiri dari keluarga besar, tetangga dekat, dan beberapa rekan kerja setia—mulai duduk melingkar di atas kursi-kursi kayu, menikmati hidangan sederhana yang tersaji di atas meja panjang.

Transisi visual dari terangnya cahaya matahari sore menjadi temaramnya lampu bohlam kuning gantung memberikan efek magis yang seketika mengubah halaman belakang rumah joglo itu menjadi sebuah ruang keintiman yang luar biasa. Arka berdiri di tengah-tengah halaman, mengangkat gelas es kelapa mudanya tinggi-tinggi untuk menarik perhatian seluruh yang hadir.

"Selamat sore semuanya, dan terima kasih banyak sudah meluangkan waktu datang ke rumah sederhana ini," ucap Arka dengan suara lantang namun penuh kehangatan, tersenyum tulus menatap satu persatu wajah orang-orang tercinta di sekelilingnya.

Suara obrolan riuh seketika mereda, digantikan oleh tatapan penuh perhatian dari para tamu undangan. Reina berdiri tepat di samping Arka, merapatkan tubuhnya sambil menggenggam jemari suaminya dengan erat.

"Banyak dari kalian yang tahu bagaimana beratnya perjalanan hidup kami berdua hingga bisa sampai di titik hari ini," lanjut Arka dengan nada suara yang sedikit bergetar karena rasa haru. "Hari ini, kami tidak ingin merayakannya dengan kemewahan, melainkan dengan membagikan kebahagiaan ini bersama orang-orang yang benar-benar tulus mencintai dan mendoakan kami di saat susah maupun senang."

Gema ucapan Arka itu disambut oleh tepuk tangan hangat dan riuh dari seluruh kerabat yang hadir. Sang ayah mertua, yang duduk di barisan depan bersama istrinya, tampak menyeka sudut matanya dengan sehelai sapu tangan, merasa bangga melihat kedewasaan dan ketulusan sikap menantunya tersebut.

Transisi emosional dari rasa haru menuju kegembiraan yang cair langsung terasa ketika musik akustik mulai mengalun lebih ceria, dan para tamu dipersilakan untuk mengambil hidangan prasmanan yang mengepulkan aroma harum rempah-rempah tradisional. Suasana kekeluargaan yang cair seketika menghapus segala batasan formalitas, mengubah pesta sore itu menjadi perayaan cinta yang paling murni dan membumi.

Lihat selengkapnya