Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #91

Menikmati Setiap Detik


Matahari pagi di Teluk Betung, Bandar Lampung, merangkak naik dengan perlahan, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan air laut yang tenang seperti cermin raksasa. Pukul enam lewat seperempat pagi, udara masih terasa begitu segar, membawa serta aroma khas garam laut yang bercampur dengan wangi embun pagi yang menempel di pucuk-pucuk daun mangga dan ketapang di halaman belakang rumah joglo tradisional milik orang tua Reina. Di teras kayu jati tua yang mengkilap karena puluhan tahun usia pemakaian, dua cangkir kopi hitam tubruk mengepulkan asap tipis ke udara bebas, berpadu harmonis dengan suara desau angin pagi yang mendingin kulit.

Tepat tiga hari setelah perayaan pesta kebun yang penuh kehangatan dan makna, suasana rumah pagi itu terasa begitu syahdu. Tidak ada dering alarm telepon kantor yang memekakkan telinga, tidak ada pula rentetan pesan singkat berisi ancaman deadline korporat atau teror finansial dari Palembang yang sempat mencoba merusak malam bahagia mereka beberapa hari lalu. Arka duduk bersila di atas tikar pandan anyaman tangan, mengenakan kaos putih polos dan celana pendek katun santai, menikmati detik demi detik kebebasan batin yang sudah lama tidak ia rasakan.

Reina keluar dari pintu dapur membawa sebuah nampan kecil berisi piring penganan pisang goreng tepung hangat buatan sang ibu. Langkah kakinya terasa begitu ringan, tanpa beban, mencerminkan betapa jiwa wanita itu kini tengah merštakan kedamaian yang sejati. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda sederhana, memperlihatkan garis leher dan senyuman tulus yang terus mengembang di bibirnya sejak ia membuka mata pagi tadi.

"Kau sudah bangun sepagi ini, Arka? Kupikir kau masih ingin tidur lelap setelah melewatkan malam yang cukup panjang kemarin," ujar Reina lembut sambil meletakkan nampan di atas lantai kayu teras.

Arka mendongak, tersenyum lebar menyambut kehadiran istrinya. Ia merentangkan sebelah tangannya, merangkul pinggang Reina dan menariknya pelan untuk duduk di sampingnya. "Bagaimana aku bisa tidur lama, Reina, kalau setiap detik pagi ini terasa terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja? Aku ingin menikmati setiap tarikan napas tanpa rasa cemas," jawab Arka tulus.

Reina tertawa kecil, mengambil sepotong pisang goreng hangat dan menyercahnya pelan. "Kau benar. Kadang-kadang aku masih merasa semua kedamaian ini adalah mimpi indah yang suatu saat bisa terbangun begitu saja. Rasanya terlalu luar biasa setelah semua badai yang kita lewati."

"Ini bukan mimpi, sayang," bisik Arka, menggenggam jemari Reina erat-erat dan mencium punggung tangannya dengan penuh takzim. "Ini nyata. Kita ada di sini, di rumah ini, bersama orang-orang yang mencintai kita apa adanya."

Di sekeliling mereka, halaman rumah mulai disinari oleh cahaya matahari pagi yang hangat, menyinari hamparan rumput hijau yang masih basah oleh embun. Suasana pagi itu menjadi saksi bisu atas awal babak baru kehidupan mereka—sebuah kehidupan yang dibangun bukan di atas fondasi ambisi kosong, melainkan kesadaran penuh untuk menikmati setiap detik anugerah yang diberikan semesta.

❖ ❖ ❖

Bagi Arka dan Reina, tujuan hidup mereka kini telah mengalami pergeseran yang sangat radikal namun menyehatkan jiwa. Jika bertahun-tahun yang lalu tujuan utama Arka adalah menumpuk kekayaan, mengejar jabatan eksekutif tertinggi di perusahaan multinasional, dan membuktikan diri di hadapan para pesaing yang kejam di Jakarta serta Palembang, maka hari ini tujuannya jauh lebih sederhana namun jauh lebih mulia: menyadari, meresapi, dan menikmati setiap detik kehadiran satu sama lain tanpa syarat.

"Tujuanku hari ini cuma satu, Reina," ucap Arka serius sambil menyeruput kopi hitamnya perlahan, menatap mata jernih istrinya lekat-lekat. "Aku ingin belajar untuk benar-benar hadir secara utuh di sini. Tidak lagi menoleh ke belakang menyesali masa lalu yang hancur, dan tidak terlalu cemas merancang masa depan yang belum tentu kita miliki."

Reina mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir suaminya. Bagi Reina sendiri, tujuannya di pagi hari yang cerah ini adalah melepaskan seluruh sisa-sisa trauma psikologis yang sempat bersarang di dalam kepalanya—ketakutan bawah sadar bahwa kebahagiaan ini hanya bersifat sementara sebelum badai berikutnya datang menghantam.

"Aku juga punya tujuan yang sama, Arka," balas Reina dengan suara lembut namun tegas. "Selama ini kita terlalu sibuk berlari. Berlari menghindari kebangkrutan, berlari dari pengkhianatan, berlari dari pandangan sinis orang lain. Sekarang, aku ingin kita berhenti berlari. Kita duduk di sini, menikmati secangkir kopi, dan meyakinkan diri kita bahwa kita berhak bahagia."

"Kau tahu, Malik sempat mengirim pesan pagi tadi," lanjut Arka sambil tersenyum kecil. "Dia bilang ia dan beberapa teman lamanya ingin mampir sore nanti hanya sekadar membawa durian runtuh dari kebun pamannya. Tidak ada obrolan bisnis, tidak ada tekanan proyek. Murni silaturahmi."

"Itu bagus sekali!" seru Reina antusias. "Biar nanti kubantu ibu menyiapkan ketan dan kopi tambahan untuk mereka. Rumah ini memang sudah seharusnya dipenuhi oleh gelak tawa orang-orang tulus, bukan oleh ketegangan."

Tujuan bersama mereka hari ini adalah memantalkan kenyataan bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah destinasi akhir yang jauh di ujung jalan, melainkan cara pandang dalam menjalani proses hidup itu sendiri. Setiap detik yang berputar, setiap hembusan angin laut yang menyentuh wajah, dan setiap senyuman yang terukir di bibir satu sama lain adalah bukti mutlak bahwa mereka telah berhasil merebut kembali kedaulatan atas hidup mereka sendiri. Di bawah terik matahari pagi yang semakin menghangat, Arka dan Reina berjanji dalam hati untuk tidak membiarkan kekhawatiran fiktif merampok keindahan detik-detik berharga yang tengah mereka jalani bersama.

❖ ❖ ❖

Pergantian waktu dari obrolan intim di teras pagi menuju dinamika kesibukan harian yang santai terjadi tatkala ibunda Reina membukakan pintu depan lebar-lebar, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari seluruh ruang tamu berlantai ubin klasik tersebut. Suara gesekan sapu ijuk yang membersihkan dedaunan kering di halaman depan berpadu dengan suara burung-burung kecil berkicau riang di dahan pohon mangga, menciptakan transisi sensorik yang membawa mereka kembali ke realitas kehidupan sehari-hari yang penuh kedamaian.

"Arka, Reina, kalau kalian sudah selesai ngobrol santainya, tolong bantu ibu angkat jemuran kerupuk udang di samping rumah sebelum angin laut membawa kelembapan siang," panggil sang ibu dari arah dapur dengan nada suara yang penuh kehangatan khas seorang ibu rumah tangga.

"Baik, Bu! Sebentar kami kesana," jawab Reina setengah berteriak sambil tersenyum geli menatap suaminya.

Arka langsung berdiri, meregangkan otot-otot lengannya sebentar lalu merangkul bahu Reina berjalan menuju samping rumah. Transisi dari perenungan filosofis yang mendalam menuju tugas-tugas domestik yang sederhana ini justru terasa begitu menyegarkan bagi Arka. Tidak ada lagi tekanan rapat direksi yang menentukan nasib ratusan karyawan atau dokumen kontrak bernilai miliaran rupiah yang harus ditandatangani di atas meja marmer dingin; yang ada hanyalah nampan-nampan bambu berisi kerupuk udang mentah yang harus dijemur di bawah terik matahari.

"Kau tahu, pekerjaan ini jauh lebih jujur ketimbang menandatangani laporan keuangan fiktif di kantor lama kita dulu," gurau Arka sambil mengangkat salah satu nampan bambu berisi kerupuk bersama Reina.

Reina tertawa renyah, angin pagi mengangkat sedikit helai rambutnya. "Tentu saja. Kalau kerupuk ini gosong, paling-paling kita hanya dimarahi ibu. Kalau laporan keuanganmu dulu salah, akibatnya bisa penjara atau kebangkrutan massal."

"Makanya aku bersyukur sekarang kita ada di sini," balas Arka lembut, menatap wajah istrinya di bawah cahaya matahari pagi yang terang.

Transisi emosional dari rasa cemas masa lalu menuju penerimaan total atas masa kini mengalir begitu natural melalui aktivitas-aktivitas fisik yang membumi tersebut. Setiap langkah kaki mereka di atas tanah halaman rumah joglo itu seolah menanamkan kembali akar kehidupan mereka ke bumi Lampung tempat mereka berasal. Jauh dari hiruk-pikuk metropolitan yang kejam, Arka dan Reina menemukan kembali esensi hidup yang sesungguhnya—bahwa kebahagiaan sejati tercipta dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama orang terkasih dengan hati yang lapang dan penuh rasa syukur.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya