Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #94

Candaan hangat di dapur


Matahari sore di pertengahan bulan Desember menyembulkan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca dapur apartemen mewah milik Arka dan Sasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Jam dinding berbingkai kayu jati di sudut ruangan menunjukkan pukul empat lewat limapuluh menit sore, hari Rabu, tanggal sepuluh. Suasana di dalam dapur bernuansa modern minimalis itu terasa begitu hidup, jauh berbeda dari kesan steril yang biasa melekat pada dapur-dapur pameran properti. Aroma harum bawang putih yang dicincang halus, semerbak minyak wijen, dan wangi kaldu ayam berpadu harmonis di udara, menciptakan kehangatan domestik yang langsung menenangkan siapa saja yang menghirupnya.

Di atas meja pulau dapur berbalut marmer putih bersih, berjejer rapi berbagai bahan makanan segar yang baru saja dibeli Sasi dari supermarket organik siang tadi: beberapa pak sayuran hijau segar, udang segar berukuran sedang, dada ayam tanpa tulang, serta mangkuk-mangkuk kecil berisi bumbu dapur tradisional. Hari ini adalah hari kerja, namun Arka sengaja pulang lebih awal demi menepati janji yang ia buat kepada istrinya semalam—sebuah janji sederhana untuk mencoba memasak hidangan makan malam pertama mereka berdua secara bersama-sama, tanpa bantuan asisten rumah tangga maupun makanan pesan-antar restoran.

Arka berdiri di dekat kompor induksi, mengenakan kemeja kerja putih dengan lengan kemeja yang dilipat sampai siku, sementara dasinya sudah lama ia lepaskan dan digantung sembarangan di kursi makan. Wajahnya tampak serius namun diselimuti antusiasme yang kentara, seolah ia sedang bersiap menghadapi proyek bisnis paling krusial dalam kariernya, padahal yang sedang ia hadapi saat ini hanyalah sepanci air bersih yang menunggu mendidih. Di sisi seberangnya, Sasi mengenakan apron atau celemek kain berwarna abu-abu terang bergambar motif kucing lucu, rambut panjangnya dicepol tinggi ke atas dengan jepitan besar agar tidak menghalangi pandangannya.

"Kamu yakin panci ini sudah bersih, Arka? Jangan sampai nanti sup ayam kita berasa aroma kopi sisa tadi pagi," goda Sasi sambil tertawa renyah, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap suaminya dengan sorot mata penuh jenaka.

Arka menoleh sekilas, mendengus pelan dengan senyuman lebar yang langsung merekah di bibirnya. "Tenang saja, Nyonya Sasi. Aku sudah mencucinya dua kali dengan air hangat dan sabun lemon khusus. Standar higienitas dapurku ini sudah setara dengan dapur restoran bintang lima."

"Restoran bintang lima dari Hongkong," balas Sasi terbahak-bahak, lalu melangkah mendekati meja dapur untuk mulai memotong-motong sayuran.

Suasana sore itu dipenuhi oleh vibrasi kebahagiaan yang sangat murni. Setelah berbagai badai masa lalu, rintangan keluarga, dan proses panjang penyembuhan batin yang mereka lalui bersama, momen sederhana berdiri berdampingan di dapur ini menjadi simbol kemenangan domestik yang luar biasa manis. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi bayang-bayang kelam, yang ada hanyalah gelak tawa dan kehangatan interaksi suami istri di awal perjalanan pernikahan mereka.

❖ ❖ ❖

Sore ini, tujuan utama Arka dan Sasi berada di dapur bukanlah sekadar menghasilkan makanan untuk mengisi perut, melainkan membangun tradisi keintiman baru melalui kolaborasi domestik pertama mereka sebagai suami istri. Sasi bertekad untuk membimbing Arka—yang selama hidup lajangnya lebih sering mengandalkan makanan katering atau restoran—agar bisa menguasai setidaknya satu menu andalan keluarga warisan ibunya: sup ayam rempah jahe hangat dengan tumis sayuran udang gurih.

"Dengar ya, Chef Arka," ucap Sasi sambil memegang sebilah pisau dapur stainless steel dengan gaya mengajari seorang murid sekolah memasak. "Tujuan kita sore ini adalah menciptakan makan malam buatan tangan kita sendiri, tanpa ada intervensi dari aplikasi pesan-antar ojek online. Kalau rasanya keasinan, kita tetap harus menghabiskannya sampai habis tanpa protes."

Arka mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah, tersenyum lebar menatap istrinya. "Siap, laksanakan, Komandan Sasi. Aku pasrahkan lidahku pada penilaianmu malam ini. Tapi ingat, kalau rasanya enak, kamu harus memberikan pujian terbuka di hadapan seluruh keluarga besar kita nanti."

Sementara itu, bagi Arka, tujuan pribadinya di dapur sore ini adalah menebus waktu-waktu yang hilang dan menunjukkan bahwa ia siap bertransformasi menjadi suami yang tidak hanya diandalkan dalam urusan mencari nafkah, tetapi juga hadir secara nyata dalam urusan domestik sehari-hari. Arka ingin membuktikan pada Sasi bahwa rumah tangga yang mereka bangun adalah kerja sama dua arah yang setara, di mana keringat dan tawa dibagi secara merata di setiap jengkal ruang rumah mereka.

"Baiklah, komandan. Apa instruksi pertama untuk koki pemula ini?" tanya Arka serius, mengambil pisau kecil dan sebutir bawang bombay di hadapannya.

"Instruksi pertama: cincang bawang bombay ini sekecil mungkin tanpa mengeluarkan air mata, karena aku tidak mau melihat suamiku menangis hanya karena urusan bawang," canda Sasi sambil menunjuk bawang di tangan Arka.

Tujuan dari interaksi penuh canda tawa ini adalah mempererat ikatan emosional melalui aktivitas fisik yang ringan namun menyenangkan. Sasi ingin memastikan bahwa dapur apartemen mereka tidak pernah menjadi tempat yang menegangkan, melainkan ruang kreatif yang penuh warna dan aroma kebahagiaan. Setiap bumbu yang ditakar, setiap sayuran yang dipotong, dan setiap sendok garam yang dimasukkan adalah manifestasi dari komitmen mereka untuk merajut hari-hari depan yang harmonis.

Arka mulai berkonsentrasi memotong bawang bombay dengan teknik yang ia pelajari dari tayangan video memasak semalam, sementara Sasi mulai membersihkan udang segar di wadah sebelah. Keheningan kecil sempat tercipta di antara mereka, digantikan oleh suara ketukan pisau di atas talenan kayu yang berirama konstan, menciptakan harmoni domestik yang sangat menenangkan.

❖ ❖ ❖

Perlahan-lahan, suasana serius saat mereka berkonsentrasi pada bahan makanan masing-masing bertransisi menjadi kekacauan kecil yang mengundang gelak tawa ketika Arka tanpa sengaja mengiris bawang bombay terlalu tebal, membuat potongan-potongan sayuran itu terpental keluar dari talenan dan jatuh berhamburan ke atas lantai marmer dapur. Transisi dari atmosfer memasak yang kaku menuju canda tawa lepas mencairkan ketegangan sore itu dengan sangat alami.

"Ups, sepertinya bawang bombay ini punya niat melarikan diri dari takdirnya untuk dimasukkan ke dalam panci sup," komentar Arka dengan wajah tanpa dosa, menatap potongan bawang yang berserakan di dekat sepatunya.

Sasi menghentikan aktivitas memotong udangnya, menoleh ke bawah lalu tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar hebat. "Wah, baru lima menit berjalan, Chef Arka sudah mendeklarasikan perang terhadap bahan makanannya sendiri. Sini, biar kubantu menyelamatkan sisa pasukan bawang yang tersisa di talenan."

Transisi fisik dan emosional ini menunjukkan betapa cepatnya dinamika di dalam dapur kecil mereka berubah dari suasana serius menjadi arena komedi domestik yang menghibur. Sasi mendekati Arka, mengambil alih pisau dari tangan suaminya dengan gerakan lembut, lalu mencontohkan cara memotong bawang bombay yang benar dengan posisi jari tangan melengkung ke dalam agar aman.

Arka memperhatikan setiap gerakan tangan Sasi dengan saksama, sementara aroma wangi parfum lembut yang dikenakan istrinya menguar pelan, membius indra penciumannya. Alih-alih fokus pada teknik memasak, perhatian Arka justru teralihkan sepenuhnya pada wajah cantik Sasi yang tampak begitu serius dan telaten mengajari dirinya.

"Kamu melihat ke arah pisau atau melihat ke arah wajahku, Tuan Suami?" tanya Sasi tanpa mengalihkan pandangannya dari talenan, menyadari tatapan intens yang diberikan Arka.

"Aku sedang mengamati teknik guruku yang luar biasa," jawab Arka cepat dengan senyuman jahil. "Mana mungkin aku bisa fokus pada bawang kalau instruktur di depanku jauh lebih menarik daripada sayuran apa pun di dunia ini."

Sasi mendengus pelan, menoleh sekilas dan mencolek sedikit sisa tepung terigu yang ada di mangkuk ke ujung hidung Arka dengan cepat. "Fokus, Chef! Jangan merayu instruktur di tengah jam pelajaran memasak."

Transisi waktu sore berjalan begitu cepat diiringi gelak tawa dan lemparan candaan ringan. Suasana dapur marmer putih itu kini benar-benar hidup oleh kehadiran emosi positif yang melimpah. Arka membersihkan ujung hidungnya yang terkena tepung, lalu tertawa lepas, merasa bahwa momen-momen sederhana seperti inilah yang selama ini ia rindukan sepanjang hidupnya—kebahagiaan kecil yang tulus tanpa beban pretensions apa pun.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya