Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #99

Malam Renungan


Malam telah merayap turun dengan anggun di atas langit ibu kota, membawa serta keheningan kota Jakarta yang perlahan meredam dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang biasanya memekakkan telinga. Jam dinding antik berbandul emas di sudut kamar tidur utama apartemen mewah milik Arka dan Sasi di kawasan Menteng menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam, hari Kamis, tanggal sebelas Desember tahun dua ribu dua puluh enam. Suasana di dalam kamar tersebut terasa begitu kontras dengan dunia luar yang dingin dan berangin; lampu tidur bernuansa warm white yang terpancar dari sudut ruangan membiaskan cahaya temaram yang menenangkan, membalut seprai linen berwarna putih gading dan selimut tebal berbahan bulu domba tiruan dengan kehangatan yang sangat intim.

Di atas ranjang berukuran king size itu, Arka dan Sasi berbaring berdampingan, menatap langit-langit kamar yang dihiasi proyeksi cahaya bintang imitasi yang berputar pelan. Udara sejuk dari pendingin ruangan yang disetel pada suhu dua puluh dua derajat Celsius berpadu sempurna dengan kehangatan tubuh mereka yang terbungkus satu selimut tebal yang sama. Hari ini telah melalui rangkaian aktivitas yang melelahkan namun penuh makna, dan kini, saat-saat menjelang tidur menjadi waktu paling sakral bagi mereka berdua untuk melepas seluruh atribut dunia luar—jabatan, tanggung jawab korporat, dan sisa-sisa beban masa lalu yang sempat membayangi.

Sasi berbaring miring menghadap ke arah suaminya, menopang kepalanya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya dengan lembut memainkan ujung kancing piyama tidur Arka. Rambut panjangnya tergerai bebas di atas bantal empuk, memantulkan kilau lembut dari cahaya lampu tidur. Sementara itu, Arka berbaring telentang dengan satu tangan diletakkan di bawah kepalanya, menatap istrinya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kelembutan yang teramat dalam.

"Kamu masih belum mengantuk, Arka?" bisik Sasi pelan, suaranya terdengar begitu syahdu memecah keheningan malam yang damai. "Matamu masih terbuka lebar, seolah-olah sedang memikirkan strategi bisnis raksasa untuk proyek konstruksi besok pagi."

Arka menoleh pelan, balas menatap wajah Sasi dalam jarak yang sangat dekat hingga deru napas hangat mereka saling bergesekan di udara malam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan ketulusan. "Bagaimana aku bisa menutup mata, Sasi, kalau di sebelahku ada pemandangan yang jauh lebih indah daripada bintang-bintang di luar sana? Aku tidak sedang memikirkan pekerjaan. Aku hanya sedang menikmati detik ini."

Sasi tertawa kecil, suara tawa renyah yang langsung mencairkan sisa-sisa ketegangan malam. "Bisa saja gombalan Tuan Direktur ini. Sejak kapan kamu belajar merayu istrimu sendiri dengan kalimat-kalimat puitis seperti itu?"

"Sejak hari pertama aku sadar bahwa aku adalah pria paling beruntung di muka bumi karena berhasil meyakinkanmu untuk mengenakan cincin di jarimu," jawab Arka lembut, mengulurkan tangannya untuk menyelipkan beberapa helai rambut Sasi ke belakang telinganya.

Kamar tidur itu mendadak terasa menjadi satu-satunya tempat paling aman dan nyaman di dunia ini. Di luar jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta, dunia terus berputar dengan segala kekejamannya. Namun di dalam selimut tebal ini, waktu seolah berhenti berputar khusus untuk mereka berdua, memberi ruang bagi jiwa-jiwa yang sempat terluka untuk saling menyembuhkan melalui kehangatan fisik dan kedekatan emosional yang murni.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arka dan Sasi berbagi malam renungan di bawah selimut tebal ini bukanlah sekadar mengantarkan diri menuju alam mimpi, melainkan melakukan ritual pembersihan batin secara total melalui komunikasi jujur tanpa sekat. Setelah melewati berbagai badai kehidupan, pertengkaran batin di masa lalu, dan rekonstruksi rumah tangga yang melelahkan, keduanya merasa butuh waktu khusus untuk saling mengonfirmasi ulang rasa syukur, ketakutan terdalam, serta janji suci yang mengikat hati mereka.

Sasi ingin menggali lebih dalam sisi rapuh Arka yang selama ini sering disembunyikan di balik topeng kesempurnaan seorang pemimpin perusahaan. Ia bertekad menjadikan malam ini sebagai ruang aman bagi suaminya untuk melepaskan seluruh beban mental yang mungkin masih tersisa di dalam benaknya.

"Arka, jujurlah padaku," bisik Sasi lagi, mendekatkan wajahnya sedikit lebih dekat ke dada suaminya, mendengarkan detak jantung Arka yang berirama tenang dan konstan. "Di malam yang tenang seperti ini, saat semua lampu sudah padam dan kita hanya berdua... apa hal yang paling kamu takuti masih menghantuimu? Jangan simpan sendiri, ceritakan padaku."

Arka menarik napas panjang, meresapi kehangatan jemari Sasi yang kini melingkar di atas perutnya. Tujuan pribadinya di bawah selimut malam ini adalah melunturkan sisa-sisa rasa bersalah masa lalu yang kadang masih menyelinap di sudut hatinya—ketakutan bahwa ia tidak pantas mendapatkan kebahagiaan sebesar ini setelah semua kesalahan yang ia perbuat bertahun-tahun lalu.

"Ketakutanku?" Arka mengulangi pertanyaan itu dengan suara rendah yang bergetar tipis. Ia menatap langit-langit kamar sejenak sebelum kembali memandang mata Sasi yang bersinar redup dalam temaram lampu tidur. "Ketakutan terbesarku bukan lagi kehilangan harta, jabatan, atau perusahaan, Sasi. Ketakutanku yang paling nyata adalah terbangun suatu pagi nanti dan menyadari bahwa semua kedamaian, kehangatan, dan senyumanmu ini hanyalah mimpi indah di dalam tidur panjangku."

Sasi terenyuh mendengarnya. Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu menangkup pipi Arka dengan telapak tangannya yang hangat. "Hei, dengarkan aku. Ini bukan mimpi. Aku nyata, napas ini nyata, dan cinta ini nyata. Jangan pernah ragukan tempat di mana kita berada sekarang."

Tujuan dari dialog intim di bawah selimut ini adalah memperkuat pilar-pilar pernikahan mereka agar semakin kokoh menghadapi terpaan angin masa depan. Sasi ingin memastikan bahwa tidak ada rahasia sekecil apa pun yang disembunyikan, dan bahwa setiap keraguan harus segera diselesaikan lewat kata-kata jujur yang diucapkan dari hati ke hati dalam keheningan malam.

"Kalau begitu, sekarang giliranku yang bertanya pada istriku tersayang," ucap Arka balik bertanya, membalas tatapan Sasi dengan senyuman penuh selidik namun penuh kasih. "Apa harapan terbesar yang ingin kamu wujudkan bersama pria menyebalkan sepertiku dalam lima tahun ke depan?"

Sasi tersenyum lebar, matanya menerawang membayangkan masa depan. "Harapanku sederhana, Arka. Aku ingin kita menua bersama di rumah ini, atau mungkin di sebuah rumah kecil dekat pantai dengan halaman penuh bunga, tanpa ada lagi dering telepon kantor di tengah malam, tanpa ada lagi ancaman masa lalu, dan... mungkin ditemani suara tangis bayi mungil yang memanggil kita Ayah dan Ibu."

Mendengar kata-kata itu, dada Arka bergemuruh hebat. Gelombang kebahagiaan yang luar biasa kuat menghantam batinnya, membuat matanya mendadak terasa panas. Tujuan mulia malam renungan itu kini berbuah manis, menyatukan visi masa depan mereka dalam satu doa yang dipanjatkan dalam diam.

❖ ❖ ❖

Percakapan serius yang sarat akan air mata haru dan pengakuan batin yang mendalam itu perlahan-lahan bertransisi menjadi suasana yang jauh lebih ringan, hangat, dan penuh canda tawa ketika Arka tiba-tiba mencolek hidung Sasi dengan ujung jarinya. Transisi emosional dari momen refleksi yang berat menuju obrolan jenaka khas pasangan muda mencairkan ketegangan di antara mereka dengan sangat natural.

"Wah, calon ibu dari anak-anakku rupanya sudah punya rencana sampai urusan rumah pantai dan suara tangis bayi ya," goda Arka dengan nada suara yang dibuat-buat sok serius, menatap istrinya dengan mata berbinar-binar jahil.

Sasi mendengus pelan, mengerutkan hidungnya pura-pura kesal, lalu memukul pelan dada Arka dengan bantal guling kecil. "Ih, siapa juga yang bilang begitu! Itu kan baru angan-angan seorang istri yang lelah menghadapi suami keras kepala sepertimu!"

"Tapi angan-angan yang sangat bagus dan kusetujui seratus persen," balas Arka cepat sambil tertawa renyah, lalu menarik selimut tebal itu sedikit lebih tinggi untuk menutupi bahu Sasi yang sempat terbuka terkena udara dingin AC.

Transisi fisik di bawah selimut itu mempererat jarak di antara mereka. Sasi merubah posisi tidurnya, merapatkan tubuhnya hingga menempel sempurna di sisi tubuh Arka, menjadikan lengan suaminya sebagai bantal utama dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leher lelaki itu. Aroma maskulin bercampur sabun mandi lavender milik Arka menguar lembut, memberikan ketenangan instan bagi Sasi.

"Arka," panggil Sasi pelan dengan suara yang teredam oleh kain piyama suaminya.

"Hm? Ada apa lagi, Nyonya Sasi?" sahut Arka lembut, mengusap-usap punggung istrinya dengan gerakan melingkar yang menenangkan.

"Kamu ingat tidak waktu pertama kali kita benar-benar terjebak bersama di apartemen ini dalam situasi paling canggung di dunia?" kenang Sasi sambil tersenyum geli di dalam dekapan suaminya. "Waktu itu, jangankan berbagi selimut dan berbisik mesra seperti ini, saling menatap mata saja kita rasanya ingin saling menerkam karena emosi."

Arka ikut tersenyum lebar mengingat memori masa lalu yang penuh warna itu. "Ingat sekali. Waktu itu kamu datang membawa sejuta curiga dan kemarahan, sementara aku merasa menjadi pria paling egois di muka bumi yang tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki keadaan."

Transisi waktu membawa ingatan mereka menembus lorong waktu, membandingkan masa-masa kelam penuh duri dengan kenyamanan luar biasa yang mereka rasakan malam ini. Perubahan dinamika hubungan mereka dari dua insan yang penuh luka dan ego menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai tanpa syarat adalah keajaiban terbesar yang patut disyukuri setiap detik.

Lihat selengkapnya