Debu menari-nari malas dalam sorot lampu mobil yang menembus jendela kaca yang kusam, menerobos masuk ke dalam kabin yang terasa pengap.
Di depan mereka, berdiri tegak sebuah rumah tua dari kayu jati, monumen bisu yang menantang waktu. Fasadnya yang megah kini diselimuti lapisan debu tebal, dan cat putih gadingnya mengelupas di banyak tempat, memperlihatkan guratan kayu yang dalam, seolah guratan itu adalah keriput di wajah seorang nenek tua yang menyimpan seribu rahasia.
Halaman depan tampak liar, rumput liar tumbuh subur hingga setinggi lutut, menelan jejak-jejak kaki yang mungkin pernah melintas di sana bertahun-tahun lalu. Udara di sekitar rumah terasa lebih berat, lebih hening, seolah seluruh suara di dunia tertahan di ambang gerbangnya.
Endro mematikan mesin mobil. Keheningan yang tiba-tiba terasa begitu pekat, sedikit memekakkan telinga setelah perjalanan panjang yang bising.
Ia menoleh pada Arita di sampingnya. Ada percikan optimisme di matanya, tapi senyum yang terukir di bibirnya tak sepenuhnya tulus, tersembunyi di balik kelelahan perjalanan.
"Sampai juga kita," ujarnya, suaranya terdengar sedikit serak, seolah menelan debu jalanan.
Ia mengamati rumah itu dari kacamatanya sebagai seorang suami dan ayah, sebuah warisan, sebuah permulaan baru, namun juga sebuah proyek renovasi besar yang akan menguras waktu, tenaga, dan mungkin juga kesabaran mereka. Potensi besar tersembunyi di balik fasadnya yang lapuk, ia yakin itu.
Arita tak langsung menanggapi. Pandangannya terpaku pada jendela-jendela gelap di lantai dua, yang tampak seperti mata kosong menatap kosong ke arah mereka.
Sesuatu yang janggal merayap di kulitnya, dingin dan menusuk, mengirimkan getaran halus di sepanjang tulang punggungnya.
Rumah ini terasa hidup, ia bisa merasakannya. Namun, kehidupannya terasa asing, purba, dan penuh penantian. Ia merasakan tatapan yang tak kasat mata, seolah mata-mata kuno dari masa lalu tengah mengawasinya dari balik tirai debu yang menggantung di jendela-jendela itu.
Ingatan tentang cerita-cerita neneknya, yang selalu ia anggap dongeng pengantar tidur, kini kembali menghantuinya—kisah tentang kesedihan yang membatu, tentang penunggu yang tak pernah benar-benar pergi, tentang senandung yang konon terdengar saat malam semakin larut.
Ia ingat bagaimana neneknya selalu bergidik, seolah tersengat listrik dingin, setiap kali menyebut nama rumah ini.
"Ini … lebih besar dari yang aku bayangkan." Arita akhirnya bersuara, nadanya datar, nyaris tanpa emosi.
Ia memaksa dirinya untuk menatap Endro, berusaha mengabaikan perasaan tidak nyaman yang mulai mencekiknya.
Ini adalah rumah mereka sekarang. Rumah untuk Rian dan Sari. Ia harus kuat. Ia harus positif.
"Tentu saja. Warisan kakek buyutmu, kan? Pasti kokoh. Nenekmu dulu cerita banyak soal rumah ini, tapi sepertinya tidak pernah detail soal ukurannya," sahut Endro, berusaha menyuntikkan nada ceria dalam suaranya.