Keesokan paginya, matahari bersinar cerah, seolah ingin menghapus sisa-sisa kegelapan malam pertama mereka di rumah tua itu.
Namun, bagi Arita, ketidaknyamanan yang ia rasakan semalam tak kunjung hilang. Perasaan diawasi itu masih terasa, halus namun konstan, seperti sentuhan dingin di kulitnya.
Ia melihat Endro sedang berbincang serius dengan mandor proyek di teras depan, suara mereka sesekali terdengar teredam oleh deru mesin gergaji dan palu yang mulai memecah keheningan rumah.
Proses renovasi telah dimulai, membawa serta kebisingan yang seharusnya menenangkan, namun entah mengapa, justru terasa semakin membangunkan sesuatu yang tertidur di dalam dinding-dinding kayu jati ini.
Sari masih tampak ketakutan. Ia duduk di sudut ruang tamu yang berdebu, memeluk boneka kelinci kesayangannya erat-erat. Matanya sesekali melirik ke arah lorong yang menuju kamar tidur anak-anak, seolah takut melihat sesuatu muncul dari sana.
"Bu," panggilnya lirih, suaranya bergetar. "Boneka Beruangku pindah lagi. Tadi pagi aku taruh di kasur, sekarang ada di bawah meja."
Arita menghela napas, berusaha tersenyum hangat pada putrinya. "Mungkin kamu lupa, Sayang? Semalam kan kita beres-beres, banyak barang yang dipindah-pindahkan."
Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Sari. Ini pasti hanya imajinasi anak-anak yang terlalu terbawa suasana rumah baru yang besar dan sedikit menyeramkan.
"Bukan, Bu. Rian juga lihat. Tadi pas aku mau ambil minum, Beruangnya udah duduk di kursi makan. Sendirian," tambah Rian, yang kini sedang mengamati tukang yang sedang membongkar sebagian dinding di ruang keluarga.
Wajahnya menunjukkan campuran antara geli dan sedikit rasa takut. Rasa ingin tahunya sebagai anak laki-laki berusia sepuluh tahun jelas terlihat.
Endro mendengar percakapan itu dari kejauhan. Ia berjalan menghampiri, wajahnya sedikit mengernyit. "Pindah? Bagaimana bisa? Kursinya kan berat."
Ia mencoba mendekati Sari, berjongkok di depannya. "Coba tunjukkan di mana Beruangnya sekarang?"
Sari menunjuk ke arah meja makan di sudut ruangan. Di sana, duduk tegak sebuah boneka beruang cokelat yang tampak usang, matanya terbuat dari kancing hitam yang berkilauan redup.
Arita sendiri tak ingat pernah melihat boneka itu sebelumnya. "Itu bukan boneka Beruangku yang itu, Bu," kata Sari, suaranya lirih. "Yang itu punya teman Sari."
Arita terdiam. Teman? Sejak kapan Sari punya teman lain selain Rian? Dan boneka itu … terlihat begitu tua, seolah sudah lama teronggok di gudang. Ia merasa bulu kuduknya kembali meremang.
"Temanmu yang mana, Sayang?" tanyanya hati-hati.
"Yang di loteng, Bu. Dia bilang namanya Beruang," jawab Sari polos, namun tatapannya lurus ke depan, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat.
Endro menatap Arita, ada keraguan di matanya. Ia melihat kepanikan yang mulai menjalar di wajah istrinya. "Sudahlah, anak-anak," katanya, berusaha terdengar tegas namun menenangkan.
"Mungkin kita terlalu banyak berpikir. Ini rumah baru, banyak hal yang terasa asing. Nanti kalau sudah rapi, suasana pasti berbeda."