Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #3

Bab 3. Perbedaan Pendapat dan Keresahan

Pagi berganti sore, dan ketegangan di rumah semakin terasa pekat. Insiden mobil tukang yang berasap dengan kancing hitam sebagai 'tanda' misterius telah membuat Endro kehilangan kesabaran. 

Ia kini berada di ruang keluarga, memegang sampel warna cat modern, sementara Arita bersikeras ingin mempertahankan nuansa kayu jati asli dengan sentuhan klasik. 

Debat kecil mereka terdengar di sela-sela suara palu dan gergaji yang masih terus bekerja, seolah para pekerja itu tidak terganggu oleh aura aneh di sekitar mereka.

"Aku cuma mau rumah ini terlihat lebih segar, Arita," kata Endro, nadanya sedikit meninggi. 

Matanya menatap sampel cat berwarna abu-abu muda yang menurutnya akan membuat ruangan terasa lebih luas dan terang. 

"Warna-warna gelap begini kan bikin sumpek. Lagipula, kita kan mau tinggal di sini selamanya, masa mau terus-terusan merasa di museum?" tambah pria itu penuh semangat.

Arita menggeleng. Jemarinya mengelus ukiran kuno di salah satu pilar kayu yang masih berdiri kokoh. "Aku mengerti, tapi ini warisan keluarga, Endro. Ada nilai sejarahnya. Aku ingin kita menghormati itu. Aku membayangkan perpaduan klasik dan minimalis, bukan mengubahnya jadi rumah modern seratus persen." 

Ia menunjuk ke arah pola ukiran yang rumit di langit-langit. "Lihat detail ini. Kalau kita tutupi cat, hilang semua keindahannya."

"Keindahan yang mana? Yang tertutup debu tebal ini?" Endro menghela napas, gestur yang menunjukkan bahwa ia sudah lelah berdebat. "Justru dengan warna terang, kita bisa menonjolkan detail-detail itu setelah dibersihkan. Pikirkan juga anak-anak. Rian suka yang praktis, Sari suka yang cerah. Warna-warna gelap begini hanya akan membuat suasana semakin suram."

Perdebatan itu berlanjut, memanas, namun terputus saat Sari datang menghampiri mereka, wajahnya pucat. "Bu, Pak tukang yang di kamar sebelah … dia berteriak."

Endro dan Arita saling bertukar pandang. Mereka bergegas menuju kamar yang ditunjuk Sari, sebuah kamar kosong yang tadinya akan diubah menjadi ruang kerja Endro. 

Di sana, seorang tukang paruh baya berdiri mematung di tengah ruangan, wajahnya pucat pasi, menunjuk ke arah dinding. Palu yang dipegangnya terjatuh ke lantai, menghasilkan bunyi dentingan keras yang memecah keheningan.

"Ada apa, Pak?" tanya Endro, mencoba terdengar tenang.

"Itu, Pak ... di dinding ...." Suara tukang itu bergetar. "Ada ... ada wajah perempuan ...."

Arita mendekat, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat ke arah yang ditunjuk tukang itu. 

Di dinding yang baru saja dikelupas cat lamanya, tampak sebuah pola noda air yang samar, namun jika diperhatikan lebih dekat, pola itu memang menyerupai siluet wajah seorang wanita. Matanya cekung, bibirnya sedikit terbuka, seolah sedang berteriak tanpa suara. Wajah itu tampak muram, penuh kesedihan.

"Itu hanya noda air, Pak," kata Endro, berusaha meyakinkan diri sendiri dan tukang itu. "Rumah tua, wajar kalau ada rembesan air."

Lihat selengkapnya