Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #4

Bab 4. Mimpi Buruk yang Sama

Malam melarutkan diri, membawa serta selubung kegelapan yang terasa lebih pekat di dalam rumah tua ini. 

Cahaya remang-remang dari lampu tidur di kamar utama hanya mampu menembus sebagian kecil dari kegelapan yang seolah hidup, merayap dari sudut-sudut ruangan, dari balik tirai jendela yang tak pernah benar-benar tertutup rapat. 

Di kamar utama, Arita terlelap, namun tidurnya tidak pernah benar-benar damai sejak mereka menginjakkan kaki di rumah warisan ini. 

Pikirannya dipenuhi bayangan wajah wanita muram dari foto yang ia temukan kemarin, sensasi dingin yang menusuk di ujung jarinya saat menyentuh foto itu, dan aroma melati layu yang samar namun kuat, seolah terperangkap dalam ingatannya. 

Kini, dalam tidurnya, ia kembali ke rumah ini, sebuah rumah yang terasa familiar namun juga asing, sebuah rumah yang seolah memiliki kehidupannya sendiri.

Segalanya terasa berbeda dalam mimpinya. Dinding-dinding kayu jati yang tadinya hanya terasa tua dan lapuk kini tampak menghitam, seolah diselimuti jelaga dari api yang tak pernah padam. 

Ukiran-ukiran rumit di langit-langit, yang kemarin Endro puji karena keindahannya, kini seolah bergerak perlahan, membentuk wajah-wajah mengerikan yang tersenyum sinis, mata mereka cekung dan kosong. 

Udara terasa dingin menusuk, dingin yang bukan berasal dari angin atau cuaca, melainkan dingin yang seolah meresap dari inti kayu rumah itu sendiri, dingin yang membekukan jiwa. Arita merasakan bulu kuduknya berdiri, bahkan di dalam alam bawah sadarnya.

Ia mencoba bergerak, namun kakinya terasa terikat pada lantai yang dingin dan lembap. Ia berjalan menyusuri lorong yang terasa tak berujung, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seolah ia melayang di udara. 

Setiap pintu di sepanjang lorong itu terbuka sedikit, memperlihatkan kegelapan yang pekat di dalamnya. 

Bukan sekadar gelap, tetapi sebuah kekosongan yang menelan cahaya, seolah mengundang, namun juga mengancam untuk menelannya hidup-hidup. 

Dari kedalaman kegelapan itu, Arita mendengar senandung yang familier itu lagi, kali ini lebih jelas, melodi kesedihan yang tak tertahankan, sebuah ratapan jiwa yang tersiksa. 

Suara itu menariknya, mendorongnya, memaksanya untuk terus maju menuju sebuah ruangan di ujung lorong yang pintunya terbuka lebih lebar dari yang lain, seolah menjadi pusat dari semua kegelapan dan kesedihan itu.

Di sana, di tengah ruangan yang remang-remang diterangi oleh cahaya redup yang entah datang dari mana, duduklah sesosok wanita. Punggungnya menghadap Arita, tubuhnya bergetar hebat. 

Rambut hitam panjangnya yang tampak kusut tergerai menutupi sebagian punggungnya yang kurus, dan Arita bisa melihat bahunya yang kecil naik turun, diiringi isak tangis yang pilu dan memilukan. 

Wanita itu mengenakan kebaya putih yang sama persis dengan wanita di foto yang ditemukan Arita kemarin, namun kini kainnya terlihat lusuh, kotor, dan robek di beberapa bagian. 

"Siapa kamu?" bisik Arita, suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar di tengah isak tangis wanita itu. 

Ia mencoba mendekat, namun kakinya tetap tak bisa bergerak, seolah tertanam di lantai.

Lihat selengkapnya