Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #5

Bab 5. Jurnal Sang Nenek

Teriakan Sari yang menggema di lorong yang dingin itu membekukan darah Arita. Jantung mereka berdegup kencang, seirama dengan suara benturan yang baru saja mereka dengar. 

Endro, dengan tangannya yang sedikit gemetar, segera meraih gagang pintu kamar Rian dan Sari. Pintu itu terkunci dari dalam.

"Sari! Rian! Buka pintunya!" seru Endro, suaranya terdengar tegang. Ia mencoba mengguncang gagang pintu, namun pintu itu terasa kokoh tertanam.

"Ibu! Ayah! Tolong!" Suara Sari terdengar lagi, kali ini lebih lemah, diselingi isak tangis yang pilu. 

Di sampingnya, suara Rian terdengar berusaha menenangkan adiknya, meskipun Arita bisa mendengar nada ketakutan dalam suaranya.

Arita merasakan panik mulai menguasainya. Ia menoleh pada Endro, matanya penuh permohonan. "Bagaimana ini? Kita harus masuk!"

Endro mengamati pintu itu sejenak, lalu menatap Arita. "Tetaplah di sini. Aku akan mendobraknya." 

Tanpa menunggu jawaban, Endro mengambil ancang-ancang dan menabrakkan bahunya ke pintu. Terdengar suara kayu berderit keras, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Ia mencoba lagi, kali ini dengan lebih sekuat tenaga. Bunyi retakan terdengar, dan pintu itu sedikit bergeser dari kusennya.

"Lagi, Pak!" teriak Rian dari dalam.

Dengan dorongan ketiga, pintu itu akhirnya terbuka dengan suara berdebam keras, terlepas dari engselnya. Endro terhuyung ke depan, diikuti Arita yang segera menerobos masuk.

Kamar itu tampak berantakan. Mainan berserakan di lantai, buku-buku berserakan dari rak, dan sebuah vas bunga antik yang biasanya berdiri kokoh di sudut ruangan kini tergeletak pecah berkeping-keping di dekat jendela. 

Sari dan Rian meringkuk bersama di sudut tempat tidur, wajah mereka pucat pasi. Sari memeluk erat boneka kelinci kesayangannya, sementara Rian menatap kosong ke arah pintu lemari pakaian yang terbuka lebar.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Arita segera, berlutut di samping anak-anaknya. Ia memeluk mereka erat, merasakan tubuh mereka yang gemetar hebat.

Sari hanya bisa menangis, menyembunyikan wajahnya di dada Arita. Rian, meskipun terlihat terguncang, berusaha menjawab. "Boneka Beruangnya ... dia marah, Bu. Dia melempar-lempar barang. Dia bilang kita mengganggunya."

Endro berjalan mendekati lemari pakaian yang terbuka. Ia mengintip ke dalamnya. Kosong. Hanya ada beberapa pakaian anak-anak yang tergantung rapi. Namun, dari balik tumpukan selimut di dasar lemari, ia melihat sesuatu yang tidak biasa. 

Lihat selengkapnya