Suasana di rumah terasa semakin berat setelah penemuan celah di dinding belakang lemari, yang mengarah pada bau tanah basah dan geraman misterius.
Endro dan Arita memutuskan untuk tidak langsung membukanya lebih lebar, setidaknya sampai mereka tahu apa yang ada di baliknya. Rasa ingin tahu bercampur dengan ketakutan yang semakin merayap di hati mereka.
Rian, yang sedari tadi hanya diam mengamati, kini tampak gelisah, sesekali melirik ke arah lemari yang sedikit terbuka.
Sari, sebaliknya, tampak lebih tenang, seolah kejadian itu sudah biasa baginya. Ia kembali memeluk boneka kelinci kesayangannya, namun matanya sesekali bergerak ke arah lemari itu.
"Kita harus segera mencari tahu apa yang ada di balik dinding itu," kata Endro lirih, menatap Arita.
Suaranya terdengar lebih tegas dari biasanya, seolah ia bertekad untuk menghadapi apa pun yang ada di rumah ini. "Aku tidak bisa membiarkan kita terus menerus hidup dalam ketakutan seperti ini."
Arita mengangguk setuju, namun rasa dingin yang tak terlihat seolah membekukan niatnya untuk bergerak. "Aku tahu. Tapi bagaimana jika itu terlalu berbahaya? Geraman itu ... bukan suara hewan biasa."
Ia ingat tatapan kosong Sari saat berbicara tentang 'temannya' di loteng, tentang boneka beruang yang bisa bicara. Mungkinkah semua ini berkaitan?
Mungkinkah Rian, dengan rasa ingin tahunya yang besar, akan menjadi korban berikutnya?
"Kita akan berhati-hati," sahut Endro, mencoba menenangkan Arita sekaligus dirinya sendiri. "Mungkin itu hanya tikus besar atau binatang lain yang tersesat. Kita akan bersenjatakan sesuatu yang kuat, dan Rian, kamu tetap di sini bersama ibumu dan Sari. Jangan kemana-mana."
Rian, yang mendengar percakapan itu, menggeleng kuat. "Tidak, Pak! Rian mau ikut! Rian penasaran!"
Matanya berbinar penuh tekad yang membingungkan. Sejak mereka pindah, Rian tampak semakin berani, bahkan terkadang terkesan nekat.
"Rian, ini bukan waktunya bermain-main," tegur Arita lembut, mencoba menarik putranya mendekat. "Ini bisa berbahaya."
"Bukan bermain-main, Bu. Rian merasa ... merasa ada sesuatu yang memanggil Rian," jawab Rian polos. "Boneka itu ... yang di loteng ... dia bilang ada kunci di bawah sana."
Arita dan Endro saling pandang. Boneka di loteng? Kunci? Semuanya terasa semakin membingungkan dan mencekam.
Jurnal nenek buyut mereka juga menyebutkan tentang kunci dan ritual. Mungkinkah Rian, tanpa disadari, sedang diarahkan oleh sesuatu yang tak terlihat?
Saat Endro bersiap untuk mendekati celah dinding itu, suara gemeretak kembali terdengar, kali ini lebih keras, seolah datang dari bagian dalam dinding itu sendiri.
Terdengar suara seperti pasir yang berjatuhan, atau mungkin tanah yang bergeser. Endro dan Arita refleks mundur selangkah, menarik Rian dan Sari lebih dekat kepada mereka.
Lampu di kamar itu berkedip-kedip hebat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding, seolah menghidupkan suasana mencekam di ruangan itu.
Tiba-tiba, Rian menunjuk ke arah loteng. "Lihat! Ada cahaya di sana!"
Arita dan Endro mengikuti arah tunjukan Rian. Benar saja, dari celah pintu loteng yang sedikit terbuka di ujung lorong, tampak cahaya redup yang berdenyut-denyut.
Cahaya itu bukan cahaya lampu biasa, melainkan cahaya yang aneh, berwarna kebiruan, yang seolah memanggil mereka.