Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #7

Bab 7. Kejadian Mistis yang Tak Terbantahkan

Malam semakin larut, namun keheningan yang seharusnya menyelimuti rumah tua itu justru terasa semakin mencekam. 

Setelah insiden di loteng, Endro dan Arita sepakat untuk tidak menyentuh jurnal tua itu untuk sementara waktu. 

Boneka kain itu, yang kini tergeletak lemas di atas peti kayu, seolah menjadi pengingat nyata akan kehadiran sesuatu yang tidak mereka pahami. 

Rian tampak sedikit terguncang, namun rasa ingin tahunya masih membara, sementara Sari kini lebih sering memeluk boneka kelincinya dan enggan beranjak dari sisi Arita.

Endro mencoba mencari penjelasan logis untuk cahaya kebiruan di loteng dan boneka yang bergerak. "Mungkin ada semacam gas alam yang bereaksi dengan udara lembap di loteng? Atau pantulan cahaya aneh dari luar?" usulnya, lebih untuk meyakinkan Arita daripada dirinya sendiri. 

Namun, Arita hanya menggeleng pelan. Ia telah melihat terlalu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Mereka kembali ke kamar utama, mencoba mengabaikan hawa dingin yang seolah merayap dari setiap sudut ruangan. 

Arita duduk di tepi tempat tidur, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Endro. Rasanya kita semakin terperangkap di sini."

Endro duduk di sampingnya, meraih tangannya. "Kita akan mencari jalan keluarnya, Sayang. Bersama-sama." 

Ia mencoba menguatkan Arita, namun dalam hatinya sendiri, keraguan mulai tumbuh. Kepercayaan dirinya sebagai kepala keluarga yang rasional mulai goyah oleh kejadian-kejadian yang tak terduga ini.

Tepat saat mereka hendak mencoba beristirahat, sebuah suara gemeretak keras terdengar dari arah dapur. Disusul dengan dentuman yang lebih keras, seolah ada sesuatu yang jatuh dan pecah. 

Arita tersentak, jantungnya berdebar kencang. Endro segera bangkit, mengambil tongkat besi yang ia bawa dari loteng. 

"Tetap di sini," perintahnya, suaranya tegas meski ada nada cemas di dalamnya.

Endro berjalan perlahan menuju dapur, Arita mengikutinya dari belakang, langkahnya berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. 

Rian dan Sari, yang terbangun karena suara gaduh itu, kini berdiri di ambang pintu kamar utama, mata mereka membelalak penuh ketakutan.

Di dapur, pemandangan itu membuat mereka terdiam. Semua pintu lemari dapur yang berjajar rapi kini terbuka lebar, seolah baru saja dibongkar paksa. 

Piring-piring dan gelas-gelas berserakan di lantai, beberapa pecah berkeping-keping. 

Di tengah kekacauan itu, sebuah vas bunga antik yang terbuat dari keramik tua, yang sebelumnya berdiri kokoh di atas meja dapur, kini tergeletak di lantai, pecah menjadi beberapa bagian besar. 

Lampu gantung di atas meja dapur berkedip-kedip hebat, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang menari-nari di dinding.

"Apa-apaan ini?" gumam Endro, wajahnya pucat pasi. 

Ia melihat sekeliling, mencari tahu apa yang mungkin menyebabkan semua ini. Tidak ada tanda-tanda pembobolan dari luar. Jendela dapur tertutup rapat, dan pintu belakang terkunci dari dalam.

Lihat selengkapnya