Pagi itu, rumah terasa jauh lebih sunyi. Keheningan yang bukan karena damai, melainkan karena sebuah ancaman tak terlihat yang kini terasa nyata dan mengikat.
Pesan di ponsel Endro semalam, "Dan kalian tidak akan pernah bisa pergi," berulang kali terngiang di benak Arita.
Ia menatap suaminya, wajah Endro tampak lelah, kantung mata hitam terlihat jelas, namun ada tekad baru di sorot matanya yang biasanya penuh keraguan.
Keluarga itu masih berkumpul di ruang keluarga, dikelilingi barang-barang yang berantakan dari insiden dapur semalam, seolah reruntuhan itu adalah saksi bisu dari teror yang mereka alami.
"Kita harus keluar dari sini, apa pun caranya," kata Endro, suaranya pelan namun tegas.
Ia mencoba mengutak-atik mobil lagi di halaman, namun sia-sia. Aki mobil benar-benar mati, seolah energinya terkuras habis.
Bahkan ponsel mereka tidak memiliki sinyal. "Sepertinya kita harus mencoba berjalan ke desa. Cari bantuan, atau setidaknya informasi."
Arita mengangguk. Ketakutan masih mencengkeramnya, namun rasa putus asa mulai berganti dengan keinginan untuk melawan. "Kita tidak bisa terus-menerus di sini. Kita harus mencari tahu tentang Larasati. Siapa dia, mengapa dia terperangkap, dan apa yang bisa kita lakukan."
Ia menggenggam erat jurnal lusuh nenek buyutnya. "Jurnal ini ... ada banyak hal yang belum kita pahami."
Rian dan Sari, meskipun masih ketakutan, tampak mengerti situasi serius ini. Sari berpegangan pada Arita, sementara Rian membawa tongkat besi yang Endro temukan di loteng.
"Rian akan melindungi Ibu dan Sari," katanya, meskipun suaranya sedikit bergetar.
Mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju desa terdekat, yang berjarak sekitar lima kilometer. Matahari pagi terasa hangat di kulit mereka, namun hawa dingin dari rumah itu seolah masih menempel, merayap di sepanjang tulang punggung.
Sepanjang perjalanan, Arita terus membolak-balik jurnal Larasati, berharap menemukan petunjuk tambahan. Tulisan tangan yang mulai memudar itu bercerita tentang kesendirian, tentang penyesalan, dan tentang sebuah rahasia yang ia bawa hingga akhir hayatnya.
"Di sini, Larasati menulis tentang seorang pria," bisik Arita, saat mereka melewati sebuah jembatan tua yang di bawahnya mengalir sungai kecil yang jernih. "Sepertinya dia kekasihnya, tapi hubungannya tidak direstui. Ada pengkhianatan ... dan sesuatu yang menyakitkan."
"Pengkhianatan apa?" tanya Endro, menatap hutan di sisi jalan yang terasa begitu gelap dan rapat.
"Tidak jelas. Jurnal ini penuh dengan metafora dan ungkapan kesedihan. Tapi dia menyebutkan 'janji yang dilanggar' dan 'cinta yang dikhianati'. Sepertinya itu yang membuatnya sangat menderita."
Arita menutup jurnal itu, tatapannya menerawang. "Apakah ini alasannya dia tidak bisa pergi? Karena kesedihan yang membatu ini?"