Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #9

Bab 9. Kemarahan yang Terasa

Setelah kunjungan mereka ke desa, suasana di rumah terasa jauh lebih berat. Informasi dari tetua adat dan penemuan liontin di ambang pintu seolah membuka tirai dimensi lain, di mana batas antara nyata dan tidak nyata semakin kabur. 

Mereka tahu, investigasi mereka tidak hanya mengungkap masa lalu, tetapi juga membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur. 

Ketakutan kini bukan lagi bisikan samar, melainkan raungan yang terus-menerus mengikis ketenangan.

Sore itu, saat Endro sedang mencoba memperbaiki mesin mobil yang mati total di halaman, Arita merasa suhu di dalam rumah tiba-tiba turun drastis. 

Ia tengah melipat pakaian di ruang keluarga yang sebenarnya cerah, namun kini terasa dingin menusuk tulang, seolah hawa musim dingin tiba-tiba menyerbu dari segala penjuru. 

Bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah jendela, berharap melihat awan hitam atau tanda-tanda perubahan cuaca, namun langit di luar masih biru jernih, matahari bersinar terang. Dingin ini bukan berasal dari alam.

"Aneh sekali," gumamnya pelan, menggosok-gosok lengannya. Ia mencoba menyalakan pemanas ruangan portabel yang mereka bawa, namun benda itu tak merespons, seolah semua energi listrik di rumah ini sengaja dialihkan atau terhisap oleh sesuatu. 

Lampu di langit-langit berkedip sekali, lalu mati total, meninggalkan ruangan dalam temaram yang semakin mencekam. Arita menelan ludah, detak jantungnya berpacu cepat.

Ia memutuskan untuk mencari anak-anak. Rian sedang membaca buku di kamar utamanya, sementara Sari menggambar di meja kecil di kamar mereka. 

Saat Arita melewati lorong menuju kamar anak-anak, ia merasakan sesuatu yang dingin dan tipis menyentuh rambutnya, seolah ada jari tak terlihat yang menyisir helai demi helai rambutnya dari belakang. 

Ia tersentak, berbalik dengan cepat, namun tak ada siapa pun di sana. Lorong itu kosong, hanya dihiasi bayangan panjang dari perabot yang belum sempat mereka pindahkan. 

Namun, aroma melati layu yang khas kini tercium jelas, menempel di sekitar kepalanya. Aroma yang sama dengan yang ia cium dari foto wanita muram dan jurnal nenek buyutnya. Ia tahu, ia tidak sendirian.

"Sari? Rian?" panggil Arita, suaranya sedikit bergetar. Ia mempercepat langkah, ingin segera berada di dekat anak-anaknya.

Dari kamar anak-anak, ia mendengar suara tawa kecil Sari, yang kemudian disusul oleh suara Endro yang mengintip dari ambang pintu. 

"Arita, kamu tidak apa-apa?" tanya Endro, wajahnya tampak khawatir. "Aku dengar suara gaduh dari dalam rumah."

"Suhu di sini dingin sekali, Endro. Dan lampu mati," jawab Arita, mencoba terlihat tenang. 

Ia tidak ingin membuat Endro panik lebih jauh. "Kamu sudah selesai dengan mobil?"

Endro menggeleng, menghela napas panjang. "Akinya benar-benar mati total. Aku tidak bisa mengerti bagaimana. Tidak ada tanda-tanda kerusakan fisik." 

Ia melihat ke sekeliling ruangan yang temaram, tatapannya menyapu setiap sudut. "Aku juga merasakan hawa dingin yang aneh."

Lihat selengkapnya