Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #10

Bab 10. Isolasi Paksa

Teriakan Sari masih menggema di telinga Arita dan Endro, seolah menusuk gendang telinga mereka, menembus lapisan ketakutan yang kini mulai membatu di hati. 

Suara gemuruh benda-benda yang jatuh dan pecah dari kamar anak-anak mengakhiri keheningan yang menakutkan, digantikan oleh kepanikan yang sesungguhnya.

Endro, tanpa pikir panjang, menggeser tubuh Arita dengan kasar, lalu menendang pintu kamar Sari dan Rian sekuat tenaga. 

Engsel yang sudah lemah akhirnya menyerah dengan suara 'braaak!' yang keras, membuka pemandangan yang membuat jantung mereka mencelos.

Kamar anak-anak hancur lebur. Mainan berserakan di mana-mana, lemari pakaian terbalik, dan pecahan kaca dari jendela yang pecah berserakan di lantai, memantulkan cahaya redup dari senter Endro. 

Sari dan Rian meringkuk ketakutan di bawah tempat tidur, saling memeluk erat, wajah mereka pucat pasi. Air mata mengalir di pipi Sari, isaknya pilu. 

Boneka kelinci kesayangan Sari tergeletak di tengah ruangan, kini dengan salah satu telinganya robek dan matanya lepas.

"Ya Tuhan!" seru Arita, segera menerobos masuk. Ia berlutut, mencoba menjangkau anak-anaknya. "Kalian tidak apa-apa?"

Rian mendongak, matanya memerah. "Ada ... ada yang melempar, Bu! Dia ... dia marah sekali!" Suaranya bergetar, lebih dari sekadar ketakutan anak kecil.

Endro mengamati sekeliling, rahangnya mengeras. Tidak ada tanda-tanda pencuri atau orang masuk dari luar. Semua jendela terkunci, kecuali yang pecah itu. Retakan kaca tampak seperti hasil benturan keras dari dalam. 

"Ini tidak mungkin ulah manusia," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap Arita, wajahnya menunjukkan keputusasaan yang dalam. "Kita harus keluar dari sini. Sekarang juga."

Arita mengangguk, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Ia tahu, logika mereka sudah tidak lagi berlaku di rumah ini. Kekuatan tak kasat mata itu tidak main-main.

Namun, saat mereka hendak bergegas mengumpulkan barang-barang, terdengar suara gemuruh keras dari luar. 

Bukan suara benturan, melainkan suara guntur yang memekakkan telinga, diikuti kilatan cahaya yang terang benderang, menerangi seluruh ruangan sejenak sebelum kembali gelap gulita. 

Hujan mulai turun, deras sekali, menghantam atap dan jendela dengan kekuatan yang mengkhawatirkan.

"Badai!" seru Endro, bergegas ke jendela yang pecah. Angin kencang menerbangkan tirai ke dalam, membawa serta percikan air hujan. Udara di kamar itu terasa dingin membekukan.

Tiba-tiba, lampu senter di tangan Endro berkedip-kedip, lalu padam total. 

Gelap. 

Gelap yang pekat dan mencekik. 

Mereka terperangkap dalam kegelapan yang absolut, hanya dipecah oleh kilatan petir sesekali dan suara gemuruh guntur yang seolah membelah langit.

Lihat selengkapnya