Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #11

Bab 11. Boneka Kancing Hitam

Di tengah badai yang mengamuk di luar, keheningan di dalam rumah terasa semakin menyesakkan. 

Suara senandung Larasati, yang kini terdengar lebih jelas dan merasuk, seolah menjadi soundtrack mengerikan bagi isolasi paksa mereka. 

Arita memeluk erat kedua anaknya, berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan, meskipun tubuhnya sendiri bergetar hebat. 

Ia menatap Endro, yang berdiri tegak di depan pintu, matanya menyapu kegelapan seolah mencoba menembus dinding tak terlihat yang mengurung mereka.

"Kita tidak bisa tinggal diam seperti ini," bisik Endro, suaranya tegang. Ia menoleh pada Arita. "Kita harus mencari cara. Mungkin di jurnal itu ada petunjuk lain."

Arita mengangguk, rasa dingin yang merayap di punggungnya semakin kuat. Ia teringat percakapan mereka sebelumnya tentang jurnal nenek buyut Larasati. 

Di tengah kepanikan semalam, mereka sempat mengabaikannya. Kini, di tengah kegelapan dan badai, jurnal itu terasa seperti satu-satunya harapan yang tersisa.

Dengan hati-hati, Endro menyalakan lilin yang baru saja mereka temukan, membiarkan cahaya remang-remangnya sedikit mengusir kegelapan pekat di ruang keluarga. 

Arita meraih jurnal tua itu dari meja, kain beludru lusuhnya terasa dingin di tangannya. Ia membuka halaman-halaman yang rapuh, mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan. 

Tulisan tangan Larasati yang samar-samar mulai membentuk gambaran yang lebih jelas tentang penderitaannya. 

Ia menulis tentang "penjaga rumah" yang terusik, tentang "kesedihan yang mengakar", dan tentang sebuah "kunci" yang harus ditemukan.

"Kunci?" bisik Arita, matanya terpaku pada kalimat itu. 

"Apa maksudnya kunci? Kunci untuk keluar dari sini? Atau kunci untuk memahami?"

Saat Arita tengah membacakan bagian itu dengan suara lirih, Rian tiba-tiba bangkit dari tidurnya. 

Ia berjalan menghampiri Arita, matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan seperti sebelumnya, melainkan tatapan yang aneh, kosong, namun fokus. 

Ia meraih tangan Arita, jemarinya yang kecil terasa dingin.

"Boneka itu," kata Rian, suaranya datar, berbeda dari biasanya. "Dia bilang dia tahu kuncinya."

Arita dan Endro saling pandang. "Boneka yang mana, Sayang?" tanya Arita lembut, berusaha mengendalikan getaran dalam suaranya. 

Ia melihat Sari masih tertidur pulas di pangkuannya, seolah tak terpengaruh oleh percakapan ini.

Lihat selengkapnya