Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #12

Bab 12. Peta Tersembunyi

Penemuan ukiran simbol kuno di balok kayu loteng, yang ternyata sama persis dengan yang mereka temukan di celah dinding kamar, telah membuka babak baru dalam misteri rumah tua ini. 

Boneka kain yang tiba-tiba terkulai lemas setelah Rian menyentuh ukiran itu, seolah menjadi penjaga gerbang menuju sesuatu yang lebih dalam. 

Jurnal Larasati, yang kini berada di tangan Arita, terasa semakin berat, bukan hanya karena usianya, tetapi karena beban rahasia yang dikandungnya. 

Badai di luar mulai mereda, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam rumah. Cahaya lilin yang mereka gunakan berkedip-kedip lemah, seolah enggan menyingkirkan kegelapan yang terasa semakin pekat.

"Aku rasa kita harus kembali ke jurnal itu," kata Arita, suaranya serak, berusaha menahan getaran yang masih tersisa di tubuhnya. 

Ia menatap Endro, yang wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Ada sesuatu tentang kunci yang disebutkan Rian, dan simbol ini ... pasti ada hubungannya."

Endro mengangguk setuju. Ia meraih jurnal itu dari Arita, membolak-balik halaman-halamannya yang rapuh dengan sangat hati-hati. 

"Larasati menulis di sini tentang 'penjaga' yang terbangun jika kunci salah digunakan," katanya, matanya menyipit saat membaca tulisan tangan yang hampir pudar. "Dia juga menyebutkan sebuah 'peta tersembunyi' yang akan menunjukkan jalan keluar ... atau jalan masuk."

"Jalan masuk?" Arita mengulanginya, rasa dingin kembali merayap di punggungnya. "Jalan masuk ke mana?"

"Entahlah. Tulisannya samar di bagian ini. Sepertinya ada yang merusak halaman ini," jawab Endro, menunjuk pada area halaman yang terbakar sebagian. "Tapi dia menyebutkan 'ruang tersembunyi' di bawah fondasi rumah."

Mereka saling bertukar pandang. Ruang bawah tanah. Tempat di mana Endro dan Rian sempat mendengar geraman misterius. 

Tempat di mana ukiran simbol itu pertama kali mereka temukan, meski saat itu tertutup lemari.

"Aku ingat ukiran itu," kata Arita pelan. "Saat Rian menyentuhnya, boneka itu bergerak. Dan sekarang, kita menemukan ukiran yang sama di sini." 

Ia membuka kembali foto-foto lama yang ditemukannya kemarin, mencari sesuatu yang mungkin terlewat. Ia menatap foto wanita muda berbaju kebaya putih itu, mencoba mencari petunjuk di matanya yang muram. 

"Nenek Larasati ... dia pasti berusaha memberitahu kita sesuatu melalui semua ini."

Sementara Arita larut dalam pemikirannya, Rian, yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba bangkit. Ia berjalan ke arah tumpukan buku-buku tua yang tergeletak di sudut ruangan. 

"Ayah, Ibu," panggilnya, suaranya tenang namun penuh arti. "Lihat ini."

Lihat selengkapnya