Desahan udara dingin yang pekat, bercampur dengan aroma anyir yang menusuk hidung, menyambut Endro dan Arita saat batu besar di dinding ruang bawah tanah itu bergeser lebih jauh.
Cahaya kebiruan yang redup mulai memancar dari celah yang kini cukup lebar untuk dilewati satu orang.
Arita merasakan bulu kuduknya berdiri tegak, bukan hanya karena dingin yang menggigit, tetapi juga karena sensasi kehadiran yang kuat, yang entah bagaimana terasa begitu kuno dan penuh kesedihan.
Bayangan hitam samar yang dilihat Arita meliuk-liuk di dalam celah itu, seolah menyambut mereka, namun dengan cara yang tidak ramah.
"Apa itu?" bisik Arita, suaranya nyaris tak terdengar, tangannya mencengkeram lengan Endro begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Endro, meskipun wajahnya pucat pasi, tidak melepaskan linggisnya. Matanya menyipit, mencoba menembus kegelapan yang memancar dari celah itu.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya ini ... ruangan tersembunyi yang dimaksud peta itu."
Ia melirik ke arah Arita, kemudian kembali ke celah itu. "Kita harus memeriksanya. Ini mungkin kunci untuk memahami segalanya."
"Tapi geraman itu ...." Arita mengingatkan, suaranya bergetar. Geraman yang mereka dengar sebelumnya, yang terasa begitu dekat dan penuh ancaman.
"Kita akan berhati-hati." Endro meyakinkan, meskipun nada suaranya sendiri menunjukkan keraguan.
Ia mengarahkan senternya ke dalam celah. Cahaya itu menyorot sebuah ruangan kecil yang tampak seperti bilik batu yang lembap.
Dindingnya dilapisi lumut hijau tua, dan di tengah ruangan itu, berdiri sebuah altar batu yang sederhana namun aneh.
Di atas altar itu, tergeletak benda-benda yang tampak seperti sisa-sisa ritual kuno: tulang-tulang kecil yang sudah lapuk, beberapa helai rambut yang tampak seperti rambut manusia, dan sebuah mangkuk keramik retak yang berlumuran sesuatu yang kering dan gelap.
Dan di tengah semua itu, sebuah ukiran spiral besar terukir jelas di permukaan altar. Simbol yang sama persis dengan yang mereka temukan di loteng, di dinding kamar, dan di buku tua itu.
"Ini ... ini tempat ritual," gumam Endro, rasa ngeri mulai menguasainya.
Ia teringat cerita tetua desa tentang ritual yang gagal dan kesedihan yang berakar.
Arita menatap altar itu, jantungnya berdebar semakin kencang. Ia merasa seolah tempat ini menyimpan beban kesedihan yang luar biasa, sebuah energi yang begitu pekat hingga terasa menyesakkan.
Ia melirik ke arah Rian dan Sari yang kini terbangun lalu mencari orangtuanya, kini berdiri di belakang mereka. Wajah mereka pucat pasi, mata mereka membelalak penuh ketakutan namun juga rasa penasaran yang aneh.
Sari bersembunyi di balik kaki Endro, sementara Rian, meskipun ketakutan, tatapannya terpaku pada ukiran spiral di altar.
"Itu ... itu simbolnya." Rian berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.