Keheningan yang dingin dan memekakkan telinga kembali menyelimuti bilik batu di ruang bawah tanah.
Geraman yang menyayat hati kini mereda, tergantikan oleh bisikan yang terasa merayap dari setiap celah dinding: "Dia tidak akan pernah pergi ... sampai dia menemukan kedamaian ...."
Liontin perak di tangan Arita terasa semakin dingin, seolah menyerap seluruh kehangatan dari tubuhnya, dan ukiran spiral di permukaannya bersinar redup, berdenyut pelan seperti jantung yang kelelahan.
Arita masih mematung, kilasan penglihatan masa lalu Larasati masih berkelebat di benaknya—kesendirian, pengkhianatan, dan kesedihan yang membatu.
Endro menatapnya, wajahnya penuh pertanyaan yang tak terucap.
"Arita? Kamu ... kamu melihat apa?" tanya Endro, suaranya tercekat. Ia mencoba mendekap Arita, namun tubuh istrinya terasa dingin dan kaku.
Arita mendongak, matanya masih membelalak. "Aku melihatnya, Endro. Aku melihat Larasati. Dia ... dia ditinggalkan di sini. Dia sangat sedih. Pria yang dia cintai mengkhianatinya, lalu dia menghilang. Dan liontin ini ... itu miliknya."
Jari-jemarinya mengelus permukaan liontin itu, merasakan energi dingin yang memancar. "Kesedihan itu ... itu bukan hanya cerita. Itu nyata. Itu yang mengikatnya di sini."
Endro mengambil alih liontin itu, merasakan sengatan dingin yang sama. "Jadi, dia bukan hanya roh penjaga. Dia adalah roh yang terjebak."
Ia mengamati sekeliling bilik batu yang sempit itu, mencari celah, mencari jalan keluar. Batu besar yang menutup pintu masuk kini terasa semakin kokoh, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinding.
"Tapi bagaimana kita bisa keluar dari sini? Kita terjebak."
Endro dan Arita serta kedua anak mereka saling bertukar pandang, penuh rasa horor bercampur dengan kecemasan.
Ia mencoba mendorong batu itu lagi dengan linggisnya, mengerahkan seluruh tenaganya, namun batu itu tak bergeming.
"Arita, mungkin liontin ini kuncinya," bisik Endro. Ia menatap liontin itu, yang kini bersinar lebih terang. "Coba kamu pegang lagi. Mungkin ada petunjuk."
Arita mengambil liontin itu kembali. Saat jemarinya menyentuh permukaan perak yang dingin, penglihatan baru muncul.
Ia melihat Larasati, tidak lagi menangis, tetapi menunjuk ke arah ukiran spiral di altar batu.