Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #15

Bab 15. Identitas Sang Entitas

Kepergian mereka dari desa meninggalkan kesan yang mendalam. Kata-kata tetua adat tentang ritual pelepasan jiwa, tentang pengorbanan yang lebih dalam, dan tentang peringatan mengenai bagian gelap Larasati yang akan memecah belah keluarga, terus bergema di benak Arita dan Endro. 

Mereka kembali ke rumah tua itu dengan pemahaman baru, namun juga dengan beban ketakutan yang semakin berat. Rumah itu kini terasa bukan hanya sebagai warisan, melainkan sebagai penjara tak kasat mata yang mengancam untuk menelan mereka.

Sepasang suami istri muda itu kembali ke rumah tua dengan penuh pemahaman baru, setiap langkah terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. 

Kata-kata tetua adat berputar-putar di kepala Arita, "Bukan darah atau nyawa, Nak. Ritual itu membutuhkan pengorbanan yang lebih dalam. Pengorbanan untuk memahami akar kesedihan Larasati. Kalian harus ingat-ingat hal ini ya." 

Mereka kini tahu identitas roh yang mengikat rumah ini ternyata adalah nenek buyut Arita sendiri, perempuan berbaju putih kuno bernama Larasati, yang dulu selalu terperangkap oleh penyesalan dan sebuah ritual yang tak pernah tuntas. 

Peringatan tetua tentang bagian gelap Larasati yang tidak ingin pergi, yang akan mencoba memecah belah mereka melalui anak-anak, terasa menusuk ke ulu hati Arita.

Rumah itu menyambut mereka dengan keheningan yang menyesakkan, berbeda dari ketegangan sebelumnya. Sekarang keheningan itu terasa seperti tatapan kosong, penuh penantian. 

Sari dan Rian, yang tadi ditinggalkan di rumah dengan pesan untuk tidak menyentuh apa pun, kini duduk meringkuk di sofa ruang keluarga, terlihat lebih ketakutan.

"Bagaimana kalian, anak-anak, Sari ... Rian? baik-baik saja kan?" tanya Arita, suaranya lembut, berlutut di depan kedua anaknya. Ia memeluk Sari erat, merasakan tubuh kecil itu masih bergetar.

Rian mendongak, matanya yang biasanya penuh rasa ingin tahu kini terlihat sayu. "Aku ... aku dengar suara tangisan dari loteng, Bu. Tapi saat aku mau lihat, tiba-tiba ada suara seperti kaca pecah dari dapur."

Endro menghela napas panjang. "Sudah, jangan pikirkan itu. Kita sudah kembali sekarang. Tidak ada yang akan menyakiti kalian." 

Ia mencoba meyakinkan anak-anak, namun Arita tahu, Endro sendiri pun tak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya.

Lihat selengkapnya