Rumah tua itu kini terasa seperti organisme hidup yang sedang membusuk. Setelah penemuan jurnal Larasati dan rentetan kejadian mistis yang tak lagi bisa disangkal oleh nalar, atmosfir di kediaman jati tersebut berubah drastis. Endro tidak lagi sibuk dengan sampel cat atau renovasi fisik. Fokusnya kini hanya pada satu hal: melindungi Arita, Rian, dan Sari dari cengkeraman kegelapan yang semakin merapat setiap kali matahari terbenam.
Arita berdiri di depan cermin besar di lorong lantai dua. Ia memperhatikan pantulannya sendiri. Wajahnya tampak pucat, garis-garis kelelahan tercetak jelas di bawah matanya. Namun, bukan itu yang membuatnya bergidik. Di dalam cermin, tepat di belakang pantulan bahunya, ia melihat gumpalan kabut hitam yang bergerak melambat.
Arita memutar tubuh, namun lorong itu kosong. Hanya ada aroma melati layu yang kini bukan lagi sekadar aroma, melainkan bau busuk yang memenuhi setiap pori-pori rumah.
"Endro," panggil Arita dengan suara bergetar. Ia menemukan suaminya di ruang keluarga, sedang mencoba menelepon kenalan lamanya—seorang ahli sejarah lokal—namun sinyal ponselnya terus terputus, menyisakan suara statis yang terdengar seperti jeritan manusia yang diperlambat.
Endro melempar ponselnya ke meja dengan frustrasi. "Tidak ada sinyal. Sama sekali. Bahkan telepon rumah pun mati. Kita benar-benar terputus dari dunia luar."
"Aku melihatnya lagi, Endro. Kali ini di cermin," Arita memeluk dirinya sendiri. "Dan rumah ini ... dia tidak lagi sekadar berbisik. Dia mulai 'menuntut'."
Baru saja kata-kata itu terucap, seluruh lampu di rumah itu meledak secara bersamaan. Bunyi letupan kaca yang pecah bersahutan dari setiap sudut rumah, menciptakan kegelapan total yang pekat. Rian dan Sari berteriak dari kamar mereka. Endro segera menyalakan senter besar yang selalu ia siapkan di meja. Cahaya putih terang itu membelah kegelapan, namun apa yang mereka lihat di dinding ruang keluarga membuat mereka terpaku.
Simbol spiral yang mereka temukan di loteng dan ruang bawah tanah kini muncul di setiap permukaan dinding ruang keluarga. Bukan sekadar tergambar, melainkan seolah terukir dari dalam kayu, mengeluarkan cairan hitam kental yang terus menetes ke lantai. Simbol itu tampak seperti detak jantung yang berkedip, menyala redup dengan warna ungu pucat.