Keluarga Endro dan Arita kini sepenuhnya menyadari bahwa mereka tidak hanya menghadapi rumah tua yang angker, tetapi juga sebuah entitas yang memiliki kekuatan nyata dan niat yang jelas.
Peringatan dari tetua adat tentang bagian gelap Larasati yang akan memecah belah mereka melalui anak-anak kini terasa sangat nyata.
Perubahan pada diri Sari, tawa dingin yang keluar dari mulutnya, dan kini ukiran simbol kuno yang muncul di berbagai tempat, semua itu mengindikasikan bahwa "penjaga" rumah itu—atau mungkin Larasati sendiri dalam manifestasi yang paling gelap—telah terbangun sepenuhnya.
Malam itu, setelah badai reda dan listrik kembali menyala, suasana di rumah terasa sedikit lebih ringan, namun ketegangan tetap menggantung di udara.
Mereka duduk di ruang keluarga, dikelilingi jurnal Larasati, peta tua, dan liontin perak yang kini terasa lebih dingin dari biasanya. Endro membolak-balik halaman jurnal dengan hati-hati, mencari petunjuk lebih lanjut tentang ritual yang disebutkan oleh tetua adat.
"Ritual penenang ... sepertinya Larasati memang ingin diperhatikan," kata Endro, mengernyit saat membaca baris yang hampir tak terbaca. "Dia menulis tentang 'mempersembahkan sesuatu yang paling berharga' untuk menenangkan roh yang marah."
Arita menatap liontin perak di tangannya. Benda ini terasa begitu personal bagi Larasati, bukti cinta dan pengkhianatan yang ia alami.
Namun, apakah itu cukup berharga untuk menenangkan kekuatan yang begitu besar?
Ia juga teringat pada boneka kain tua yang Rian temukan di loteng, boneka yang seolah menjadi perantara entitas itu.
"Sesuatu yang paling berharga ...." Arita bergumam, pikirannya melayang pada barang-barang pribadinya.
Gaun pengantin ibunya, album foto keluarga, mungkin juga boneka kelinci Sari yang sudah usang namun sangat disayangi. Tapi apakah itu cukup? Terlalu banyak ketidakpastian.
Sementara mereka berdiskusi, Rian, yang sedari tadi duduk tenang di dekat mereka, tiba-tiba bangkit.
Ia berjalan perlahan menuju kamar tua yang pintunya sempat terkunci, yang mereka temukan saat mencoba membuka celah di dinding.
Kamar itu masih diselimuti debu tebal, dan bau apak bercampur aroma melati layu terasa lebih kuat di sana.
Rian tampak tertarik pada sebuah lemari kayu jati tua di sudut ruangan, lemari yang sama tempat ia menemukan boneka kain itu sebelumnya.
"Aku rasa ... ada sesuatu di dalam lemari ini," kata Rian, suaranya tenang, seolah ia sedang merasakan kehadiran di sana. Ia mencoba membuka pintu lemari yang macet.
Endro segera menghampiri Rian. "Hati-hati, Nak," katanya, lalu ikut membantu mendorong pintu lemari.
Dengan sedikit usaha, pintu lemari itu terbuka dengan suara derit yang keras. Di dalamnya, tergantung beberapa potong pakaian kuno yang sudah lapuk.
Namun, di bagian paling belakang, di balik tumpukan kain yang berdebu, terselip sebuah kotak kayu kecil yang terbungkus kain beludru lusuh.
"Ini dia," bisik Endro, mengambil kotak itu. Ia merasakan dingin yang sama seperti yang Arita rasakan saat memegang liontin itu.