Suara teriakan Sari dari dalam kamar masih memantul di dinding-dinding lorong, tajam dan menyayat, memutus konsentrasi Endro dan Arita yang sedang menyiapkan ritual di ruang keluarga.
Tanpa memedulikan tongkat besi atau lilin yang sedang mereka susun, Endro melesat lebih dulu, menerjang kegelapan lorong dengan langkah kaki yang menghantam lantai kayu hingga berderit protes.
Arita membuntuti tepat di belakangnya, napasnya tersengal, dadanya sesak oleh ketakutan yang mencekam. Sesuatu yang buruk sedang terjadi, dan ia tahu, kali ini entitas itu tidak lagi bermain-main.
Pintu kamar Sari tidak terkunci, namun saat Endro menarik gagangnya, pintu itu terasa berat, seolah tertahan oleh tekanan udara yang masif dari balik kayu tersebut.
Dengan satu sentakan kuat, pintu terbuka. Pemandangan di dalam kamar membuat darah Arita seolah membeku di pembuluh nadinya.
Kamar itu tidak lagi tampak seperti kamar anak-anak yang ceria.
Dinding-dindingnya seakan basah, mengeluarkan cairan hitam kental yang berbau anyir, seperti darah yang bercampur dengan tanah kuburan.
Sari berdiri di tengah ruangan, membelakangi pintu. Kepalanya tertunduk, sementara bahunya berguncang hebat.
Di sekelilingnya, mainan-mainan kayu beterbangan di udara, berputar membentuk pusaran yang kacau, menghantam dinding dan lemari dengan kekuatan yang brutal.
Rian terpojok di sudut ruangan, wajahnya pias, menutupi kepala dengan kedua tangannya sambil berteriak histeris, mencoba melindungi diri dari lemparan benda-benda yang bergerak liar.
"Sari! Nak, menjauhlah dari sana!" teriak Arita. Suaranya pecah, namun ia tetap melangkah masuk, mengabaikan cairan hitam yang kini menggenangi lantai, membuat langkahnya licin.
Sari perlahan berbalik. Wajahnya tidak lagi tampak seperti anak kecil berusia tujuh tahun. Matanya, yang biasanya memancarkan kepolosan, kini berubah menjadi sepasang lubang hitam yang hampa dan gelap.
Bibirnya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlalu dewasa, terlalu kejam, dan terlalu dingin untuk wajah semanis itu.
"Ibu datang untuk bermain?" tanya Sari. Suaranya bukan lagi suaranya sendiri, itu adalah suara Larasati, serak dan penuh gema, seolah diucapkan oleh ribuan tenggorokan yang berteriak secara bersamaan.
Di saat yang sama, sisi gelap Larasati muncul dari balik bayangan lemari. Sosok itu bukan lagi sekadar bayangan, melainkan massa energi gelap yang membentuk figur wanita dengan kebaya yang koyak dan kulit yang pucat pasi, hampir transparan namun sangat nyata.
Sosok itu melayang, memancarkan hawa dingin yang begitu ekstrem hingga embun beku mulai terbentuk di permukaan cermin kamar anak-anak tersebut.
Endro melangkah maju, mengangkat tongkat besinya, meski tangannya gemetar. "Cukup! Kami tidak akan membiarkanmu mengambilnya! Pergi dari rumah ini!" teriaknya.