Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #19

Bab 19. Pengorbanan yang Tak Terduga

Keheningan yang mengikuti tertutupnya pintu kamar itu terasa lebih menyakitkan daripada jeritan apa pun. Endro memukul pintu kayu jati tersebut dengan kepalan tangannya yang berdarah, namun pintu itu bergeming, seolah telah menyatu dengan tembok. Di dalam sana, Arita berhadapan dengan bayangan Brama—sang arsitek di balik penderitaan rumah ini.

Di dalam kamar yang kini terasa seperti ruang hampa udara, Arita mencoba mengatur napasnya yang tercekat. Aroma melati layu yang tadi ia cium kini berubah menjadi bau belerang yang menyengat, memenuhi setiap jengkal ruangan. Bayangan pria itu bergerak mendekat, langkah kakinya tidak menyentuh lantai, namun suaranya terdengar seperti gesekan pisau di atas permukaan kaca.

"Kau pikir kau bisa mengakhiri ini dengan melodi murahan itu, Arita?" Suara Brama dingin, bergema dari segala arah, bukan dari satu titik. Pria itu kini berdiri tepat di depan Arita. Wajahnya tetap kabur, hanya lubang hitam yang dalam di tempat mata seharusnya berada.

"Larasati hanyalah pion. Dia adalah wadah untuk menampung kemarahanku selama lima puluh tahun. Dan kau, kau datang ke sini untuk membebaskannya? Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan keluargamu."

Arita mencoba menjaga tubuhnya tetap tegak, meski kakinya gemetar hebat. Ia tidak boleh terlihat lemah. Jika ia menunjukkan ketakutan, ia tahu pria bayangan itu akan menghancurkannya dalam sekejap. "Larasati bukan pionmu," jawab Arita, berusaha mengeraskan suaranya. "Dia adalah korban dari keserakahanmu. Pengkhianatanmu yang mengikatnya di sini, dan sekarang, aku akan mengakhiri rantai ini."

Brama tertawa, sebuah tawa yang kering dan tidak bernyawa. Ia menggerakkan tangannya ke atas, dan secara perlahan, benda-benda di dalam kamar mulai melayang. Kali ini, benda-benda itu tidak menghantam dinding, melainkan menunjuk ke arah Arita dengan ujung yang tajam. "Keadilan adalah konsep yang naif. Di rumah ini, yang ada hanyalah kekuatan. Dan kau, Arita, hanyalah mangsa baru."

Sementara di luar pintu, Endro tidak berhenti berteriak. "Arita! Buka pintunya! Sialan, buka pintunya!" Namun, suara Endro terdengar jauh, seolah teredam oleh lapisan tebal energi negatif yang membungkus kamar tersebut. Endro mencoba menggunakan linggisnya, namun setiap kali ujung besi itu menyentuh kusen pintu, sengatan listrik yang kuat membuatnya terlempar ke belakang. Rian dan Sari menangis di pelukan ayahnya, menyaksikan keputusasaan yang merambat di wajah Endro.

Di dalam kamar, Brama mulai mempersempit ruang gerak Arita. Bayangannya meluas, menelan cahaya lilin yang dibawa Arita tadi hingga ruangan itu tenggelam dalam kegelapan pekat. "Larasati menyerahkan liontin itu padamu karena dia pikir dia bisa lepas. Tapi kau tahu apa yang sebenarnya terjadi jika liontin itu hancur?" Brama mendekatkan wajahnya yang tak berwajah ke depan Arita. "Bukan dia yang akan pergi. Tapi rumah ini akan sepenuhnya menjadi milikku. Dan kalian semua? Kalian akan menjadi bagian dari dinding-dinding ini selamanya."

Arita merasakan keputusasaan merambat di dadanya, namun ia menolak untuk menyerah. Ia meraba sakunya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Tangannya menyentuh kain beludru di dalam saku—gaun pengantin ibunya yang sempat ia ambil dari gudang sebelum ritual dimulai. Itu adalah barang paling berharga milik keluarganya yang tersisa, sesuatu yang belum sempat ia gunakan untuk ritual karena ia mengira liontin itu adalah kunci utamanya. 

Lihat selengkapnya