Pengorbanan gaun pengantin ibunya meninggalkan jejak kepedihan di hati Arita, namun anehnya, rumah itu terasa sedikit lebih tenang setelahnya.
Api biru dingin yang membakar gaun itu seolah membawa serta sebagian dari energi gelap yang menguasai tempat itu.
Larasati, yang sosoknya sempat terpecah menjadi dua—satu memancarkan cahaya damai, yang lain diselimuti kegelapan—kini tampak lebih fokus pada manifestasi yang damai.
Ia mendekat ke arah Arita, wajahnya yang tadinya muram kini dihiasi ekspresi kesedihan yang mendalam, namun tanpa kebencian.
"Kau mengerti," bisik Larasati, suaranya kini terdengar lebih lembut, walau masih mengandung gema kesedihan yang tak terhingga. Ia menatap Arita, lalu beralih ke Endro, dan terakhir pada Rian serta Sari yang kini bersembunyi di balik kaki Endro. "Kesedihanku ... begitu dalam. Janji yang dilanggar ... cinta yang dikhianati ... membuatku terikat di sini, tak bisa menemukan kedamaian."
Arita merasakan gelombang empati yang kuat. Ia melihat bukan lagi entitas menakutkan, melainkan seorang wanita yang terluka parah, terjebak dalam masa lalunya. "Kami mengerti, Larasati," kata Arita, suaranya tulus. "Kami menemukan surat-suratmu. Kami tahu apa yang terjadi." Ia menunjuk pada liontin perak yang tergeletak di meja. "Dan kami menemukan ini. Kunci dari kesalahpahaman itu, bukan?"
Larasati menatap liontin itu, ekspresinya berubah menjadi campuran antara kesedihan dan kelegaan. "Ya," bisiknya. "Liontin itu... ia menyimpan segalanya. Keinginanku untuk bersama Brama, cintaku padanya, namun juga pengkhianatan yang ia lakukan. Dia mengambil segalanya dariku, lalu meninggalkanku dalam kesendirian yang abadi di rumah ini."
Endro menambahkan, "Tetua adat bilang, kita harus menemukan kebenaran atas penderitaanmu."