Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #21

Bab 21. Pilihan Sulit Sang Penenun Nasib

Arita berdiri mematung di ruang keluarga yang kini terasa seperti medan perang spiritual. Angin dingin yang berputar-putar di sekelilingnya mencabik-cabik ketenangannya, sementara jeritan melengking dari sisi gelap Larasati terus menusuk gendang telinganya. Endro memeluk erat Sari dan Rian di sudut ruangan, tubuh pria itu gemetar namun matanya menatap tajam ke arah sosok Larasati yang kini terbagi dua.

"Kau harus memilih, Arita!" jerit sisi gelap Larasati, suaranya kini terdengar seperti logam beradu. "Kedamaian hanyalah untuk mereka yang lemah! Keadilan adalah satu-satunya jalan untuk membalas dendam yang sudah menumpuk selama setengah abad!"

Arita menatap tajam ke arah sosok itu. Ia menyadari bahwa jika ia memilih 'kedamaian' yang ditawarkan entitas, ia mungkin akan selamat, namun Brama akan tetap bebas dalam bayang-bayang sejarah, dan Larasati akan pergi tanpa pernah benar-benar mendapatkan kebenaran. Jika ia memilih 'keadilan', ia mempertaruhkan nyawa keluarganya dalam sebuah perburuan bukti yang mungkin saja sudah musnah dimakan waktu.

"Aku memilih keadilan," suara Arita bergetar, namun tegas. "Tapi bukan untuk membalas dendam. Aku ingin mengungkap siapa yang menghancurkan hidupmu, Larasati. Aku ingin sejarah mencatat bahwa kau adalah korban, bukan pelaku."

Sisi gelap Larasati terdiam, pusaran kegelapan yang mengitarinya berhenti berputar seketika. Hening. Keheningan itu begitu mencekam hingga detak jantung Arita terdengar seperti genderang perang. Tiba-tiba, sosok Larasati yang bersinar (sisi terang) mendekat dan menggenggam tangan Arita. Sentuhannya hangat, sangat kontras dengan hawa dingin yang sebelumnya memenuhi ruangan.

"Jika itu pilihanmu," bisik sisi terang Larasati, "maka kau harus turun kembali ke tempat di mana semuanya dimulai. Cari apa yang ditinggalkan Brama sebelum dia melarikan diri ke kota besar. Bukti itu ada di balik lantai ruang bawah tanah, di bawah tempat liontin itu ditemukan."

Sisi gelap Larasati segera meraung, "Jangan berikan rahasia itu! Jika mereka tahu, maka tamatlah riwayat kita semua!"

Arita tidak mempedulikan teriakan sisi gelap tersebut. Ia menoleh ke arah Endro. "Endro, kita harus kembali ke ruang bawah tanah. Sekarang!"

Endro mengangguk, melepaskan pelukannya pada anak-anak. "Rian, Sari, tetaplah di sini. Jangan bergerak sedikit pun, apa pun yang kalian dengar." Ia menyambar senter dan linggis yang sempat terjatuh. Mereka berlari menuruni tangga menuju ruang bawah tanah, meninggalkan ruang keluarga yang kini menjadi pusat pertarungan antara sisi terang dan sisi gelap Larasati yang mulai saling menyerang.

Lihat selengkapnya