Suara ketukan itu—tok, tok, tok—terdengar ritmis, seolah ada jemari yang mengetuk dari balik beton padat yang baru saja menutup retakan gaib tadi. Arita dan Endro berdiri mematung di tengah ruang bawah tanah yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Sisa cahaya dari pilar putih peninggalan liontin perak masih berpendar redup, namun kehangatan yang dibawa Larasati telah hilang sepenuhnya.
"Kau dengar itu?" Endro berbisik, suaranya parau. Ia mencengkeram linggisnya lebih erat, buku-buku jarinya memutih. "Itu bukan dari ruang bawah tanah ini. Suaranya... berasal dari dalam dinding itu sendiri."
Arita mendekat ke arah beton yang telah menutup rapat. Ia menempelkan telinganya ke permukaan dinding yang dingin dan kasar. Ketukan itu terhenti, digantikan oleh suara tarikan napas yang berat dan serak. Suara itu bukan milik Larasati, juga bukan milik Brama. Ini adalah sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih purba, sesuatu yang selama ini mungkin terkunci oleh ritual yang tadi malam mereka "ganggu".
"Endro, kurasa kita tidak membebaskan Larasati sendirian," gumam Arita, matanya melebar saat ia merasakan getaran halus di bawah telapak tangannya yang menempel pada dinding. "Ada sesuatu yang lain di balik sana, dan dia... dia marah karena dinding ini kembali tertutup."
Tiba-tiba, dinding beton itu tidak lagi padat. Ia mulai melunak, seolah berubah menjadi lumpur hitam yang pekat. Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih cepat, lebih agresif. Sesuatu sedang mencoba memaksa keluar dari ruang yang seharusnya tidak ada.
"Kita harus pergi dari sini, sekarang!" Endro menarik Arita, namun Arita terpaku. Di dalam lumpur hitam yang perlahan mengeras kembali menjadi dinding itu, muncul cetakan telapak tangan. Telapak tangan yang terlalu besar, dengan jari-jari yang panjang dan kuku yang tajam, meninggalkan bekas yang dalam pada beton.
"Brama dan Larasati hanyalah tirai penutup," Arita berbisik dengan ngeri. Ia teringat jurnal itu, bagian yang terbakar. Bagian yang ia pikir adalah akhir dari ritual, ternyata adalah peringatan. "Kita bukan sedang membantu mereka. Kita baru saja membukakan pintu bagi sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang tertidur di bawah fondasi kota ini."
Mereka berlari menaiki tangga, meninggalkan ruang bawah tanah itu. Suara ketukan dari balik dinding semakin keras, berubah menjadi dentuman-dentuman yang membuat struktur rumah berguncang. Kayu jati di rumah itu merintih, paku-paku melompat keluar dari sambungan dinding. Saat mereka sampai di lantai dasar, mereka menemukan Rian dan Sari berdiri di tengah ruang keluarga, menatap ke arah lantai yang mulai retak di bawah kaki mereka.
"Ayah, Ibu," Rian menunjuk ke bawah. "Ada hitam-hitam yang keluar dari celah lantai."
Cairan pekat, mirip dengan yang mereka lihat di kamar Sari, kini merembes keluar dari setiap celah lantai kayu. Cairan itu tidak berbau busuk, melainkan berbau logam, seperti darah tua yang sudah teroksidasi. Arita menyadari bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah segel. Dan segel itu sedang retak.