Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #23

Bab 23. Bayang-Bayang di Balik Pintu

Suara ketukan itu—tok, tok, tok—bukan sekadar dentum kayu biasa. Itu adalah ritme yang menyiksa, penuh kesabaran predator yang tahu bahwa mangsanya tak lagi memiliki jalan keluar. Arita memeluk Rian dan Sari begitu erat hingga mereka hampir sulit bernapas. Mereka bertiga meringkuk di sudut loteng yang pengap, dikelilingi oleh tumpukan perabot tua yang kini tampak seperti siluet monster di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah atap.

"Ibu, siapa yang mengetuk?" bisik Sari, suaranya parau karena isak tangis yang terus-menerus.

"Jangan bicara, Sayang," jawab Arita berbisik, jemarinya membungkam mulut putrinya. Matanya tertuju lurus pada pintu loteng yang tebal.

Tok, tok, tok.

Ketukan itu kali ini disertai suara gesekan kuku panjang di permukaan pintu. Arita bisa membayangkan kuku-kuku hitam yang tajam itu merobek kayu, seperti saat tangan hitam tersebut muncul dari lantai ruang keluarga dan menyeret Endro ke dalam kegelapan. Kenangan itu membuat perutnya mual. Endro—suaminya yang tangguh—telah lenyap dalam sekejap mata, tersedot ke bawah tanah oleh sesuatu yang bahkan tak bisa ia definisikan. Apakah Endro masih hidup? Ataukah ia sudah menjadi bagian dari massa hitam itu?

Tiba-tiba, pintu loteng yang kokoh itu bergetar hebat. Sesuatu dari luar sedang menabrakkan tubuhnya. Brak! Dinding loteng berderit, debu tua berjatuhan dari langit-langit, menutupi rambut mereka dengan lapisan kelabu yang menyesakkan.

"Ibu, apa Ayah akan kembali?" tanya Rian, matanya yang besar menatap kosong ke arah pintu.

Arita tak punya jawaban. Ia hanya bisa menggeleng pelan. Di tengah kekacauan itu, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di lantai dekat tumpukan peti. Itu adalah liontin perak Larasati. Saat Arita tadi terjatuh di tangga, liontin itu terlepas dari lehernya. Kini, liontin itu memancarkan cahaya perak yang redup, berdenyut pelan di tengah kegelapan, seolah mencoba berkomunikasi.

"Ambil itu," bisik sebuah suara halus di telinga Arita. Bukan suara Brama, bukan suara Larasati. Itu adalah suara ketenangan yang aneh, seolah suara hatinya sendiri namun terasa sangat asing.

Arita perlahan melepaskan pelukannya, merangkak di lantai loteng yang dipenuhi serpihan kayu tajam. Ia mengabaikan rasa sakit yang menusuk lututnya. Tepat saat tangannya hendak mencapai liontin itu, pintu loteng retak. Sebuah celah gelap muncul, dan melalui celah itu, sepasang mata merah menyala menatap tajam ke dalam. Bukan mata manusia. Itu adalah tatapan kosong yang haus akan jiwa.

Lihat selengkapnya