Senandung Rumah Tua

riwidy
Chapter #24

Bab 24.Pelepasan dan Kedamaian

Suara Endro menghantam dinding masih menggema di telinga Arita, memecah keheningan yang mencekam setelah serangan bayangan gelap Larasati. Endro terbatuk, tubuhnya tergeletak lemah di lantai, namun tangannya masih berusaha meraih Rian dan Sari, yang kini meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Sementara itu, Arita melihat sosok Larasati yang bersinar perlahan memudar, seolah energi positifnya terkuras oleh kemarahan sisi gelapnya. Sisi gelap Larasati, yang tampak seperti massa kegelapan pekat, kini bergerak mengitari mereka, memancarkan aura dingin yang membekukan.

"Endro!" Arita berteriak, suaranya tercekat. Ia tahu, jika sisi terang Larasati memudar sepenuhnya, mereka akan menghadapi kemarahan yang tak terkendali. Ini adalah pilihan. Pilihan antara kedamaian atau keadilan, seperti yang Larasati katakan. Tapi sekarang, Arita tahu, keadilan tanpa kedamaian hanya akan membawa lebih banyak penderitaan.

Arita mengulurkan tangannya ke arah sosok Larasati yang bersinar, yang kini tampak seperti siluet rapuh yang nyaris transparan. "Larasati! Dengarkan aku!" teriaknya, mengabaikan rasa dingin yang menusuk dan bisikan jahat dari sisi gelap Larasati yang mengitarinya. "Kami sudah menemukan kebenaran! Brama... dia mengkhianatimu! Dia membuat surat wasiat palsu! Kami akan membersihkan namamu! Kami akan mencari keadilan yang kau inginkan!"

Sisi gelap Larasati mendesis marah, seolah tidak suka dengan kata-kata Arita. Angin kencang bertiup di dalam ruangan, menerbangkan barang-barang kecil, mencoba menggoyahkan fokus Arita. Namun, Arita bertahan, matanya terpaku pada sosok Larasati yang bersinar.

"Kau tidak perlu lagi menanggung beban ini sendirian!" lanjut Arita, suaranya penuh empati. Ia merasakan sakit yang Larasati alami, kesedihan yang membatu, kemarahan yang membara karena ketidakadilan. "Kami mengerti! Kami merasakan penderitaanmu! Tapi keadilan sejati... itu juga berarti kau harus menemukan kedamaian! Bukan terus terikat oleh kemarahan dan penyesalan ini!"

Endro, yang mulai sadar, mencoba bangkit. Ia mengamati Arita, lalu beralih ke sosok Larasati yang terpecah. "Arita benar, Larasati!" teriak Endro, suaranya sedikit parau. "Biarkan kami membantumu! Beristirahatlah! Kami akan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan!"

Sari dan Rian, yang tadi menangis ketakutan, kini terdiam. Mereka menatap Arita dan Endro, lalu ke arah sosok Larasati yang bersinar, yang kini tampak sedikit lebih jelas, seolah kata-kata Arita memberinya kekuatan. Namun, sisi gelap Larasati semakin agresif. Ia berputar lebih cepat, menciptakan pusaran energi dingin yang menarik napas mereka.

"Dia tidak akan membiarkanmu pergi!" desis suara dari sisi gelap Larasati, suaranya terdengar seperti tawa cekikikan anak kecil yang bercampur dengan erangan wanita dewasa, menyerang telinga mereka. "Dia adalah penjagamu! Dia akan mengikatmu selamanya!"

Lihat selengkapnya