Pinggiran jalan kota mulai membara. Panas matahari mengudara mendera. Seolah-olah neraka duplikat menjelma. Memang itu tak sepandai bila terus diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin hanya sebuah konsep ilusi semata. Tetapi memang seperti itu kejadiannya.
Matahari membelenggu jalan kota. Aspal terasa bergetar tajam dan menerka udara lava. Seolah-olah emosi panas memberangas ketika siang telah menjelma. Tamparan matahari menjelang siang seperti udara sesak dan membara. Cahaya panas seperti air mendidih dalam tungku memberikan keperkasaan sang surya menjangkau jalanan kota.
Berdiri disudut kanan.
Aku seorang anak remaja, tinggi dan jangkung. Seragam SMK masih melekat menemaniku. Kedua lengan bajuku dilipat memang terlihat sangar ataupun garang. Tetapi memang itu tujuanku. Tubuhku tinggi dan kokoh memandang tajam didepan. Aku seperti manusia panas dengan emosi luapan lava. Dahiku mengeryit penuh kekesalan dan kemarahan. Mataku memiliki ekspresi seperti elang memburu mangsa. Emosiku tertahan dalam kepalan tangan menguat tajam. Posisi tegap gagah berani aku membentangkan ancaman. Kurasa aku cukup kuat dan perkasa menunjukkan taji sebagai preman sekolah yang sok kuat.
Sementara dibelakangku ada beberapa anak remaja teman sekelompokku. Mereka garang dan mengancam. Mereka teman sekolahku sekaligus teman tawarun. Mungkin lima hingga tujuh orang. Tubuh mereka tinggi dan jangkung hampir memiliki rata-rata sama. Matanya mereka menekan tajam seperti harimau menyerang. Mereka tegap dan gagah berani membentangkan pandangan dengan mengancam menantang.
Namaku Sutasoma. Pemimpin tawuran SMK terburuk di Jakarta. Sekolahku memang terbilang kelas kakap untuk konsumsi berandal dan preman. Walaupun sebenarnya banyak orang-orang pintar juga sih. Tetapi sangat jarang. Paling hanya segelintir dari jumlah siswa semuanya.
Walaupun SMKku terburuk tetapi rata-rata prestasi sekolahku merupakan unggulan. Karena guru sekolahku sangat lihai mengolah pembelajaran. Begitu murid dididik dengan pengetahuan dan moral menyakinkan. Tetapi sayang para murid masih tetap bandel dan bengal untuk melakukan perbuatan buruk yang merusak tatanan. Murid disekolahanku akan baik bila tidak ada api tersulut. Mereka akan tetap diam dan mengikuti aturan yang menyakinkan kebenaran.
Jadi banyak sekolah yang iri dan tak suka pada prestasi sekolahku. Salah satunya SMA terbaik dari Jakarta. Mereka kalah bersaing dalam merebut juara 1 dalam kompentensi sekolah berprestasi. Sekolahku masuk nominasi pada tahun ini. Mereka tak terima hingga terjadi tawuran di jalan kota dekat terminal bus Jakarta menjadi pilihan untuk menyelesaikannya.
Aku berdiri menerkam tajam. Dahinya mengeryit tajam dan mengancam. Mataku memberikan tekanan dan intimidasi terhadap remaja didepanku. Emosi kami berkumpulan tajam dalam kepalan tangan. Kami siap bertempur dalam menaikkan harga diri kami.
Di sudut kiri.
Dia bertubuh tinggi, jangkung dan gempal. Rambutnya gimbal dan menerkam tajam membalikkan tatapan. Dia memandang menantang. Dahinya mengeryit sangat mengerikan. Seragam SMA masih disandangnya. Dia adalah Bargawa pemimpin SMA terbaik dari Jakarta. Wajahnya seperti termakan cuaca tetapi memang sedikit tampan. Dia terbilang anak prestasi di SMAnya. Tetapi emosi seperti merapi mengeluarkan lava. Kejam dan bengis tampak menyiratkan raut muka yang perkasa.
Dibelakangnya ada lima hingga sepuluh orang berjajar memberikan tekanan. Mereka siap untuk membantunya dalam pertempuran. Siluet tubuh mereka rata-rata memiliki perawakan sama. Wajah mereka memberangas dengan ancaman dan mengerikan. Mereka terlihat lebih garang dan kejam dari pemimpinnya. Memang pemimpin tidaklah begitu garang tetapi sepertinya dia mempunyai pengaruh dalam kekuatan atau ketangguhan. Mereka tampak tunduk dan patuh mengikuti perintah Bargawa.
Keheningan tak sementara mengudara. Kedua belah pihak tampak tersulut emosi dan amarahnya. Kami telah siap memberikan perlawanan gagah berani menghadang laju mereka. Aku harus tampil sebagai ujung tombak teman-temanku agar mereka tetap bersemangat bertarung melawan anak-anak buah Bargawa.
Bargawa dan pengikutnya mulai bergerak. Bentrok antar pelajar SMA tak terhindarkan. Benturan hebat terjadi diantara keduanya. Kami saling beradu pukul untuk melampiaskan emosi dan kemarahan. Teman-temanku menghadang laju anak buah Bargawa yang membabi buta menyerang. Mereka tampak antusias memberikan perlawanan gagah berani dan brutal.
Ketegangan mengudara begitu menyesakkan udara. Panas matahari menamparkan panas membara. Aspal hitam begitu menyala-nyala. Aku menghadang Bargawa dalam pertempuran. Sementara kelompok kami saling bentrok dalam kekerasan. Walaupun kekurangan jumlah, kelompokku masih sanggup menghadang laju serangan membabi buta dari kelompok Bargawa. Mereka cukup efektif mengantisipasi serangan bertubi-tubi dari kelompok Bargawa. Aku cukup percaya diri menghadapi Bargawa sendirian.
Aku bergeming kokoh menantangnya. Siluetku terasa menampakkan kejantanan seorang petarung jalanan. Aku menghadang seragan Bargawa dengan baku hantam. Kami cukup seimbang dalam membangun serangan. Aku melepaskan pukulan dari sisi kanan. Bargawa tampak agresif menghadang dari sisi kiri dengan tajam dan efektif hingga benturan terjadi cukup keras dan mengancam.
Aku bentrok dengan Bargawa begitu sengit dan menegangkan. Kami saling baku hantam sangat menyesakkan. Aku hampir tersengal-sengal setiap kali melepaskan pukulan. Tetapi Bargawa tampak tenang dan intens menyerang ataupun bertahan. Dia memiliki stamina yang laur biasa gila. Aku tertegun menyaksikan kebugaran begitu membuatku mengelengkan kepala.
Aku meluncur menyerang dengan pukulan keras dan tajam. Namun dia dengan mudah mengelak dan menghindar. Bahkan dia begitu cepat membalas seranganku dengan hantaman yang keras dan telak ke arahku. Tetapi aku bisa membaca pergerakkannya. Aku mengelak, menghindar dan mundur satu langkah sebelum aku kembali menyerang.
Kedua belah pihak sama-sama memiliki taji ketangguhan. Kelompokku dan kelompok Bargawa saling mendesak serta menekan. Kami cukup intens melampiaskan kemarahan tawuran. Walaupun sebenarnya kami merasa takut dan cemas akan terjadi hal yang tak inginkan.