Gelap penuh aroma kebusukan. Tercium bangkai busuk sangat tajam. Aku merasakan sakit amat dalam. Tubuhku tak bisa digerakkan. Terbaring ditempat entah dimana aku tak pernah kenal. Sebuah decorasi yang menampilkan pesona kekejaman dan kegelapan. Ancaman begitu menyesakkan terasa merobek seluruh indraku. Aku terpaku beku menyaksikan kengerian amat mengancam.
Mataku menatap beberapa orang besar dan tinggi dihadapanku. Mereka merah hitam mengerikan. Pakaian yang dikenakan penuh kemewahan dan kekayaan. Seolah-olah derajat mereka diatas dua orang penjaga didepan pintu yang aku saksikan.
Ruangan itu sangat mengerikan. Beberapa tulang belulang berserakan menampilkan sebuah kekejaman perlakuan. Aku merasakan intensitas energi hitam yang mengumpal tajam dan mengerikan.
Aku berbaring membeku menyaksikan kekejaman mereka begitu brutal dan mengerikan. Banyak dari polisi yang berhasil ditumbang Bargawa dijadikan kelinci percobaan. Mereka disuntik dengan zat merah hitam, seketika tubuh mereka mengeliat, reaksi sangat mengerikan. Mereka seperti binatang yang diuji untuk sebuah kekuatan.
Aku tertegun beku menyaksikan beberapa tubuh polisi yang lebur menjadi debu ketika darah merah hitam itu telah disuntikkan di tubuhnya. Seketika ada tubuh mereka menunjukkan efektivitas dari keberhasilan sebuah percobaan. Senyum nyengir tampak menunjukkan rasa bahagia dari wajah mereka.
Siapa mereka? Itu adalah pertanyaan yang ingin aku tanyakan dalam pikiran. Ketika dua orang dari mereka mendekat padaku. Mereka membawa suntikan darah putih sangat kental. Kelihatan mereka ingin menjadikanku kelinci percobaan. Tetapi kenapa darahnya yang dipakai sangat berbeda. Aku tak bisa memberikan alasan pastinya. Karena aku hanya membeku diam dalam pandangan semu.
Ketika mereka mulai menyuntikkan darah itu ke tubuhku. Aku hanya diam membeku. Rasa sakit memang menderaku, tetapi sedikit aku tak bisa memberontak karena tulang dan otot kaku membeku.
Darah putih mulai masuk menjalar di sekujur tubuhku. Mereka memperhatikanku tampak serius. Matanya sampai tak berkedip menyaksikan reaksi apa yang akan terjadi pada diriku. Namun kenyataan memang tak menyebabkanku mengalami hal yang mereka inginkan.
Aku merasa lemas. Aku makin tak memiliki tenaga ketika darah putih mulai menyebar ke seluruh sel-sel tubuhku.
Secara samar-samar aku memperhatikan dan mendengarkan mereka berbicara.
“Sepertinya ini tak berhasil,” katanya.
“Sepertinya begitu,” jawabnya. “Manusia ini sungguh tak berguna untuk menciptakan prajurit tangguh dalam mengawal para Asura. Padahal seperti kata Kapten Bargawa. Manusia ini memiliki ketangguhan dalam kapasitas menyakinkan. Tetapi...”
“Kau benar,” katanya. “Reaksinya seperti tak berjalan seperti prediksinya. Bagaimana menurutmu apa kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya?”
Mereka tampak hening beberapa saat. Tak lama datang seorang tinggi besar, aku sangat kenal wajah dan posturnya, dia Bargawa tampak mengenakan pakaian kebesaran para kapten Asura. Dia mendekati pada kedua professor yang menelitiku. Dia mengangkat bahu.
“Bagaimana?” tanya Bargawa. “Apa anak SMK yang tadi kubawa sesuai dengan ekspektasi kalian?”
Mereka tampak ragu-ragu untuk menjawab. Melihatku yang tak menunjukkan reaksi dalam eksperimennya sangat membuat mereka ragu untuk mengatakan. Mereka saling pandang. Kegugupan seperti menjalar disekujur tubuh mereka. Salah satu dari mengangkat bahu.
“Maaf kapten,” jawabnya ragu. “Anak ini sepertinya tak cocok untuk darah putih milik wanara. Reaksinya tak bisa bekerja sesuai apa yang kita harapkan.”
Mereka saling pandang. Bargawa memperhatikanku. Seperkian detik dia mengeryit dahi. Disusul kemudian dia mengangkat bahu.
“Oh!” kata Bargawa mengangguk. “Kalau begitu kita buang saja dia. Bila tak berguna untuk apa terus dilakukan percobaan padanya? Buang-buang waktu saja.”
“Baik,” jawabnya.
Tubuhku masih membeku. Aku tak tahu mereka mau membawaku kemana. Aku hanya memandang takut dan cemas. Tubuhku tak bisa bergerak. Akhirnya aku diangkat dan dibawa keluar dari dari ruangan dengan kepalaku tertutup kantong hitam. Aku hanya dapat menyaksikan gelap pandanganku. Tanganku diikat kencang dengan tali kuat.
Akhirnya aku diletakkan disuatu tempat yang tak dapat aku pastikan dimana aku berada. Rasanya lemas dan tubuhku terasa mendera. Seolah-olah aku ingin memejamkan mataku. Seketika aku terpejam dalam pembaringan yang tak pernah aku tahu ada dimana berada.
****
“BISMILLAHIR ROHMANIIR ROHIIM. QULHUWALLOHU AHAD. ALLOOHUSHSHOMAD. LAMYALID, WA LAM YUULAD. WA LAM YAKUN LAHUU KUFUWAN AHAD.”
Aku terpaku dalam imajinasi mimpi. Aku memahami apa yang terlintas dalam mimpiku. “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (QS Al Ikhlas (112): 1-4).” batinku.
Aku mendengar suara syahdu dari lantunan ayat suci yang penuh hikmah. Bacaan sangat menyiratkan kalbuku. Suara itu sangat mengiang ditelingaku. Aku bagai tersapu dalam keindahan dan kesejukkan keadaan. Tubuhku bergetar penuh ketakutan dan kepatuhan. Rasanya aku bisa melihat efektivias cahaya kebenaran.
Aku agak terkejut, ketika menyaksikan apa yang ada dihadapanku. Aku berbaring ditempat yang sama sekali terasa berbeda dari sebelumnya. Tempat ini sangat empuk lagi berbau harum. Mataku menatap langit menatap kipas angin di langit-langit yang berputar-putar di atasku, ngengat yang beterbangan mengelilingi cahaya kuning, dan seorang gadis cantik berhijab sangat manis duduk disampingku. Dia melantunkan ayat suci Al Quran sangat menyentuh hatiku. Begitu merdu dan syahdu suaranya bagai burung-burung berkicau riang dipagi hari.
Mataku menatap rona wajahnya saat dia melantunkan surat Al Ikhlas begitu menyentuh kalbu. Wajahnya terpancar pesona bidadari merah merona bulan purnama. Aku tampak membeku menatap, tetapi tanganku kelihatan bisa digerakkan dari sebelumnya.
Aku menatap saksama. Menyaksikan ruangan itu sungguh membuatku agak malu mengakuinya. Dengan lirih aku berbicara.
“Dimana aku?” tanyaku. Mataku memperhatikan sekeliling. Aku kembali fokus menatap gadis cantik dihadapanku. Dia memang cantik mempesona mataku. Mukanya tersapu bagai bulan purnama malam pertama. Senyumannya mengudara tanpa celah.
Gadis itu mengakhiri lantunan ayat sucinya. “Sodakkalloohu ‘adlim.” Dia menuntup kitab suci itu dan melanjutkan unjuk bicara lagi. “Kau ada dirumahku. Bopoku tadi menemukanmu di pinggir jalan.”
Dia menatapku hati-hati. Dia tersenyum ramah membuatku merasa gelisah. Aku terpaku sesaat, menyaksikan rona wajahnya membuatku terpana.
“Dan kau siapa?” tanyaku bimbang dan ragu.
Ketika aku mulai membangkit badan. Mataku tampak ragu menyaksikan apa yang ada dihadapanku. Dia sangat manis, senyuman merekah bagai mawar bunga mempesona mataku. Matanya seperti butiran mutiara yang indah dan elok dipandang mata. Aku terpana sesaat ketika memperhatikan keindahan raut wajahnya.
“Aku Srikandi,” katanya mendongak memandangku. “Panggil saja aku Sri. Bopo menyuruhku untuk merawatmu.”
Tatapannya secerah cahaya matahari menyinari dunia. Dia terlihat cemas dan waspada memandangku. Aku masih bingung menatapnya. Di Ruangan itu hanya aku dan dia, memang itu hal wajar bila aku memang pelaku jahat. Tetapi aku tak pernah melakukan hal sebejat itu, bukan aku tak mau tetapi aku punya iman dan taqwa. Bilamana Allah SWT selalu mengawasiku. Aku tak mau berdosa walaupun hanya sebijih buah zarah. Karena dosa akan menjadi tanggung hingga membuat hati dan pikiran merana.
“Berapa hari aku ada disini?” tanyaku lembut dan hati-hati.
Sekilas aku mendongak menatap wajahnya. Sembari aku berpaling kembali untuk menundukkan kepala. Melihat wajahnya sekali agar membuat lawan bicara mengerti bahasanya.
“Cukup lama,” katanya hati-hati. “Hampir tiga hari kau belum sadarkan diri.”
Keheningan terasa ketika dia mengakhir bicara. Aku tak tahu harus bertanya apalagi. Pikiranku tak bisa mencerna. Aku merasa gugup dan kuran bisa membaur dalam suasana.
Seperkian detik.
Pintu diketuk, dan ucap salam menggema masuk kedalam ruangan itu.
“Assallamu’alaikum,” ucap dari luar pintu.
Salam yang terucap begitu tegas dan mengesankan. Aku sontak bergetar dan mendera kebangkitan ketegangan. Tetapi aku mendadak terkejut melihat senyuman mengembang ketika aku menoleh memandang Sri. Aku tersenyum balik membalasnya. Secara bersamaan kami mengangkat bahu.
“Wa’alaikum sallam,” balasku dan Sri.
Pintu mulai terbuka. Seorang lelaki paruh baya segera masuk ke ruangan itu. Langkahnya pasti dan menegaskan. Beliau mengenakan jubah putih dan bersurban putih menghiasi kepala. Wajahnya tidak termakan cuaca. Senyumnya merekah penuh bijaksana. Siluet tubuhnya tinggi dan besar sangat mengagumkan seperti bangunan gedung tinggi yang menjulang namun tidak menakutkan.
“Bagaimana Sri?” tanyanya. “Apa dia sudah siuman?”