Senapati Indonesa

Hermawan
Chapter #3

Chapter 3

Sesudah sholat zuhur.

Aku dihadapan Ustad Sabda. Beliau duduk bersila memperhatikanku. Tatapannya teduh tersirat kebijaksanaan. Tangan kanannya memegang tasbih yang digelangkan ditangan. Wajahnya tampak emosi seperti orang tua menanggapi keluh kesah anaknya. Beliau mengangkat bahu.

“Sutasoma,” kata Ustad Sabda. “Kau sepertinya sudah sembuh. Apa rencanamu sekarang?”

Aku tertegun dan berfikir bingung. Seolah-olah apa yang kulakukan belum sempat aku pikirkan. Aku harus berbuat apa? mengenai rencana atau hal lainnya belum terpikirkan olehku. Tetapi seketika Ustad Sabda mulai unjuk bicara lagi. 

“Bila kau belum punya rencana,” kata Ustad Sabda. “Kau boleh tinggal disini.”

Suara itu bagai terjangan badai kesiapan. Aku mengangguk. Mataku menatap teguh dan lembut.  

“Ini adalah pedepokan Mayapada,” kata Ustad Sabda. “Disini kau bisa mendapat pelajaran aqidah dan akhlak untuk membuat menjadikanmu pribadi yang berakhlak mulia. Tetapi sebelum itu aku ingin mendengar ceritamu tentang apa yang terjadi padamu.”

Aku menelan ludah. “Terima kasih. Aku akan senang disini ustad. Memang aku ingin beberapa hari ini disini sebelum aku kembali kerumahku. Ada yang ingin aku pelajari lebih dalam agar aku dapat menjadi orang beriman dan bertaqwa.”

Perkataanku meluncur begitu saja. Aku tak menyangka akan begitu fasih berbicara dihadapan orang baru dikenalnya.

“Bagus,” kata Ustad Sabda tegas. “Memang itu yang aku harapkan darimu. Tetapi sebelum itu aku ingin mendengar ceritamu.”

Matanya sangat teduh penuh nilai kebijaksanaan menatapku. Beliau tampak syahdu mengintimidasiku. Aku bisa merasakan energi kehangatan di siluet tubuhnya.

Aku menghela nafas. “Sebenarnya aku dibawa ke tempat para Asura sebelum ustad membawaku kesini,” kataku mendengus. “Waktu itu aku bertarung dengan salah kapten Asura bernama Bargawa. Tetapi aku berhasil ditumbangkan hingga aku dijadikan objek penelitian. Tetapi mereka merasa aku barang gagal, kemudian mereka membuangku.”

“Asura,” kata Ustad Sabda mengeryitkan dahi. Beliau terlihat berfikir sejenak. Matanya amat serius memutar imajinasinya. Beliau sadar dalam pemburuan intuisinya. “Jadi mereka sudah bangkit,” gumannya lirih.

Aku sempat mendengarkan gumanannya, tetapi aku tak berani mencela. Aku melihatnya diam. Beliau kembali menatapku tajam dan saksama. Ekspresinya tegang dan waspada.

“Lalu apa yang terjadi?” tanyanya matanya mengeryit. “Maksudmu apa yang terjadi pada tubuhmu?”

Beliau terlihat penasaran padaku. Seolah-olah beliau ingin mengetahui keadaan detail yang terjadi padaku. Beliau seperti memiliki pengetahuan luas untuk mencerna sebuah nilai-nilai keluhuran. Profesional terpancar gurat wajahnya yang tajam dan membanggakan.

“Mengenai itu aku tak tahu,” kataku ragu. “Selama aku disini, tubuhku masih menunjukkan biasa-biasa saja. Bahkan aku merasa seperti tak terjadi apapun pada tubuhku.”

Beliau menganggukkan kepala. Ekpresi wajahnya jelas menunjukkan waspada dan kasih sayang.  

“Jadi seperti itu kejadiannya,” kata Ustad Sabda. “Memang kenapa kau bisa bertarung dengan kapten Asura itu? Apa terjadi sesuatu denganmu sehingga kau bisa berurusan dengan para Asura?”

Aku tertegun. Pertanyaan memang bukan sembarang untuk segera dijawabnya. Aku tampak ragu-ragu dan cemas untuk menjawabnya. Namun kupikir itu akan menjadi barang yang lagi bukan rahasia. Lebih baik aku segera cerita apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengangkat bahu.

“Sebenarnya aku melakukan tawuran dengan SMA terbaik dari Jakarta,” kataku harap-harap cemas. “Pemimpinnya adalah Bargawa, aku tak menyangka bila dia adalah kapten Asura. Tubuhnya biasa. Tetapi lama-kelamaan dia menunjukkan tajinya. Kemunculan taring di sela bibirnya memberangas asaku. Dia menumbangku dalam pertarungan tak seimbang.”

Beliau mengeleng-gelengkan kepala. Aku memperhatikan dahinya sedikit mengeryit. Emosinya tampak dalam pandanganku. Tetapi beliua tampak dingin dan datar kembali menatapku. Seperkian detik beliau mengangkat bahu.

“Jadi,” katanya. “Apa kau siap untuk melakukan tobat agar kau mendapat kekuatan iman dan taqwa yang sebenar-benarnya?”

Tatapannya tegas dan mengudara sempurna. Beliau sangat dominan memberikan energi positif yang begitu memukau mata batinku. Aku tertegun begitu kata-katanya membangkit seluruh hati dan jiwaku. Aku merasakan energi keraguan dan kebimbang lenyap dalam diriku. Aku kembali mengangkat bahu.

“Itu hal yang aku harapkan ustad,” renggutku. “Aku ingin mengenal islam lebih dalam, agar aku tidak terjerumus dalam jalan kesesatan. Mungkin aku manusia bodoh sebelumnya, tetapi aku ingin berubah dan bertaubat untuk menegakkan jalan kebenaran.”

Aku begitu solid dan tegas mengucapnya. Jawabanku begitu mempertajam integritasku untuk menegakkan kebenaran.

“Bagus,” kata Ustad Sabda tersenyum. “Kau akan mondok selama yang kau ingin disini. Kami akan menerima dengan senang hati”

“Terima kasih ustad,” kataku datar.

Ustad Sabda tersenyum kepadaku penuh simpati, sebagaimana yang dilakukannya ketika aku pertama kali melihatnya. Beliau seperti pesona orang tua yang memberikan budi pekerti baik untuk anaknya. Aku merasakan cinta kasih yang sangat mulia dari siluet tubuhnya.  

“Suta,” katanya. “Apakah kau tahu mengenai Asura?”

Suara tegas menampar dalam keadaan tegang dan mencekam. Ketegangan mengudara disekitarku. Aku menelan ludah. Aku mendongak berpaling menatapnya tajam. Cemas dan takut membahana disetiap pikiranku.

“Tidak,” kataku ragu. Rasa ingin tahu mulai bangkit dalam dirku. “Apa ustad mengetahuinya?”

“Agaknya terlalu banyak yang perlu diceritakan,” kata Ustad Sabda. “Sepertinya film orientasi kita yang biasa tak akan memadai.”

“Film orientasi?” tanyaku.

“Tidak,” Ustad Sabda memutuskan. “Begini, Suta. Asura sesungguh makhluk iblis yang lahir sebelum Negara kita merdeka. Aku mendapatkan kisah ini dari bopoku sewaktu masih hidup. Asura memiliki kekuasan untuk membuat Negara kita menjadi Negara yang tak beriman atau komunis. Tetapi berkat kegigihan sang Jendral Sudirman Negara kita kokoh karena iman dan ketaqwaan. Tetapi ketika Pak Dirman meninggal. Jendral yang melawan menjadi lemah mental iman dan taqwa, hingga pada tanggal 30 September 1960 komunis berhasil membantai para jendral beriman. Akan tetapi berkat kegigihan orang-orang beriman maka komunis telah sirna di negeri tercinta ini. Tetapi adakala mereka membangkitkan kembali kekuatannya. Mungkin Asura salah satunya.”

Aku menatap beliau, seolah-olah wajahnya memang memancarkan sebuah kebenaran dalam konteks yang tak bisa aku nalar. Aku menelan ludah.

“Lalu apakah ada hubungan denganku?” tanyaku.

Mataku tampak hati-hati mengamatinya. Aku merasa pengetahuanku masih terlalu dangkal untuk memahaminya.

“Suta,” katanya. “Mengenai itu aku pasti belum tahu. Tetapi aku yakin kau bisa menjadi penyelamat negeri ini dari tangan para Asura. Kau memiliki kekuatan hebat yang belum pernah kau tunjukkan pada siapapun.”

“Maksud ustad,” kataku sembari menelan ludah cukup banyak. “Aku bisa menjadi superhero.”

“Satria bukan superhero,” katanya. “Satria yang memiliki iman dan taqwa sebenar-benarnya. Satria mempunyai tanggung jawab terhadap negara dan agama. Tetapi superhero hanya sebuah kiasan untuk membanggakan dirinya.”

Aku mengangguk. Mataku menatap beliau sangat menyakinkan semangat hati dan jiwaku.

Beliau tampak bijaksana memberikan petuah tentang makna hidup yang cukup mempesona. Aku semakin nyakin untuk menimba ilmu padanya. 

“Sebaiknya kau segera istirahat,” katanya sengit. “Jangan lupa untuk mengikuti sholat jama’ah di masjid ini.”

Lihat selengkapnya