Senapati Indonesa

Hermawan
Chapter #4

INTERMISSION

Adzan magrib mulai menjelma. Aku kembali melantunkan adzan dengan merdunya. Kali ini aku sudah lebih berani melakukannya. Tampil begitu percaya diri mengumandang adzan untuk menggajak orang sholat. Selang beberapa menit iqomat menggema. Sholat magrib berjama’ah segera didirikan.

Sesudah sholat magrib.

Aku duduk bersila memperhatikan depan. Mataku tampak serius memandang Ustad Sabda. Ustad Sabda memberikan siraman rohani. Salah satu pembahasan tentang tauhid. Beliau mulai berdiri. Saatnya beliau unjuk bicara.

“Assalamu’alaikum warohmatulloohi wa barokatuh,” ucapnya.     

“Wa’alaikum sallam warohmatullohi wa barokatuh,” jawab semuanya jama’ah hadir dalam majlis.

Beliau menghela nafas. Tatapannya teduh dan bijaksana mengudara.

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAL LOOHU. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULUL LOOHI. ALLOOHUMMAA SHOLLI’ALAA MUHAMMADIN. ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAIHI WASALLLIM. ALLOOHUMMASHOLLI ‘ALAA HABIIBIKA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHII WA SHIHBIHII WA SALLIM AJMA’IINA.” kata Ustad Sabda. “Ucap salam kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW dan para sabahat beliau. Karena berkat beliaulah islam bisa menjadi pegangan hidup kita semua sebagai umatnya.”

Sangat tegas dan menghayati. Terasa bergetar hatiku ketika Ustad Sabda mulai dengan salam untuk Nabi Muhammad SAW. Emosinya tercurah untuk membangkit nilai-nilai kebenaran Islam.

“Dalam kitab Allah SWT surat Al Baqarah ayat 177, Allah berfirman, yang artinya,” kata Ustad Sabda melanjutkan. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu kebajikan. Akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah SWT, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi ….”(QS Al-Baqarah: 177).

Hatiku bergetar. Perasaanku tercurah untuk fokus memperhatikan, mencerna dan meresepi setiap perkataannya. Aku berfikir mengenai iman dan taqwa harus dibangun semenjak kecil untuk mengkukuhkan kebesaran Allah. Alloohu Akbaru.

Beliau menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. Seperkian detik Ustad Sabda kembali unjuk bicara.

“Adapun iman kepada Allah mengandung 4 (empat) hal,” kata Ustad Sabda. “Pertama, beriman kepada adanya Allah SWT. Wujudnya Allah SWT benar-benar dapat ditunjukan oleh fitrah, syara, akal, dan rasa.”

Hatiku bergetar. Dimana hatiku harus menyakini bahwa wujudnya Allah SWT benar-benar dapat ditunjukan oleh fitrah, syara, akal, dan rasa. Alloohu Akbaru. Subhanallooh. Alhamdulillah.

Dalil fitrah atas wujud Allah SWT ialah bahwa segala makhluk telah diciptakan atas dasar iman kepada penciptanya tanpa dipikirkan dan diajarkan terlebih dahulu. Dan hanya orang yang hatinya kedatangan hal-hal yang dapat merubah fitrah itulah orang yang berpaling dari tuntutan fitrah ini.

Aku merasakan kekuatan hebat mengguncang hatiku. Keimanan yang kuat membangkitkan semangat untuk menegakkan kebenaran agama Allah. Aku yakin kepada Allah. Aku yakin bahwa imanku kepada Allah telah ada sejak aku lahir. 

Karena Nabi Muhammad SAW mengatakan: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang meyahudikan dan menasranikan atau memajusikanya (HR Bukhari).

Aku meresapi setiap tutur katanya. Ustad Sabda sangat teduh bertutur kata. Akalku mulai menyakini kebenaran Allah SWT. Dalil akal atas wujudnya Allah SWT ialah karena makhluk ini, baik yang terdahulu maupun yang akan menyusul harus ada pencipta yang mengadakannya. Itu karena tidak mungkin makhluk tersebut mengadakan dirinya sendiri dan tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

Secara sepihak akalku mengatakan bahwa Allah, semesta alam yang menciptakanku. Tidak mungkin makhluk seperti aku itu mengadakan dirinya sendiri, karena segala sesuatu tidak mungkin menciptakan dirinya, karena sebelum adanya makhluk itu tidak ada. Maka bagaimana segala sesuatu itu akan menjadi pencipta?

Bukankah aku hanya makhluk yang hina. Dimana keberadaanku hanya orang disekitarku yang tahu. Selain dari kota lain mana mungkin tahu keberadaanku. Hanya Allah SWT karena Dia Tuhan Semesta Alam.  

Dan tidak mungkin semua makhluk terjadi secara kebetulan, karena setiap kejadian harus ada yang menjadikannya dan karena makhluk itu atas dasar sistem yang indah, keserasian yang menyatu, dan keterkaitan yang melekat antara sebab-akibat, dan antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lainya menolak mentah-mentah bahwa makhluk itu terjadi secara kebetulan, tidak atas dasar sistem pada asal wujudnya. Maka bagaimana segala sesuatu itu menjadi sistematis dalam hal keadaan dan perkembangannya?

Dan apabila tidak mungkin makhluk-makhluk ini mengadakan dirinya sendiri dan terjadi secara kebetulan, maka dapat dipastikan makhluk itu ada yang mengadakannya, yaitu Allah, Tuhan semesta alam.

Iman kepada Allah adalah bukti kekuatan iman telah berada pada jalan yang benar. Keimanan kepada Allah melalui akal juga tersirat dalam surat At-Tur, di mana Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS At-Tur: 35),

Yakni mereka tidak diciptakan tanpa Sang Pencipta dan tidak pula mereka menciptakan diri mereka sendiri. Maka dapat dipastikan bahwa Pencipta mereka adalah Allah SWT. Oleh karena itu tatkala Jubair bin Mut’im mendengar Rasululah SAW membaca surat At-Tur sampai pada ayat yang artinya:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi, bahkan mereka tidak meyakini. Ataukah di sisi mereka ada pembendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?” (At-Tur: 35-37);

Ketika itu Jubair masih musyrik, ia mengatakan: Hampir hatiku terbang. Dan itu merupakan awal keimanan yang tertancap dalam hatiku (HR Bukhari).

Aku membuat sebuah perumpamaan untuk memperjelas hal itu. Seandainya Anda diajak berbincang-bincang oleh seseorang tentang istana yang megah yang di kelilingi tamantaman; di sekitarnya mengalir sungai-sungai; dipenuhi dengan permadani dan ranjang; dihiasi dengan berbagai macam perhiasan berupa sendi-sendinya dan perlengkapannya. Dan dia mengatakan kepadamu: Sesungguhnya istana ini dan segala perlengkapannya telah mengadakan sendiri atau yang demikian itu ada secara kebetulan tanpa pencipta, tentu kamu akan segera mengingkari hal itu dan mendustakannya dan kamu akan menganggap pembicaraannya sebagai perkataan yang bodoh. Setelah itu, apakah boleh alam yang luas ini yang mencakup bumi, langit, cakrawala, hal ihwalnya, dan keindahan serta keelokan sistemnya telah mengadakan sendiri atau secara kebetulan tanpa Sang Pencipta?

Dalil syara tentang adanya Allah SWT ialah karena kitab-kitab yang turun dari langit semuanya berbicara tentang itu. Dan akidah yang benar menyucikan hati dan hukum-hukum yang adil bahwa semua itu dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui segala kepentingan makhluknya. Dan berita-berita tentang alam yang dibawanya, yang menjadi saksi nyata akan kebenarannya merupakan bukti bahwa itu semuanya dari Tuhan Yang Berkuasa menjadikan apa yang diberitakan-Nya.

Dalil indra (rasa) akan adanya Allah SWT, maka ada dua cara. Pertama, aku mendengar dan mengamati bukti yang pasti akan adanya Allah karena Dia telah mengbulkan orang-orang yang berdo’a dan menolong orang-orang yang kesusahan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anbiya: 76 yang artinya:

“Dan (ingatlah kisah Nuh) Nuh, sebelum itu ketika dia berdo’a lalu Kami memperkenankan do’a-nya.”

Dan Allah SWT berfirman:

“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia memperkenankan do’amu.” (QS Al-Anfal: 9).

Dalam hadist sahih Bukhari dari Anas bin Malik RA, ia berkata:

Sesungguhnya seorang badui (A’rabi) masuk (masjid) pada hari Jum’at ketika Nabi SAW berkhotbah. Lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, segala harta telah binasa dan keluarga kelaparan, maka do’akan kami. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a. Lalu awan menyelimuti gunung; beliau tidak turun sedang hujan tiu membasahi janggutnya. Pada hari Jum’at kedua orang Arab Badui atau yang lainya datang lagi lalu mengatakan: Wahai Rasulullah, bangunan telah hancur dan harta tenggelam, maka do’akan kami. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a: Ya Allah, turunkanlah rejeki yang membawa berkah kepada kami. Beliau tidak mengisyaratkan sesuatu kecuali terbukalah daerah itu.

Diperkenankanya orang-orang yang berdo’a masih merupakan suatu hal nyata sampai hari ini bagi orang yang membenarkan bersandar kepada Allah SWT dan membawa persyaratan ijabahnya.

Lihat selengkapnya