Hari itu, Anton tiba-tiba dipanggil ke ruang BK. Jantungnya sempat deg-degan, tapi wajahnya tetap kalem. Santai, bro. Ini cuma ruang BK, bukan ruang interogasi KPK, gumamnya dalam hati.
Begitu pintu dibuka, aroma khas ruang BK langsung menyambut: bau kapur tulis bercampur dengan wangi dokumen-dokumen di lemari. Di balik meja, Bu Lia duduk dengan tatapan tajam, seolah punya radar khusus buat mendeteksi murid nakal.
“Anton,” kata Bu Lia datar, “kamu tahu kenapa dipanggil ke sini?”
Anton tersenyum, memasang gaya sok berani. “Mungkin karena saya terlalu rajin, Bu? Jadi bikin murid lain minder?”
Bu Lia menghela napas panjang. “Jangan bercanda. Kamu ketahuan bolos jam olahraga kemarin.”
“Oh, soal itu,” gumam Anton, pura-pura mengingat padahal ia sedang menyusun strategi kabur. “Wah, kayaknya Ibu salah paham. Saya sebenarnya lagi ngelakuin riset lapangan, Bu. Kan, olahraga itu tentang kesehatan. Jadi saya meneliti kesehatan makanan kantin. Saya cek apakah bakso di sana mengandung protein cukup. Itu, kan, demi sekolah juga.”