Senja di Balik Batas

Sutan Azis
Chapter #1

Pertemuan di Antara Koleksi

Udara Jakarta di sore bulan Agustus itu terasa seperti pelukan lembap yang enggan melepaskan. Langit belum menurunkan hujan, namun awan kelabu telah bergelayut malas, menaungi gedung-gedung tinggi yang menjulang angkuh. Arjun Mahendra merasakan sedikit sesak. Kamera mirrorless kesayangannya terasa lebih berat dari biasanya di tangan, dan tujuannya sore itu adalah pameran seni kontemporer di sebuah galeri mungil di Kemang. Bukan seleranya, sejujurnya. Ia lebih suka mengabadikan momen di jalanan, wajah-wajah polos para pekerja, atau kedamaian lanskap pedesaan. Namun, kontrak adalah kontrak, dan kali ini ia harus memenuhi permintaan sebuah majalah gaya hidup urban.

Arjun, seorang fotografer lepas berusia tiga puluh tahun dengan kulit sawo matang khas Bali dan rambut hitam sedikit gondrong yang selalu ia ikat asal, mulai menyusuri ruangan galeri. Aroma kayu cendana dan cat minyak menyambutnya begitu ia melangkah masuk. Beberapa instalasi seni aneh dan abstrak tersebar di sana-sini, memicu kerutan di dahinya. Ia menghela napas, mengangkat kamera, dan mulai bekerja. Klik. Klik. Ia memotret sudut-sudut yang menurutnya menarik, meskipun esensi di baliknya tak sepenuhnya ia pahami. Matanya terus bergerak, mencari sesuatu yang bisa "menjual" untuk artikel majalah.

Lalu, matanya menangkap sosok seorang wanita.

Ia berdiri di depan sebuah instalasi yang terbuat dari jalinan benang-benang berwarna-warni, menyerupai jaring laba-laba raksasa. Blus linen berwarna gading dan rok batik modern membalut tubuhnya dengan anggun. Rambut hitam legamnya tertata rapi, memperlihatkan leher jenjangnya. Wajahnya oval, dengan sepasang mata cokelat yang memancarkan ketenangan. Bibirnya tipis, dan ketika ia tersenyum pada seseorang yang baru saja menyapanya, jantung Arjun terasa seperti tersentak. "Senyum itu," pikir Arjun, "bisa menerangi seluruh galeri yang remang-remang ini."

Arjun mengangkat kamera lagi, kali ini bukan untuk majalah, melainkan untuk dirinya sendiri. Klik. Senyum itu terabadikan dalam bingkai. Ada sesuatu yang begitu murni, begitu damai dari ekspresi wanita itu. Ia tampak seperti bagian dari instalasi seni itu sendiri, sebuah mahakarya yang hidup.

"Permisi, apakah kamu menikmati pamerannya?" sebuah suara lembut, namun tegas, membuyarkan konsentrasi Arjun. Ia menurunkan kamera dan berbalik. Wanita itu berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan senyum tipis, bukan senyum yang baru saja diabadikannya, melainkan senyum profesional.

"Eh, ya. Cukup menarik," jawab Arjun, sedikit kikuk. Ia jarang merasa canggung berhadapan dengan wanita, namun wanita di hadapannya ini berbeda. Aura yang ia pancarkan begitu kuat.

"Aku Aisha. Kurator di sini. Ada yang bisa aku bantu?" wanita itu mengulurkan tangan.

"Arjun. Aku fotografer lepas. Ditugaskan majalah untuk meliput acara ini," jawab Arjun sambil menyambut uluran tangan Aisha. Sentuhan kulitnya terasa hangat dan halus. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Oh, begitu. Maaf, aku kira kamu hanya pengunjung biasa yang tertarik dengan seni," Aisha tersenyum lagi. "Kalau ada yang ingin kamu tanyakan tentang karya-karya di sini, jangan ragu bertanya."

"Terima kasih. Sepertinya aku akan sangat membutuhkan bantuanmu," ujar Arjun, berusaha terdengar santai, padahal otaknya sudah mencari-cari alasan bodoh agar bisa berinteraksi lebih lama dengan Aisha. "Sejujurnya, aku ini lebih suka memotret manusia atau alam. Seni abstrak seperti ini ... aku agak buta."

Aisha tertawa kecil. "Itu jujur sekali. Tidak apa-apa. Banyak orang yang merasakan hal yang sama. Mungkin aku bisa sedikit menjelaskan."

Dan begitulah, percakapan mereka dimulai. Aisha menjelaskan setiap instalasi dengan penuh gairah. Ia memiliki cara bicara yang tenang, namun penuh pengetahuan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah membentuk melodi yang merdu di telinga Arjun. Ia mendengarkan, sesekali mengangguk, namun sebagian besar perhatiannya tercurah pada ekspresi wajah Aisha, pada caranya menunjuk ke arah lukisan, pada gurat senyum tipis yang tak pernah benar-benar hilang dari bibirnya. Arjun memotretnya lagi, kali ini dengan izin, saat Aisha asyik menjelaskan makna di balik sebuah patung perunggu.

"Kamu terlihat sangat menikmati pekerjaanmu," komentar Arjun saat mereka berhenti di sudut galeri.

Aisha mengangguk. "Aku mencintai seni. Bagi aku, seni itu jembatan. Jembatan untuk memahami pikiran orang lain, perasaan mereka, bahkan sejarah. Dan jembatan untuk memahami diri sendiri." Ia terdiam sebentar, menatap salah satu lukisan. "Dan aku yakin, kamu juga mencintai fotografi, bukan?"

Arjun tersenyum. "Lebih dari sekadar mencintai. Ini hidupku."

"Aku bisa melihatnya dari cara kamu memegang kamera," Aisha menatap matanya. Mata cokelat itu begitu dalam, seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya. Arjun merasakan sensasi aneh di perutnya, seperti kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompong.

Obrolan mereka berlanjut hingga pameran hampir usai. Mereka berbicara tentang seni, tentang Jakarta, tentang mimpi-mimpi kecil. Arjun menemukan bahwa Aisha adalah seorang wanita yang cerdas, berwawasan luas, dan memiliki selera humor yang halus. Ia juga memiliki sopan santun yang tak dibuat-buat, memancarkan aura keanggunan yang alami.

"Aku harus segera pulang," kata Aisha, melihat jam tangannya. "Ada janji makan malam dengan keluarga."

"Oh, tentu," Arjun merasakan kekecewaan kecil. "Terima kasih banyak atas penjelasanmu, Aisha. Aku jadi lebih ... tercerahkan."

Aisha tersenyum. "Sama-sama, Arjun. Senang bertemu denganmu." Ia berbalik hendak pergi, namun Arjun tiba-tiba meraih tangannya.

"Aisha, tunggu!" Arjun merutuki keberaniannya yang tiba-tiba muncul. "Bisakah ... bisakah kita bertemu lagi? Aku ingin sekali berbincang lebih banyak denganmu. Tidak melulu soal seni, jika kamu tidak keberatan."

Aisha menatap tangan Arjun yang masih menggenggam tangannya, lalu menatap matanya. Ada sedikit keraguan di sana, namun kemudian senyum tipis kembali merekah. "Baiklah, Arjun. Kamu bisa mendapatkan nomor telepon aku dari pihak majalah, bukan? Aku yakin mereka memiliki kontak aku."

"Aku akan melakukannya," jawab Arjun sambil melepaskan genggaman tangannya. Hatinya berbunga-bunga.

Lihat selengkapnya