Senja di Balik Batas

Sutan Azis
Chapter #2

Jeda dan Gejolak Batin

Jeda. Kata itu terasa begitu hampa, namun membebani dadaku. Hari-hari yang biasanya dipenuhi tawa dan percakapan ringan denganmu kini terasa sepi. Ponselku yang tadinya ramai dengan notifikasi darimu, kini senyap. Aku mencoba fokus pada pekerjaanku, memotret lebih banyak, mencari inspirasi di setiap sudut kota, namun bayanganmu selalu hadir. Setiap senyum yang kulihat di jalan, setiap melodi yang kudengar, entah bagaimana selalu mengingatkanku padamu.

Aku tahu, jeda ini perlu. Kamu benar. Kami tidak bisa melangkah maju tanpa menghadapi kenyataan pahit ini. Tapi kenyataan itu terasa begitu berat. Aku tahu betul apa yang akan dikatakan keluargaku. Nenekku, yang selalu memegang teguh tradisi, pasti akan menghela napas panjang dan menasehatiku tentang "darah murni" dan "kesucian kasta." Ayahku mungkin akan lebih diplomatis, namun tetap akan menekankan pentingnya menikah dengan wanita yang seiman, terutama karena posisi Ayah sebagai pemangku adat. Ibuku, yang biasanya lebih fleksibel, mungkin akan lebih memahami perasaanku, namun pada akhirnya akan tetap patuh pada kehendak keluarga besar.

Di sisi lain, aku juga memikirkanmu. Bagaimana kamu akan menghadapi keluargamu? Apakah mereka akan sekeras keluargaku sendiri? Aku ingat bagaimana kamu menyebutkan bahwa keluarga besarmu sangat menjunjung tinggi agama. Konsep pernikahan beda agama pasti akan menjadi pukulan telak bagi mereka. Pikiran itu membuatku merasa putus asa. Apakah cinta kita akan mampu bertahan menghadapi badai prasangka dan tradisi yang sudah mengakar kuat selama berabad-abad?

Di lain tempat, Aisha Hanindita juga merasakan kekosongan yang sama. Keputusannya untuk meminta jeda bukanlah hal yang mudah. Setiap pagi, ia tergoda untuk mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Arjun. Ia merindukan obrolan mereka yang tak pernah habis, tawa Arjun yang renyah, dan caranya menatap Aisha seolah ia adalah satu-satunya wanita di dunia.

Aisha menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku-buku tebal tentang sejarah seni dan Islam, mencoba mencari jawaban atas dilema yang dihadapinya. Ia mencoba mencari pembenaran, mencari celah, untuk hubungan mereka. Namun, setiap kali ia membaca ayat-ayat suci atau hadis tentang pernikahan, semua kembali pada satu poin: kesatuan iman.

Keluarga Aisha, seperti yang ia katakan pada Arjun, memang sangat religius. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang disegani di Bandung, namun juga seorang yang taat beribadah. Ibunya, seorang guru mengaji paruh waktu, adalah sosok yang lembut namun berprinsip kuat. Dan Kakek-neneknya, yang tinggal tak jauh dari rumah mereka, adalah panutan dalam menjaga tradisi Sunda dan ajaran Islam.

Aisha teringat percakapannya dengan Sang Nenek beberapa waktu lalu, saat Nenek tiba-tiba menanyakan perihal jodoh. "Kamu sudah waktunya kamu memikirkan masa depan. Cari yang seiman, Nak. Yang bisa membimbingmu ke jalan Allah. Itu yang paling penting." Kata-kata itu, yang dulu hanya ia dengar sepintas, kini terasa menghujam hatinya.

Suatu malam, saat makan malam keluarga, topik pernikahan kembali muncul. Kali ini, sepupunya yang sudah menikah dan memiliki anak, menjadi contoh sempurna. "Lihatlah si Tria. Menikah dengan lelaki baik-baik, seiman, hidupnya tenang," komentar bibinya. Aisha hanya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahan di hatinya.

"Aisha, kamu sudah punya calon, Nak?" tanya Ayahnya suatu hari, saat mereka berdua duduk di teras rumah.

Aisha terdiam sejenak. Ia ingin sekali menceritakan tentang Arjun, tentang perasaannya. Tapi ia tahu, Ayahnya akan bertanya tentang latar belakang Arjun, agamanya, dan suku asalnya. Dan jawaban itu akan membawa kekecewaan besar bagi Ayahnya.

"Belum, Yah," jawab Aisha, setengah berbohong. “Aku masih fokus pekerjaan.”

Ayahnya tersenyum. “Kerja itu penting, Nak. Tapi mencari pendamping hidup juga penting. Ayah dan Ibu ingin melihatmu bahagia, memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”

Aisha hanya mengangguk, hatinya terasa sesak. Kata-kata Ayahnya, yang penuh kasih sayang, justru membuatnya merasa semakin tertekan.

Dua minggu berlalu, dan jeda itu terasa seperti dua tahun bagiku. Aku tidak bisa menahannya lagi. Rasa rindu yang begitu kuat mendorongku untuk menghubungimu.

"Aisha, ini Arjun," aku mengetik pesan itu, jemariku bergetar. “Maaf mengganggu jedamu. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Bagaimana kabarmu?”

Beberapa menit berlalu. Aku menahan napas. Lalu, notifikasi muncul.

Lihat selengkapnya